Jumat, 23 November 2012

Lupus Kecil-Membantu Lulu makan

Membantu Lulu makan


setiap pulang sekolah, Lupus masih sering dijemput. Sebetulnya letak sekolah Lupus tak begitu jauh dari rumah Lupus. Hanya beberapa kali napas, sudah sampai. Tapi kalau tak dijemput, Lupus bisa petang hari baru sampai rumah. Alasannya belajar bersama atau bersama-sama nonton video

seperti pada satu hari, ibu Lupus sedang kelewat repot hingga tak sempat menjempt. Ditunggu-tunggu anak bandel itu belum juga keliatan batang hidungnya. Ibu Lupus jelas bingung. Sibuk nyari-nyari di tong sampah, di kandang ayam tetangga, diatas pohon jambu, tak juga ketemu. Pergi kemana lagi anak ini? Pikir ibu Lupus bingung. Baru ketika ibu Lupus hendak mencari dan bertanya pada teman sekolah Lupus yang dekat tukang gado-gado, tiba-tiba Lupus kelihatan sambil berjalan terseok-seok. Baju sergamnya sudah tak lagi putih warnanya. Ada bercak-bercak cokelat, kayak lumpur. Sepatunya juga. Uh, ibu Lupus hampir lupa apa warna asli tu sepatu. Sebab kini sampai kaus kaki, berwarna coklat semua. Wah, pasti Lupus habis main di comberan.

Memang betul. Meski tidak di comberan, Lupus habis berkotor-kotoran. Dia habis main bola di lapangan dekat kali yang tiap habis hujan selalu berkubang. Sebetulnya memang sudah tak pantas bila disebut lapangan. Tapi kalau mau disebut kolam renang, tak ada yang jaga karcis disana. Meski begitu, Lupus dan teman-temannya sangat senang bermain bola di lapangan itu. Malah bila suatu ketika lapangan itu kering saat musim kemarau, Lupus tak mau main. Alasannya nggak seru. Nggak bisa ber-ski air.

“Lupus, dari mana saja kamu! Lihat, tubuhmu penuh lumpur!” begitu Ibu Lupus selalu mengahrdik jika Lupus berbuat salah.

“Sa.. saya abis belajar bersama, Bu,” ujar Lupus sambil menundukkan kepala. Tas sekolahnya yang juga dekil. Didekap erat-erat, seolah takut ketahuan.

“belajar apa sampai kotor-kotoran begitu!”

“belajar main bola, Bu.”

“Main bola? Ya, tapi kan main bola tak perlu di lumpur. Lagi pula kamu belum ganti baju, belum makan siang, belum tidur siang.”

“saya main bolanya nggak di lumpur kok, Bu.”

“lha, itu. Kenapa bajumu penuh lumpur?”

“bukan salah saya, Bu, salah lumpurnya. Kenapa dia berada di lapangan bola. Seharusnya dia berada di sawah...”

“sudah. Ayo pulang!” hardik ibunya sambil menggamit lengan Lupus.

Itulah, makanya ibu Lupus lebih suka meluangkan waktu untuk menjemput Lupus. Daripada mengkhawatirkan anak itu selalu. Dan seperti anak-anak lainnya juga, sampai di rumah Lupus dan Lulu setiap pulang sekolah pasti disuruh menukar pakaian seragam. Tapi, sekali lagi. Lupus selalu tak mau, dia bilang dia mau mengulang pelajaran dulu. Kalo belajar, mesti memakai baju sergam. Tidak enak belajar pakai baju rumah. Tak sopan, ujar Lupus. Biar malam hari pun bila ingin mengerjakan pekerjaan rumah, Lupus senantiasa memakai sergam sekolahnya.

Menghadapi anak semacam Lupus memang mesti sabar. Begitu juga dengan ibu Lupus. Kadang dibiarkan keinginan Lupus yang aneh-aneh sejauh hal itu terasa tak merugikan perkembangannya. Toh biar suka aneh-aneh, Lupus juga punya kebiasaan baik juga. Misalnya saja dalam hal makan. Dia paling gampang disuruh makan. Dia paling gampang disuruh makan, tidak seperti anak lainnya. Walau badan Lupus kecil, namun nafsu makannya lumayan gede. Jadinya nggak penyakitan. Riang selalu.

Pulang sekolah, Lupus selalu makan (kalau kebetulan tidak main bola). Agak siang sedikit, makan. Sore hari, makan juga. Malamnya sebelum bikin pe-er, makan lagi. Kalau ngantuk kepengen tidur, sebelumnya mesti makan. Kalo yang ini nggak mesti nasi, lontong pun Lupus mau. Akibatnya, bapak Lupus yang suka keasyikan baca koran, tak kebagian makan malam lagi.

Tapi si Lulu justru agak sedikit susah bila disuruh makan. Seperti siang itu, sepulang sekolah. Lupus sudah selesai makan, tapi Lulu kelihatan seperti malas untuk menyentuh nasi perkedelnya. Malahan asyik bermain dengan boneka pandanya. Kalo ada ibu, Lulu lebih suka disuapi. Tapi kini Ibu sedang kedatangan tamu. Penting agaknya. Terpaksalah Lulu disuruh makan sendiri.

Lupus yang sedang santai baca buku cerita, jadi memandang adiknya dengan heran. Makan kok nggak mau, apa susahnya sih? Pikir Lupus. Apa perlu dibantu? Yah, kata ibu Guru, orang hidup mesti tolong menolong. Dengan begitu, lebih mudah untuk menyelesaikan satu pekerjaan. Makan kan juga termasuk pekerjaan juga. Maka harus dibantu. Otak Lupus berpikir cepat. Lalu dia pun mulai membantu Lulu. Mula-mula Lupus membantu menghabiskan perkedelnya. Lulu melihat itu malah senang. Tapi Lupus terus asyik. Ia terus menyuapi mulutnya sendiri, hingga piring Lulu bersih tak tersisa.

Karena kenyang, Lupus pun tidur-tiduran di kolong meja. Wajahnya ditutupi buku cerita. Dan lama-kelamaan Lupus jadi tidur beneran. Sebab perutnya benar-benar kegendutan.

Ibu Lupus melihat piring Lulu kosong, jadi senang. Tapi sekaligus heran. Kok tumben Lulu bisa habis makan sendiri.

“Lulu, kamu makan sendiri, ya? Pintar kamu, Lu,” ujar ibu tersenyum.

Lulu acuh tak acuh saja. Dia malah sibuk membelai bonekanya. Kini boneka jadi anak-nya, dan Lulu jadi ibunya. Lulu berusaha menidurkan anaknya sambil berdendang kecil.

Rasa penasaran masih menyilimuti benak Ibu. Kemudian sekadar memenuhi rasa curiganya, ia pegang perut Lulu. Lho, kok kosong kempes?

“Lulu, kamu sudah makan, belum?”

dengan santai Lulu menggeleng.

“lalu, siapa yang menghabiskan nasimu?” desak Ibu.

“Ssst... ibu jangan libut, ya. Nanti anak Lulu bangun,” bisik Lulu sambil meletakkan telunjuknya di bibir.

Tapi Ibu Lupus seperti sudah menemukan jawaban misteri ini, ketika melihat Lupus dengan santainya tidur di kolong meja. Di sekitar mulutnya, masih ada nasi yang tersisa. Buku cerita yang tadi menutupi wajah, terjatuh kesamping.

Ibu Lupus tersenyum, sambil membersihkan sisa nasi dan perkedel yang mengotori baju Lupus. Dipandangnya wajah Lupus lama-lama. Anak itu seperti tersenyum membalas.

“Ah, Lupus... Lupus...,” desah ibu Lupus panjang. Kemudian bergegas menyiapkan makan siang buat Bapak.


Kamis, 08 November 2012

Ke Sekolah- Lupus Kecil

5. ke sekolah


Pagi-pagi sekali Lupus sudah bangun. Maklum, kalau tidak bangun pagi-pagi, dia bisa terlambat pergi ke sekolah. Dan kalau sampai terlambat ke sekolah, Lupus bisa kena setrap. Kalau sampai kena strap, Lupus bisa disuruh berdiri di pojokan kelas sepanjang pagi. Kalau sampai disuruh berdiri di pojokan kelas, Lupus bisa malu. Kalau sampai malu... ah, makanya, Lupus lebih baik tidak terlambat ke sekolah.

Tapi sebetulnya, Lupus masih suka dibangunkan ibunya daripada bangun sendiri. Pernah sekali Lupus berpesan pada ibunya agar jangan dibangunkan. Akibatnya Lupus baru bangun ketika jam dinding di rumahnya berdentang sembilan kali. Makanya Lupus hingga sekarang lebih suka dibangunkan saja. Lupus sendiri heran, kenapa dia susah bangun pagi. Padahal menurutnya, dia tidak pernah tidur terlalu larut. Paling-paling jam sembilan sudah masuk kamar. Cuma, ya di kamar dia suka keasyikan baca buku cerita hingga larut malam.

Kegiatan Lupus setiap pagi selain bangun tidur, biasanya ngulet-ngulet sedikit. Tau ngulet, kan? Itu lho, senam gaya ulet. Ya, habis senamnya kan di tempat tidur. Lupus kadang juga suka lari pagi. Berkeliling-keliling kompleks perumahan sebanyak satu kali. Larinya kadang-kadang pelan, kadang-kadang cepat. Lupus suka lari cepat kalau kebetulan dikejar sama anjing tetangga yang galak. Hihi... setelah lari pagi, biasanya Lupus mandi. Tak lupa sikat gigi, kalau kebetulan ditunggu Ibu. Habis itu handukan. Yah, terpaksa handukan ini diharuskan jadi kebiasaan. Karena Lupus setelah mandi suka lupa handukan. Masih basah kuyup, langsung pakai baju seragam. Kan jadi basah semua, ya, bajunya. Setelah urusan mandi selesai, Lupus sarapan. Untuk sarapan ini tidak biasa makan nasi. Tapi cukup lontong sayur saja. Tapi kadang-kadang, dia juga makan roti.

Sehabis makan roti, biasanya sih masih ada sedikit waktu untuk sekedar mengobrol dengan adiknya Lulu, atau dengan Ibunya yang sedang mengolesi roti buat bapak di meja makan.

“Bu, semalam Lupus mimpi dikejar-kejar raksasa. Uh, tegang deh. Lupus lari sekuat-kuatnya,” celoteh Lupus seru.

Ibunya memandang sebentar. Lalu dengan pelan berujar, “O, pantas kasurmu basah semua. Mungkin itu cucuran keringatmu, ya, Pus,” sindir Ibunya menahan tawa.

Lulu sudah cekikikan saja di ujung meja. Ih, ketahuan. Lupus pasti ngompol. Lupus memang paling bisa berdalih kalau dia ketahuan ngompol.

Tapi Lupus pura-pura tak mendengar sindiran Ibunya. Dia malah mengalihkan pembicaraan. “Eh, tapi kemarin Lupus di sekolah dapt hapusan potlot. Bagus deh, Bu. Bentuknya seperti mobil-mobilan. Wangi lagi....

“Ah, kamu dapat nyuri, ya?” sergah ibunya ketika Lupus menunjukkan penghapus barunya.

“Enggak, Bu.”

“Kamu dapat dari mana?”

“Dapat nemu di tempat pinsilnya Pepno yang sedang terbuka, Bu. Bagus, ya?”

Dan Lupus pun langsung melonpat turun dari kursinya ketika ada suara teman memanggil.

“Lupus berangkat, Bu, Pak. Sampai ketemu nanti siang, ya?”

“Lupuuuuus, penghapus itu..”

Ibunya berusaha menahan, tapi Lupus sudah berlarian menyambut teman-temannya.


***


Si Pepno, teman Lupus yang baru berulang tahun itu, kebetulan juga sekelas dengan Lupus. Tapi herannya, tiap hari Pepno selalu terlambat tiba di sekolah. Sampai guru-guru sudah bosan menghukumnya.

Lupus suka heran. Apa di rumahnya Pepno sulit dibangunkan kalau pagi hari? Kalau memang sulit, Lupus punya cara yang tepat untuk membangunkan anak nakal di pagi hari. Banjur saja dengan seember air dingin. Atau kalau cara itu dirasakan repot, karena akan membuat kasur basah, getok aja kepala si anak itu dengan batu bata. Wah, pasti dia akan lekas bangun.

Ah, tapi mungkin saja maminya Pepno tidak sampai hati melakukan itu. Karena Pepno memang agak disayang. Jadi mana mungkin maminya mau membangunkan dengan cara itu.

Jadi harus dicarikan cara lain. Misalnya dengan memasang jam weker tepat pukul enam pagi.

“Tapi, sebetulnya kenapa sih kamu suka terlambat?” tanya Lupus penasaran.

“Sebetulnya bukan salah saya, Pus,” ujar Pepno. “Yang salah gurunya.”

“Lho, kok gurunya?”

“Abis mereka datang terlalu cepat sih....”

Lupus bengong. Ah, masa iya?

Iya, kata Pepno. Dan Lupus tak percaya. Sama seperti tak percayanya Lupus pada cerita-cerita Pepno yang lainnya. Kalai duduk sebangku di kelas, Pepno memang suka cerita macem-macem. Tentang kucingnya yang katanya bisa menghilang, tentang kelincinya yang bisa berbicara.

Tapi Lupus tak pernah percaya.

Pagi ini pun, nampaknya Pepno mulai mau bercerita lagi.

“Pus, semalam aku ditinggal di rumah sendirian. Habis, Papi sama Mami pergi ke doter mengantar adikku. Aku nggak takut, Pus.”

“Ah, aku tak percaya, Pep,” ujar Lupus seperti biasanya.

Pepno mulai sibuk meyakinkan. “Aku betul-betul sendirian di rumah, Pus. Hanya bibiku saja di dapur, Mang Iip di ruang tamu, Mbok Minang di serambi, dan kakekku di kamar. Aku hanya sendirian nonton tipi, Pus...”

Lupus cekikikan.

Dan di samping Pepno, Lupus juga punya temen yang lucu. Namanya Uwi. Kata Lupus, Uwi ini mukanya kayak belalang. Panjang dan lancip. Tapi Uwi bilang, Lupus kayak marmut. Gemar merengut. Kalau sudah main ledek-ledekan begitu, Lupus dan Uwi cuma ketawa bareng.

Lupus suka Uwi, karena anak perempuan nakal in sebenarnya cerdas. Paling asyik diajak main tebak-tebakan. Waktu ulang tahun Pepno, Uwi ngasih kado pulpen mungil satu biji yang dilapisi berlapis-lapis koran hingga kadonya kelihatan besar. Di dalamnya, ada juga batu keriki, biar agak berat.

Pepno sampai frustasi waktu buka kado Uwi. Dikira dalamnya ada robot-robotan, atau pesawat tempur. Nggak taunya cuma pulpen yang mungil.

Di dalam kadonya, ada sederetan kalimat ucapan ulang tahun buat Pepno, disertai kata-kata mutiara yang lucu. “Jangan memandang keikhlasannya, tapi pandanglah... harganya.”

Lupus sampai terpingkal-pingkal ketika diceritai.

Ketika turun main, Lupus sering asyik belajar bersama Uwi. Biasanya jadi sembarangan, karena kedua anak itu memang ajaib. Biasanya Uwi yang membacakan dari buku, sambil memandangi buku bergambar. Sedang Lupus asyik memasukkan roti bekal Uwi ke dalam mulutnya hingga habis tak bersisa.

“Ikan bernapas dengan apanya, Pus?” ujar Uwi.

Lupus berpikir sejenak. Lalu sambil menguyah roti, dia menjawab,”Dengan insang.”

“Ya, betul. Kalo ular, Pus?”

“Ular? Ng.... dengan kulitnya!”

“Seratus! Kalo gajah bernafas dengan...?”

“Hidungnya!”

“Salah!”

“Kupingnya!”

“Salah!”

Lupus menelan potongan roti yang terakhir. “Jadi dengan apa?” tanyanya sambil memandang ke arah Uwi.

“Gajah bernafas dengan... teman-temannya!” ujar Uwi sambil menyembunyikan mukanya menahan tawa di balik buku bergambar. “Hihihihi.... iya, kan? Mereka selalu bergerombol.”

Lupus keki. Lalu sambil menutup kotak tempat kue Uwi yang sudah kosong, dia berkata, “Kalau kodok bernafas dengan...?”

“Dengan paru-paru!” jawab Uwi.

“Salah, Wi. Kodok bernafas dengan... izin Tuhan. Hihihi.”

Pepno pun datang meramaikan suasanan.

“Bulu apa yang bisa marah?” kata Pepno.

“Bu lurah,” jawab Uwi.

“Bulu apa yang bisa nangkis?”

“Bulu tangkis.”

“Bulu apa yang paling jelek?”

“Buku ketek.”

“Bulu apa yang paling jauh?”

“Bulu roma... ibu kota Itali.”

“Bulu... ng, apa lagi, ya?” Pepno berfikir.

“Ini Pep,” celetuk Lupus,” bulu apa yang mirip kamu, Pep?”

“Apa, ya?”

“Bulukan. Hihihi....”

Bel masuk pun berdentang lantang. Kelontang-kelonteng.


Rabu, 07 November 2012

Ulang tahun-Lupus Kecil

4. Ulang Tahun


Ada seorang teman Lupus. Namanya Pepno SH. Anaknya masih kecil. Sekecil Lupus. Badannya rada kurus. Berkulit hita,, dan berambut agak ikal. Kalau habis berlari-larian, ujung hidungnya suka berkeringat. Seperti empun di pagi hari.

Lupus sering bermain-main dengan dia.

Seperti juga kamu, Lupus pertama heran. Kenapa si Pepno ini kecil-kecil sudah punya gelar gelar SH? Nggak taunya itu nama bapaknya Simin Harjo, yang biasa disingkat SH. Hihihi.. lucu, ya?

Nah, sore tadi si Pepno berlarian datang ke arah Lupus yang tengah bersiap-siap pergi mengaji. Ia berbisik,” Pus, besok datang ke rumahku, ya? Aku ulang tahun. Eh, tapi jangan lupa bawa kado dong. Biar balik modal.”

“Ulang tahun?” Lupus bertanya heran. “Ulang tahun apa?”

Ih Lupus norak, ya? Masa ulang tahun aja nggak tau?

Tapi kalian memang mesti maklum kalau ternyata ada anak yang belum tau apa itu ulang tahun. Karena di sebagian keluarga, ada yang menganggap kalau ulang tahun itu tidak perlu dirayakan. Apalagi kalau orang tuanya pelit, seperti bapaknya si Lupus. Merayakan ulang tahun dianggap pemborosan saja, katanya. Makanya, Lupus nggak tau apa itu ulang tahun.

Mata Pepno yang bulat dan lucu itu menyimpit.

“Ulang tahun apa? Ya ulang tahun saya.” Pepno ternyata bingung juga menjawab pertanyaan Lupus.

“Ulang tahun itu apa?” Lupus masih belum mengerti juga. “Ulang tahun itu adalah tahun yang diulang,” Ujar Pepno setengah ragu. Ya, habis bagaimana dia harus menjelaskan. “Kata mama saya setiap tanggal 21 April itu ulang tahun saya.”

“Lha? Kenapa harus tanggal 21 April?” tanya Lupus. “Tidak tanggal 10 Nopember atau 32 januari saja?” kan tanggal 21 April hari Kartini.

“Tau tuh. Mama sukanya tanggal 21 April sih. Gitu aja, Pus. Jangan lupa besok sore. Dadaaah...”

“Eh, tapi dijemput, ya?”


&&&


Pulang mengaji, Lupus mendapatkan ibunya sedang asyik mengobrol dengan Tante Ani, tetangga sebelah. Menjelang magrib, kala urusan rumah tangga sudah diselesaikan semua, Ibu Lupus sering duduk-duduk di taman mengobrol dengan tetangga sambil minum teh. Bapaknya sih jarang ikutan nimbrung. Kerjaannya sepulang kantor tidur melulu.

“Dulu anak saya si Lulu, suka sekali menghisap jempolnya, jeng. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” ucap ibu Lupus sambil menuangkan Teh buat tante Ani. Lupus yang bandel, sempat juga menguping dari balik pohon angsoka.

“O, ya? Bagaimana cara mengatasinya jeng?”

“Mudah saja, Jeng. Jempolnya, suka saya beri yang pahit-pahit. Jamu, misalnya.”

“Lalu, setelah itu bagaimana reaksinya, jeng?”

“Sekarang, ia mengisapi jari kelikingnya...”

hihihi... Lupus tak bisa menahan ketawanya. Ini jelas membuat ibu Lupus berang. “Hayo, Lupus! Sudah berapa kali Ibu bilang, jangan suka mencuri dengar pembicaraan orang tua!”

Lupus keluar sambil tertawa-tawa kecil.

Dan dia segera bilang ke ibunya bahwa besok ia diundang ke ulang tahun Pepno.

“Ulang tahun yang keberapa?” tanya Ibu.

Wah, keberapa, ya? Lupus bingung. Soalnya dia tak tanya tadi. “Eeeng... suit sepentin kali, Bu!”

Ah, masa sweet seventeen? Ibunya tak percaya. Ibunya berkata, kalau tak salah Pepno lahir berbarengan dengan pohon pisang yang ditanam Bapak dikebun belakang.

“Wah, jadi si Pepno sudah tua dong, Bu,” ujar Lupus heran. Ya, karena pohon pisang yang dimaksud Ibu itu sudah reot. Pelepah pisangnya sudah berwarna coklat. Disentil juga roboh.

“Pepno lain dong dengan pohon pisang. Pohon pisang memang cepat besar dan tua. Tapi Pepno kan tidak,” jelas ibunya.

“Oo... mungkin karena Pepno jarang disiram dan diberi pupuk ya, Bu?” simpul Lupus.

Yah, mungkin sekarang Pepno umurnya sama dengan Lupus. Tujuh tahun. Sekarang, Lupus pun mengira-ngira, kado apa yang cocok buat Pepno.

“Eh, gimana, Bu, kalo beli buku tulis saja kadonya Pepno?” usul Lupus.

“Ah, jangan. Itu terlalu murah. Lebih baik potlot aja!”

Tapi ternyata Pepno tidak cuma mengundang Lupus. Lulu pun sudah diberi tahu. Pepno juga berpesan agar Lulu membawa kado.

Lulu mengusulkan agar Pepno diberi boneka saja.

Lupus jelas menolak. “Pepno kan anak laki-laki. Mana mau dia diberi boneka?”

“kalo dia nggak mau, kan bica buat Lulu aja.”

Pertengkaran Lupus dan Lulu sebetulnya bakalan seru. Tapi Ibu buru-buru melerai. Ibu cuma mau membelikan satu kado saja. Dan akhirnya diputuskan, Pepno akan dibelikan pistol-pistolan air saja.


***

sorenya pistol-pistolan air yang cukup unik itu siap dibungkus. Sebelum dilapisi kertas kado yang cantik, Ibu membungkusnya dengan beberapa kertas koran.

“Kenapa mesti begitu, Bu?” tanya Lupus.

“Biar keliatan besar. Nanti kan Pepnonya senang.”

Pistol-pistolan air itu memang jadi keliatan besar sekarang. Apalagi setelah dibungkus kertas kado yang bermotifkan warna-warni. Jadi kelihatan tambah cantik. Wah, si Pepno pasti senang.

Tapi, astaga! Pistol-pistolan air ini belum dicoba. Lupus cemas. Ya, bagaimana kalau ternyata pistol-pistolan air ini macet? Bisa malu dong. Kok ngasih hadiah nggak bisa dipakai?

Maka diam-diam Lupus pun membuka kado yang sudah terbungkus rapi itu. Gulungan koran yang membuatnya gemuk, kini berserakan dilantai. Lupus tak peduli. Yang penting pistol ini mesti dicoba dulu.

Setelah dibuka, pistol itu diisi air. Dan ditembakkan ke arah pot-pot bunga. Kadang-kadang, rambutnya pun dibasahi oleh pistol-pistolannya itu. Lupus senang, berarti pitol mainan ini tidak macet.

Lagi asyik-asyiknya mencoba, Ibu datang. Ibu habis membeli pita. Untuk kado dan untuk rambutnya Lulu. Biar kedua-duanya cantik.

Jelas saja Ibu mengomel melihat ulah Lupus.

“Aduh, Lupus. Kenapa kadonya dibuka begitu?”

“Habis tadi belum dicoba, Bu. Lupus khawatir kalo pistol-pistolan ini macet.”

Ibu akhirnya membungkus kado itu lagi. Cuma kali ini ditambahi pita biar cantik. Kado ini ternyata tidak mau kalah saingan dengan rambut Lulu yang senantiasa berpita. Lupus pun ikut-ikutan minta dipakaikan pita. Tapi Ibu melarang. Lupus nekat. Ia mengambil kaset dan mengeluarkan pitanya yang panjang. Kemudian digulungkan ke rambutnya. Lupus ternyata juga tak mau kalah saingan.

“Hihihi... pitaku lebih panjang!”


***


Sore itu di rumah Pepni sudah ramai. Banyak juga temannya yang datang. Pepno memang mengundang semua teman-teman mainnya.

Rumahnya sendiri tampak semarak. Dihiasi balon-balon, kertas warna-warni, dan juga kue tart besar berlilin tujuh yang begitu menarik perhatian Lupus.

Pepno memakai baju baru. Warnanya merah, dan dimasukkan ke dalam celana panjangnya yang baru. Pepno jadi kelihatan ganteng. Kayak sekoteng.

Tapi perhatian Lupus tetap tak lepas dari kue tart besar yang dilapisi coklat itu. Oi, pasti enak sekali rasanya. Lebih enak dari kue bikinan Ibu. Ah, mudah-mudahan saja kue itu tidak hanya sekedar buat pajangan.

Selanjutnya acara dibuka dengan menyanyi-nyanyi bersama. Sambil bertepuk tangan meriah. Kadang anak-anak bernyanyi saling adu cepat. Mungkin dengan harapan yang duluan selesai nyanyi segera mendapat potongan kue tart.

Kemudian disusul dengan acara-acara menarik. Diantaranya seperti mengoper gelas yang diisi air, sambil diiringi musik. Bila gelas itu berada di tangan seorang anak dan bersamaan dengan matinya musik, berarti anak tadi mendapatkan hukuman. Boleh nyanyi, boleh baca puisi. Boleh juga berjoget sepuas hati.

Mereka kelihatan suka dengan permainan itu. Kecuali Lupus. Ia cuma berharap agar jadwal pemotongan kue tart itu dipercepat saja. Rasanya lezatnya kue itu sudah sampai di lidah saja. Oi, pasti enak sekali. Lupus sama sekali tidak memperhatikan permainan oper-mengoper gelas. Maka ketika ia mendapat gelas berisi air yang semestinya diserahkan ke teman sebelah, Lupus malah memium airnya.

Anak-anak pada terheran-heran.

Lupus pun terpaksa dihukum. Pilihan hukumannya, baca puisi.

Tanpa ragu, Lupus pun membacakan puisi karya sendiri,

di laut sudah pasti ada air

di air belum tentu ada laut

di rumah sudah pasti ada pintu

di pintu belum tentu ada rumah

di meja sudah pasti ada sepotong kue

san kuenya belum tentu dipotong....”

Anak-anak bertepuk riuh. Akhirnya saa yang mendebarkan bagi Lupus pun tiba, Pepno memotong kue tartnya menjadi beberapa bagian. Potongan pertama untuk maminya, kedua untuk papinya, ketiga untuk adiknya. Keempat untuk kakaknya, kelima untuk neneknya. Keenam untuk kakeknya...

“Lha, untuk saya mana,ya? Pikir Lupus cemas.

Lupus khawatir kalau-kalau kue itu memang buat keluarga Pepno saja. Wah, bisa gawat nih! Lupus sebel, kenapa tuan rumah kadang cuma menyediakan kue yang mahal-mahal untuk pajangan saja? Bukan untuk dibagikan pada tamunya.

Tapi ternyata dugaan Lupus meleset. Kue tart itu juga dibagikan kepada teman-teman yang lain. Tentu termasuk Lupus. Lupus mendapatkan bagian yang lebih besar. Karena baca puisinya bagus. Lupus sangat girang sekali. Dia memakan sedikit demi sedikit. “Biar enaknya lama.”

Tapi kapan ya, bisa makan kue enak lagi? Lupus pun merenungi. Hingga kemudian dia bangkit menghampiri maminya Pepno dan membisiki, “Tante, bagaimana kalo ulang tahunnya Pepno tiap seminggu sekali aja, Tante?”

Selasa, 06 November 2012

Kue Hari Minggu-Lupus Kecil

-->

3. Kue Hari Minggu

Hari minggu memang hari yang ditunggu-tunggu. Oleh siapa saja. Terutama oleh anak-anak sekolah. Sebab hari minggu merupakan hari libur yang menyenangkan. Hari yang bisa diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Seharian bermain di lapangan bola, atau piknik ke taman hiburan. Bagi anak yang belum sekolah, hari minggu mungkin terasa sama dengan hari-hari lainnya. Sebab mereka tek punya hari libur. Kasihan, ya?

Bagi Lupus, tentu saja hari minggu juga merupakan hari yang istimewa. Selain bisa bermain sepuas-puasnya, di hari minggu Ibu Lupus tak bosan-bosannya praktek bikin kue. Ibu Lupus memang paling suka mencobai resep-resep makanan yang ada di majalah-majalah, koran-koran, atau di buku. Semua resep rasanya pernah dicoba, kecuali resep dari dokter.

Lupus sering juga membantu ibunya membuat kue-kue itu. Tapi Ibu tidak suka dibantu Lupus. Ibu biasanya lebih mengharapkan agar Lupus menunggu saja di dipan daripada ikut-ikutan membantu didapur. Ya, sebab dengan seringnya Lupus membantu, maka sering pula kue hasil praktik Ibu tidak jadi. Adonan yang sudah betul dan siap dimasak, kadang-kadang diaduk kembali oleh Lupus. Tidak dengan sendok atau garpu, tapi dengan tangannya. Ibu terang marah-marah. Resep yang telah dipelajari semalam dirusak oleh tangan mungil si Lupus yang nakal. Atau kue yang berbentuk kupu-kupu, tiba-tiba diterbangkan oleh Lupus. Atau kue yang berbentuk kucing-kucingan yang mungil, oleh Lupus tidak boleh ditaruh di oven. Lupus nggak tega. Kasihan, katanya. Kalo sudah begitu Lupus langsung diusir secara paksa oleh ibunya dari dapur.

Hari minggu inim seperti hari minggu lainnya, sejak pagi Lupussudah tak sabaran menunggu kue hasil eksperimen ibunya itu. Tapi Lupus tak berani lagi ikut-ikutan nimbrung di dapur. Cuma sesekali saja mengintip Ibu dari jendela dapur. Dan kamu semua kan tau, menunggu sesuatu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan. Makanya, daripada duduk dengan gelisah di dipan dekat dapur. Lupus lebih baik jalan-jalan keluar sebentar. Cari kesibukan.

Di depan, tak ada anak-anak yang sedang bermain. Tetangga kanan-kiri rupanya lagi pada asyik berlibur ke luar. Mungkin ke kebun binatang, mungkin ke pantai.

Lupus pun bermain-main sendirian.

Sedang asyik-asyiknya bermain, sebuah becak berani berhenti tepat di dekat Lupus. Penumpangnya turun, seorang laki-laki setengah baya. Dia mengucapkan salam kepada Lupus.

Lupus berdiri.

“Permisi, dik. Numpang tanya. Jalan ke rumah Pak Bambang ke mana, Dik?”

Lupus berpikir sejenak, lalu dengan nada yakin, dia berkata,” Lurus saja, ikuti jalan ini. Kalo ada belokan ke kiri, belok aja, Pak. Dan kalo ada belokan ke kanan, juga belok!”

laki-laki itu mengerutkan dahi. “Lho, yang betul lewat mana?”

“Kan Bapak sudah besar. Sudah tau mana yang betul dan mana yang salah. Masa gitu aja nggak tau....”

Laki-laki itu pun pergi dengan wajah bingung.

Bosan bermain-main di depan. Lupus pun masuk kembali ke dalam rumah. Tapi ternyata ibunya masih belum belum selesai membuat kue. Uh, kok lama sekali, ya? Biasanya nggak gini-gini amat?

Lupus memang tak tau kalo ibunya di dapur tenga dalam kesulitan menerjemahkan resep kue yang berbahasa perancis. Ibu Lupus sedang menduga-duga, apa kalo bikin kue Prancis garamnya harus garam Prancis, bukan garam Inggris?

Yah, sebetulnya Ibu Lupus memang tak pernah mengerti bahasa Perancis. Tapi lantaran seluruh resep yang ada sudah pernah dicoba. Maka Ibu nekat membeli buku resep masakan berbahasa Perancis. Akibatnya, ya itu tadi. Selain kebingungan masalah garam, Ibu juga kurang mengerti takaran tepungnya, takaran mentega, telornya berapa, di goreng atau direbus, hamoir semua nggak ngerti. Cuma tau gambarnya saja.

Ya, Lupus memang tak tau itu.

Dia pun menghampiri adiknya yang sedang asyik bermain boneka barbie. Lucu-lucu deh. Ada rumah-rumahannya, ada tempat tidurnya, ada mobilnya. Semua serba mungil. Tapi ternyata Lulu belum punya jam-jaman barbie, makanya dia memakai jam betulan.

Melihat Lupus datang, Lulu yang sedang mengutak-atik jam dinding, langsung bertanya, “ Kakm kalo jalum pendeknya ke angka cepuluh, dan jalum panjangnya ke angka dua belats, itu apa tuh, Kak?”

“Lagi nggak kompak, 'kali, Hiihihii...”

Lulu tertawa. “Idih, Kakak ngaco...”

“Ibu juga ngaco, Lu. Masa bikin kue dari tadi nggak jadi-jadi, ya?”

Lulu tak menjawab. Kembali asyik mengutak-atik isi kulkas mungilnya. Di dalamnya ada telur, pisang, botol susu, buah-buahan...

“Lu, kali ini pasti Ibu menyajikan kue yang paling enak. Sebab udah siang begini, kuenya belum jadi juga. Mungkin persiapannya lebih matang lagi, ya, Lu?”

Lulu cuma mengangguk.

Lupus pun tiduran di dekat Lulu. Hihihihi...

saking laparnya, perutnya sampai bunyi. Lupus memang sengaja tidak sarapan tadi pagi. Dia memang penasaran dengan kue bikinan ibunya itu. Lupus berniat ingin makan kue sebanyak-banyaknya.

Lagi asyik membayangkan, tiba-tiba tercium bau sesuatu.

“eh, Lu. Apa kamu nggak nyium bau kue itu? Hm... Lezatnya...” Lupus mendengus-denguskan hidungnya.

“Kue yang mana, Kak? Yang barucan itu Lulu abis buang angin, Kak,” jawab Lulu pelan.

Lupus kaget.

Sementara ibunya terus berkutet dengan resep Prancis-nya itu. Aduh, sampai berkeringat. Tapi Ibu pantang putus asa. Mesti dicari jalan keluarnya, pikir ibu Lupus. Kemudian dia masuk ke ruang kerja Bapak. Mengambil kamus perancis. Diartikan kata demi kata. Akhirnya disimpulkan. Bahwa untuk minggu ini, kue terpaksa harus beli dari pasar. Hihihi...

Ya, selanjutnya Ibu Lupus diam-diam lewat pintu belakang menuju pasar. Dia tak mau melukai hati anaknya, yang setia sejak pagi tetap menanti. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada kue perancis, beli di pasar pun jadi!

Sementara itu, di luar ada tamu ingin bertemu dengan ibu Lupus.

“Permisi ya, Nak. Ibu ada?” tanya tamu itu pada Lupus.

“Oh, ada. Tapi beliau tak bisa diganggu gugat. Sebab sedang sibuk. Saya yang anaknya saja tidak boleh bertemu kok. Atau besok saja, ya, Pak?” kata Lupus.

“Ini penting sekali, Nak. Sebentar saja,” ujar tamu itu.

“Bagaimana ya, Pak. Sepertinya sih tak bisa,” jawab Lupus lagi. “Atau jangan-jangan kedatangan bapak ini cuma ingin mencicipi kue bikinan Ibu, ya? Wah, boleh-boleh saja kok. Tapi jangan lebih dari dua potong, ya? Bapak kan sudah besar, jadi tak usah banyak-banyak, ya? Saya yang masih kecil ini yang harus diberi kesempatan makan kue banyak-banyak. Biar cepet besar.

“Eh, tapi kue itu sekarang belum matang, Pak. Bagaimana kalo Bapak pulang saja dulu. Dan bila sudah matang, saya beri kabar. Setuju?”

Tamu itu bengong.

“Oh, Bapak tak mau diberi dua potong, ya? Kalo begitu ditambah deh, Pak. Bagaimana kalo dua seperempat potong? Mau dong, ya?”

Tamu itu tak menjawab. Malah ngeloyor pergi.

“Huh, ditawari kue nggak mau. Payah!” umpat Lupus.

Tak lama kemudian ibu Lupus keluar sambil membawa sepiring kue yang habis dibelinya di pasar. Lupus gembira sekali. Sebelum mengambil kueikue yang terbungkus rapi itu, dia mencium pipi ibunya kanan-kiri. “Lupus salut deh sama Ibu. Kue-kue ini pasti sangat enak. Ibu memang jago kalo bikin kue.”

Lupus langsung mencomot tiga. Satu dimasukkan dimulut, satunya ke kantong dan satunya lagi dipegang di genggamannya. Dalam waktu sekejap, ketiga kue itu sudah ludes masuk ke perutnya.

“Lupus betul-betul nggak nyangka, kue ini begini enak. Bahkan paling enak dibanding kue-kue yang Ibu bikin sebelumnya. Tak seperti minggu lalu. Rasanya enak tapi lengket. Atau minggu sebelumnya, yang keras dan bila digigit harus ditarik pake tali supaya putus.

“kali ini betul-betul luar biasa. Gimana Minggu besok, Ibu bikin kue yang seperti ini lagi, Bu?”

Ibu Lupus cuma mengangguk lemak.

Senin, 05 November 2012

2. Baca Berita - Lupus Kecil


-->
2. Baca Berita

Sore hari biasanya saat yang paling menyenangkan buat anak-anak. Saat sengatan matahari mulai mereda dan angin bertiup sejuk. Tapi yang paling penting, pada saat seperti itu, tukang-tukang bakso, simai, es dong-dong mulai menampakkan batang hidungnya. Mulai berteriak-teriak ribut menjajakan dagangannya, mulai menyemarakan suasana senja.

Dan pada saat itu pun biasanya anak-anak manis baru terjaga dari tidur siang. Mengucek-ucek mata dan menyambut kicauan tukang bakso dari balik jendela.

“neeeeng, bakso, neeeng. Selagi ada, selagi ada. Soalnya abang hanya lewat sebulan sekali. Itu juga kalo nanti Abang masih punya modal buat jualan. Ayo, selagi ada...,” sambutan tukang bakso begitu hangat, ketika ana-anak manis mulai menampakkan batang hidungnya dari balik gorden.

Sebagian anak memang ada yang hobi jajan bakso, siomai, atau es dong-dong. Tapi sebagian lagi ada yang langsung berlari-lari ke lapangan bola. Bermain kejar-kejaran atau petak umpet.

Tapi lupus suka bosan bermain-main di luar. Sore hari begini, dia paling suka mendengarkan siaran radio. Biasanya saat radio menyiarkan lagu untuk anak. Tapi tak selalu lagu anak-anak, lagu dang-dut pun lupus suka. Suka ikut-ikutan berdendang sambil goyang-goyang pinggul.

Bagi Lupus, paling asyik mendengarkan radio sambil tidur-tiduran di kolong mesing jahit. Sambil menempelkan radio ditelinganya. Katanya, dengan begitu dia bisa lebih akrab dengan penyiar dan penyanyinya.

Dan sore itu, acara seperti biasa dibuka dengan salam perjumpaan dari sang penyiar” Selamat Sore, adik adik manis. Selamat sore berjumpa lagi dengan Kak Wita. Di sini Radio Republik Indonesia...”

“Eh, bukan,” sambar Lupus cepat. “ Di sini radio saya, enak aja.”

sang penyiar cuek, terus aja ngomong “ Sore ini pasti adik-adik sudah mandi semua. Siap dengarkan lagunya, ya?”

“eh Lulu. Kamu nggak ikutan denger. Sebab kamu belum mandi,” sergah Lupus lagi. Lulu bengong, sambil ngeluyur ke belakang.

“Dan setelah mandi nanti, kamu juga belum tentu boleh mendengarkan siaran radio. Soalnya tadi kamu nggak ikut patungan buat beli batu batere,” Lanjut Lupus.

Radio, bagi Lupus memang sebagai hiburan yang menyenangkan. Bentuknya kecil, tapi bisa membuat banyak suara orang di dalamnya. Ada suara anak-anak, ibu-ibu, dan suara kakek-nenek juga ada. Ini yang membuat Lupus tambah geregetan.

Pernah sekali, karena saking penasarannya, Lupus mengintip kedalam radio itu, sambil berharap agar bisa melihat orangnya. Atau kemudian mengocok-ngocoknya supaya orangnya bisa jatuh keluar.

Dan malam ini, Lupus memang lagi penasaran sekali. O ya, perlu kalian ketahui, meski masih kecil, tapi Lupus itu sebetulnya paling suka mendengarkan siaran berita di radio. Namun nampaknya kini dia belum mendapatkan siaran itu. Padahal diia sudah mengubah gelombang dari ujung ke ujung. Dia sempat bertanya kepada Lulu, yang dijawab dengan gelengan kepala. Lupus kesal. Di tepuk-tepuknya radio itu. Lupus berpikir, barangkali penyiarnya ketiduran atau sudah tak mau lagi membacakan berita di radio Lupus. Lupus pernah menyuruh Ibu agar membuatkan minuman untuk pembaca berita di radionya. Dia khawatir penyiarnya itu kehausan. Tapi ibu sampai sekarang belum pernah melayani. Lupus kasihan kalau pembaca berita sampai terbatuk-batuk, kala membacakan beritanya.

Siaran berita belum juga ditemukan. Lupus makin penasaran. Dia tahu, saat itu baru pukul setengah tujuh malam. Dan sebetulnya siaran berita akan bisa didengar pukul tujuh malam. Tapi dasar Lupus, menganggap itu cuma alasan penyiar saja. “Mentang-mentang radioku sudah agak jelek, jadi si penyiar itu nggak mau lagi singgah untuk membacakan berita di sini,” gerutu Lupus.

Lupus tambah jengkel, kemudian membuka tutup radio itu. Tentu saja setelah sebelumnya tak lupa mengocok-ngocoknya dulu. Ditariknya kabel-kabel yang berseliweran dalam radio itu. Kali-kali aja si penyiar bersembunyi di sini. Lalu dicongkelnya peralatan radio itu, hingga membuat isi radio berantakan. Lulu yang tadinya tak begitu memperhatikan, kini ikut-ikutan merusak dan sesekali menginjak-injak badan radio.

Kini radio itu sudah tak jelas lagi bentuknya. Tapi Lupus puas. Biar pembaca siran berita itu tak datang lagi ke sini. Rupanya Lupus mengajak marahan dengan sang penyiar. Lulu Lupus mengamit lengan adiknya, sambil berkata,” Lu, kamu mau mendengarkan berita, yak? Kak Lupus juga bisa kok. Sebentar, ya?” kak Lupus sambil berlari ke belakang mengambil corong minyak.

Corong tadi diletakkan di depannya, dan Lupus duduk bersila, di depannya juga ada setumpuk kertas yang ia dapatkan dari mana-mana. Sedang Lulu memperhatikan kakaknya dengan senang.

“Lu, kamu mesti menyetel lebih dulu, sebelum bisa mendengarkan siaran berita.” kata Lupus. “ dan sekarang kamu nggak usah repot-repot muter gelombang radio.”

lalu lantas memegang jempol kaki Lupus dan memutarnya sedikit, terus ngomong, “ Tel... gitu ya, Kak?”

dengan suara dibertkan, Lupus mumali bergaya, “Selamat malam, saudara-saudara. Di sini siaran berita. Dan radionya siaran langsung. Yang tidak dengar pasti rugi,” kata Lupus.

“Cayang, Ibu cama Bapak belum pulang, ya? Kalau tau pacti cenang,” kata Lulu tiba-tiba.

Lupus acuh saja, dan terus ngomong, “Berita-berita tidak penting. Seorang ibu dan anaknya kemarin sore telah berhasil menyebrang jalan dengan selamat.” kata Lupus mulai baca berita sambil diselilingi batuk-batuk kecil, “Uhuk-uhuk!”

“Yaaa... Kak. Macak belita tidak penting?” protes Lulu heran.

“ini kan radio siaran langsung, jadi beritanya lain dong dengan di radio biasa,” kata Lupus sambil melototi Lulu. Maksudnya jangan terus diajak bicara. “Awas, Lu, kalo nanya lagi.”

“Maaf, Saudara-saudara. Tadi ada sedikit gangguan teknis. Sekarang dilanjutkan lagi, ya?” Lupus minta maaf sama pendengar yang lain. Eh, saat itu ada juga lho pendengar lain selain Lulu. Ada cecak, kecoak, empat ekor nyamuk, seekor kucing, dan dua boneka Lulu. Jadi Lupus merasa perlu untuk minta maaf.
“ Di stadion utama Senayan, sejak kemarin sore hingga tadi pagi tidak ada yang bermain sepak bola, hingga saya tidak tahu berapa golnya dan siapa wasitnya.” Lupus Mulai lagi, dan betul-betul tidak penting. Lupus memang pintar menghibur adiknya. Lulu sudah kepingin ketawa, tapi takut ditegur. Jadi Lulu mau tak mau mesti menutup mulutnya, biar nggak berisik.

“sementara itu, kebakaran besar sampai sekarang masih belum terjadi, hingga tidak dapat diketahui berapa jumlah korban yang jatuh dan jumlah kerugian yang diderita.”

Lupus lalu membalikkan kertasnya sambil memandang ke arah pemirsa.

“saudara-saudara yang manis, sekarang berita olahraga, ya?” Lupus menawarkan. Tapi tidak ada jawaban. Lulu pun tidak berani bilang apa-apa. Takut dimarahin. Lalu Lupus ngomong, “Kalo diam saja berarti ya.”

“Ini berita olahraga tidak penting,” kata Lupus. “kolam renang Senayan pada sore hari mulai dikuras dan siisi kembali pada pagi harinya. Siangnya baru boleh direnangi.

“seorang perenang loncat indah, ketika meloncat tidak berani nongol dari kolam renang. Sebab ketika ia sudah meloncat ke kolam, celananya tertinggal di atas!”

Lulu setengah mati menahan tawanya, hahaha...! tapi ia lupa menutup mulutnya.

“Nah, Sekarang acara siaran berita sudah habis. Saudara-saudara, kini kita masuki acara Taman Indira bersama Bu Kasur. Aduuuh, tapi sayang sekali, acara ini tidak dapat disiarkan, lantaran kasurnya masih dijemur. Maaf, ya? Lebih baik diganti dengan acara Gemar menggampar... Aduuuh, salah lagi. Maksud kami, Gemar Menggambar. Bersama Pak Tino Sidin. Sekali lagi mohon maag, saudara-saudara, sebab Pak Tino Sidin-nya belum datang, karena ban mobilnya kempes. Tapi beliau kirim salam, “bagus... bagus...,” katanya.

“tapi jangan kecewa. Masih ada satu acara lagi, yaitu Ayo bernyanyi bersama bufet. Eh, maaf, maksud kami Bu Fat. Bu Fat akan mengajak bernyanyi bersama-sama dengan iringan hansip. Biasanya sih diiringi piano, tapi karena pianonya lagi rusak, terpaksa deh, hansip. Jreng...”

Lupus langusng bernyanyi Satu-satu Aku Sayang Ibu.

“Ya, terima kasih atas perhatian Saudara-saudara. Bagi penduduk yang berada di wilayah Indonesia Timur, ya semoga baik-baik saja. Jangan suka berantem. Besok siaran lagi kok. Dan bagi penduduk di wilayah Indonesia Barat, lebih baik ke timur aja. Di sana masih kosong kok. Enak lho, di sana di kasih tanah dua hektar, rumah pacul. Eh, tapi jangan lupa ya dengerin siaran radio saya...”

Tepat pada saat Lupus mengakhiri siaran beritanya, terdengar suara bel tamu berdentang.

“Ibu pulaaaang...,” teriak Lulu menyonsong ke depan. Tapi Lupus tetap duduk di tempatnya, sampai kedua orang tuanya mucul dari depan.

“Aduh, Lupus! Apa-apaan ini? Kenapa radio Bapak jadi berantakan begini,” seru bapaknya ketika melihat radionya tergeletak tak berbentuk di lantai. “ Pasti kamu yang merusaknya, ya? Ayo kemari!!!”

“Saudara-saudara,” lanjut Lupus tenang, “ini baru berita penting...”

Minggu, 04 November 2012

Dapet Kamar Baru-Lupus Kecil

-->
1. Dapat Kamar Baru

Lupus kecil sudah merasa besar. Ia ingin punya kamar sendiri. Tidak lagi disatukan sama Ibu dan Bapak disebuah kamar besar di pusat rumah. Tidak lagi bersebelahan dengan ranjang Lulu yang bentuknya mirip rumah boneka.

Itu bagus, kata bapak. Seorang anak, apalagi laki-laki, memang harus tidur terpisah dari orang tua. Belajar berani. Belajar mandiri, mengatur kamarnya sendiri. Dan ibu pun mengabulkan permintaan Lupus. Di rumah Lupus memang masih tersisa beberapa kamar kosong, yang biasa untuk menaruh barang-barang atau menerima saudara yang menginap.

Lupus jelas girang, permintaanya dituruti. Diledeknya Luku yang juga ingin dapat kamar sendiri, tapi tak diizinkan Ibu. Alasannya, di samping masih terlalu kecil, Lulu suka mengigau kalau malam. Suka kepingin pipis. Lupus merasa senang, lantas senang. Lulu cuma diam saja dicibiri Lupus.

Maka seharian itu, Lupus sibuk menata kamarnya. Rak buku yang baru dibelikan kayaknya jadi pusat perhatian Lupus. Sebab Lupus punya koleksi buku cerita yang banyak itu agak bingung, dimana dia meletakkan robot-robotan dan mobil-mobilannya? Soalnya mereka-mereka itu belum kebagian tempat.

Setelah ditimbang-timbang, akhirnya Lupus memilih semuanya, robot, mobil, dan buku sama pentingnya. Lagi pula robot-robot itu nanti tak bakal kesepian, dia bisa baca buku cerita Lupus, kalau lagi iseng.

Maka setelah urusan rak buku selesai, Lupus kembali mengatur letak tempat tidur, letak kipas angin, letak meja belajar, dan lemari pakaian. Bagaimana agar semua bisa masuk, dan terletak manis dikamarnya. Mang Unang, yang suka memotong rumput itu, ikut membantu menggotong-gotong. Uhm ternyata mengatur kamar sendiri itu mengasyikkan. Lupus sampai lupa makan siang, kalau tidak lekas-lekas diingatkan Ibunya. “Sudahlah, Pus. Nanti bisa diteruskan, dan sekarang kamu makan siang dulu.”

Ibu Lupus memang orang yang baik hati. Tapi menurut Lupus, ibunya termasuk ibu yang lucu juga, walau kalau lagi marah tampangnya galak sekali. Ibu Lupus bersama ibu-ibu tetangga lainya, suka ikut kegiatan semacam Dharma Wanita. Lupus sendiri kurang begitu tau, apa nama kegiatan itu sebenarnya. Pokoknya, mereka suka mengadakan kumpul-kumpul, seminar menjadi ibu yang baik, atau sekedar mengobrol. Kegiatan itu biasanya berpusat dibalai pertemuan, dekat lapangan tenis.

Kalau lagi iseng, sambil nonton Bapak main tenis, Lupus suka mengintip ibunya yang ikut seminar. Pernah Lupus mendengar ada suatu pertanyaan yang diajukan oleh ibu pembina, “ibu-ibu sekalian, apa yang harus Ibu-ibu lakukan bila mengetahui anak Ibu secara teratur mencuri uang dari anggaran rumah tangga?”

sejenak ruangan balai pertemuan hening.

Tapi tiba-tiba Ibu Lupus menjawab lantang, “ Kita curi lagi uang jajannya!”

Ibu pembina pun terheran-heran, sedang Lupus tertawa terpingkal-pingkal di luar.

Tapi menurut Lupus, ada untungnya juga Ibu ikut perkumpulan seperti itu. Paling tidak, Lupus pernah mendengar pesan yang disampaikan kepada ibu-ibu: harus memberi kebebasan bermain bagi sang anak. Bahwa bermain-main bukanlah hal yang” mewah”, melaikan keharusan yang mutlak bagi anak-anak.

Makanya Ibu selalu memberi pekuang lebar-lebar bagi Lupus untuk bermain. Tapi sayangnya, Lupus suka terlalu sore pulang ke rumah.

Saking penasarannya, suatu waktu Ibu Lupus bertanya pada Lupus. “ Sebetulnya kamu itu main apa sih sampe sore begini baru pulang?”

“main yang jauuuh sekali...,” jawab Lupus sambil ngeloyor ke kamar mandi. Hihiihi. Dia takut kena jewer.

Tapi itulah. Pada dasarnya, ibu lupus memang ibu yang baik. Tiap sore, masih menyempatkan diri minum the dan kue bersama bapak, Lupus, dan si mungil Lulu. Saat sore itu, biasanya mereka bercerita-cerita kejadian yang dialami siangnya. Biasanya mulai dari Lulu, “ Bu, Kak Luputs celalu kalah dong kalo main halma cama Lulu.”

“O ya? Memangnya kamu sudah bisa melangkahkan biji-biji halma itu?”

“Bica, Bu. Kalo kak Luputs cudah memulai langkahnya, keltats halma itu langsung Lulu balik aja. Jadinya Kak Luputs kalah, kan, Bu?”

Ibunya tertawa, sambil menguap lebar. Uaaah, hari yang melelahkan.

Bapak Lupus juga termasuk bapak yang baik. Tapi yang paling menyebalkan bagi Lupus, bapaknya ini orangnya pelit sekali. Jarang mau beroyal-ria memberi uang jajan kepada Lupus. Pernah Lupus mau ikut acara piknik di sekolahnya, dan ia minta tambahan uang jajan ke bapak sambil sebelumnya berbaik hati dulu memijat kaki bapak. Tapi setelah capek memijit, dengan entengnya Bapak berkata, “ Tambahan jajan? Seratus perak cukup, kan?”

Idih Bapak. Seratus perak sih buatr beli roti kecil juga pas-pasan. Kan rencananya Lupus mau beli oleh-oleh, jajan es krim, beli kue, wah... macam-macam deh.

Tapi bapak tak memberi. Alasannya jangan jajan sembarangan. Nanti sakit perut. Bawa aja bekal nasi goreng dari rumah. Kan beres.

Lupus pun bersungut-sungut, dan ngambek nggak mau mijit kaki Bapaknya seminggu penuh.

Tapi sore ini Lupus sudah baikan lagi. Gara-gara dikasih kamar baru. Lulu yang tak dapat kamar, dari tadi diledek terus sama Lupus. Tapi Lulu pura-pura tak mendengar. Dia masih asyik bercinta ke Ibunya.

“Bu, Lulu tadi abis dali luma Lita, dong. Di cana, main lompat-lompatan. U, celu deh. Lita campe jatoh, kakinya beldalah, teluts dikacih obat melah. Tapi Lita main lagi. Lulu juga dikacih bubul kacang ijo cama maminya Lita. Enak lho, Bu. Manits. Anak-anak pada belebutan. E, Loni mukanya kena bubul, Bu. Dia nangits. Semua diomelin mami Lita. Iiih, maca Ibu tidul, cih? Lulu cebel... cebel... cebel...”

Olala. Rupanya saking capeknya mendengar cerita Lulu, ibu Lupus tertidur. Bapak dan Lupus juga. Suara dengkur tidur mereka saling bersahutan mesra.


Dan sekarang hari sudah gelap. Meski acara televisi belum habis, tetapi sudah dimatikan dari tadi. Hari ini, rupanya semua merasa letih. Merasa ingin lebih awal masuk dan terlelap tidur.

Lupus pun kini sudah berada di kamar barunya. Ini malam pertama dia tidur sendirian. Mula-mula biasa-biasa saja. Tapi lama-lama, suara gesekan daun diluar yang bertiup angin, mengusik Lupus yang tak kunjung dapat memejamkan mata.

Suara itu terdengar mengerikan.

Untuk sekedar mengusir takut, Lupus pun memandangi koleksi robot-robotnya. Satu demi satu. Tapi robot-robot yang biasanya nampak bersahabat itu, kini tidak. Sorot matanya tajam. Apalagi boneka E.T-nya. Jarinya yang merah seakan menyala-nyalal. Bergerak-gerak.

Bulu roma Lupus mulai berdiri satu-satu. Ia semakin menenggelamkan dirinya kedalam selimutnya yang tebal. Ah, tapi apa ini? Sepertinya ada yang mengilik-ngilik telapak kakinya.

“hiyaaa...!!!” dan dia pun melonjak kaget ketika salah satu robot-robotannya jatuh dari atas rak. Ia langsung terbirit-birit berlari ke luar kamar.

Lalu dengan mengendap-endap, masuk ke kama Ibu-Bapaknya yang tak terkunci. Pelan-pelan, ia naik ke atas tempat tidur Lulu yang mungil. Lalu tidur melingkar dibawah kaki Lulu.

Lulu yang ternyata belum tidur, tak bisa menahan cekikikannya. Ia pun tertawa cekikikan. Hihihihi... makanya kalo penakut jangan sok tau...

***