Lupus dan Lulu
blog ini memuat cerita-cerita lupus dan teman-temannya yang dikarang oleh hilman dan boim.
Jumat, 23 November 2012
Kamis, 08 November 2012
Ke Sekolah- Lupus Kecil
5. ke sekolah
Pagi-pagi sekali Lupus sudah bangun. Maklum, kalau tidak bangun pagi-pagi, dia bisa terlambat pergi ke sekolah. Dan kalau sampai terlambat ke sekolah, Lupus bisa kena setrap. Kalau sampai kena strap, Lupus bisa disuruh berdiri di pojokan kelas sepanjang pagi. Kalau sampai disuruh berdiri di pojokan kelas, Lupus bisa malu. Kalau sampai malu... ah, makanya, Lupus lebih baik tidak terlambat ke sekolah.
Tapi sebetulnya, Lupus masih suka dibangunkan ibunya daripada bangun sendiri. Pernah sekali Lupus berpesan pada ibunya agar jangan dibangunkan. Akibatnya Lupus baru bangun ketika jam dinding di rumahnya berdentang sembilan kali. Makanya Lupus hingga sekarang lebih suka dibangunkan saja. Lupus sendiri heran, kenapa dia susah bangun pagi. Padahal menurutnya, dia tidak pernah tidur terlalu larut. Paling-paling jam sembilan sudah masuk kamar. Cuma, ya di kamar dia suka keasyikan baca buku cerita hingga larut malam.
Kegiatan Lupus setiap pagi selain bangun tidur, biasanya ngulet-ngulet sedikit. Tau ngulet, kan? Itu lho, senam gaya ulet. Ya, habis senamnya kan di tempat tidur. Lupus kadang juga suka lari pagi. Berkeliling-keliling kompleks perumahan sebanyak satu kali. Larinya kadang-kadang pelan, kadang-kadang cepat. Lupus suka lari cepat kalau kebetulan dikejar sama anjing tetangga yang galak. Hihi... setelah lari pagi, biasanya Lupus mandi. Tak lupa sikat gigi, kalau kebetulan ditunggu Ibu. Habis itu handukan. Yah, terpaksa handukan ini diharuskan jadi kebiasaan. Karena Lupus setelah mandi suka lupa handukan. Masih basah kuyup, langsung pakai baju seragam. Kan jadi basah semua, ya, bajunya. Setelah urusan mandi selesai, Lupus sarapan. Untuk sarapan ini tidak biasa makan nasi. Tapi cukup lontong sayur saja. Tapi kadang-kadang, dia juga makan roti.
Sehabis makan roti, biasanya sih masih ada sedikit waktu untuk sekedar mengobrol dengan adiknya Lulu, atau dengan Ibunya yang sedang mengolesi roti buat bapak di meja makan.
“Bu, semalam Lupus mimpi dikejar-kejar raksasa. Uh, tegang deh. Lupus lari sekuat-kuatnya,” celoteh Lupus seru.
Ibunya memandang sebentar. Lalu dengan pelan berujar, “O, pantas kasurmu basah semua. Mungkin itu cucuran keringatmu, ya, Pus,” sindir Ibunya menahan tawa.
Lulu sudah cekikikan saja di ujung meja. Ih, ketahuan. Lupus pasti ngompol. Lupus memang paling bisa berdalih kalau dia ketahuan ngompol.
Tapi Lupus pura-pura tak mendengar sindiran Ibunya. Dia malah mengalihkan pembicaraan. “Eh, tapi kemarin Lupus di sekolah dapt hapusan potlot. Bagus deh, Bu. Bentuknya seperti mobil-mobilan. Wangi lagi....
“Ah, kamu dapat nyuri, ya?” sergah ibunya ketika Lupus menunjukkan penghapus barunya.
“Enggak, Bu.”
“Kamu dapat dari mana?”
“Dapat nemu di tempat pinsilnya Pepno yang sedang terbuka, Bu. Bagus, ya?”
Dan Lupus pun langsung melonpat turun dari kursinya ketika ada suara teman memanggil.
“Lupus berangkat, Bu, Pak. Sampai ketemu nanti siang, ya?”
“Lupuuuuus, penghapus itu..”
Ibunya berusaha menahan, tapi Lupus sudah berlarian menyambut teman-temannya.
***
Si Pepno, teman Lupus yang baru berulang tahun itu, kebetulan juga sekelas dengan Lupus. Tapi herannya, tiap hari Pepno selalu terlambat tiba di sekolah. Sampai guru-guru sudah bosan menghukumnya.
Lupus suka heran. Apa di rumahnya Pepno sulit dibangunkan kalau pagi hari? Kalau memang sulit, Lupus punya cara yang tepat untuk membangunkan anak nakal di pagi hari. Banjur saja dengan seember air dingin. Atau kalau cara itu dirasakan repot, karena akan membuat kasur basah, getok aja kepala si anak itu dengan batu bata. Wah, pasti dia akan lekas bangun.
Ah, tapi mungkin saja maminya Pepno tidak sampai hati melakukan itu. Karena Pepno memang agak disayang. Jadi mana mungkin maminya mau membangunkan dengan cara itu.
Jadi harus dicarikan cara lain. Misalnya dengan memasang jam weker tepat pukul enam pagi.
“Tapi, sebetulnya kenapa sih kamu suka terlambat?” tanya Lupus penasaran.
“Sebetulnya bukan salah saya, Pus,” ujar Pepno. “Yang salah gurunya.”
“Lho, kok gurunya?”
“Abis mereka datang terlalu cepat sih....”
Lupus bengong. Ah, masa iya?
Iya, kata Pepno. Dan Lupus tak percaya. Sama seperti tak percayanya Lupus pada cerita-cerita Pepno yang lainnya. Kalai duduk sebangku di kelas, Pepno memang suka cerita macem-macem. Tentang kucingnya yang katanya bisa menghilang, tentang kelincinya yang bisa berbicara.
Tapi Lupus tak pernah percaya.
Pagi ini pun, nampaknya Pepno mulai mau bercerita lagi.
“Pus, semalam aku ditinggal di rumah sendirian. Habis, Papi sama Mami pergi ke doter mengantar adikku. Aku nggak takut, Pus.”
“Ah, aku tak percaya, Pep,” ujar Lupus seperti biasanya.
Pepno mulai sibuk meyakinkan. “Aku betul-betul sendirian di rumah, Pus. Hanya bibiku saja di dapur, Mang Iip di ruang tamu, Mbok Minang di serambi, dan kakekku di kamar. Aku hanya sendirian nonton tipi, Pus...”
Lupus cekikikan.
Dan di samping Pepno, Lupus juga punya temen yang lucu. Namanya Uwi. Kata Lupus, Uwi ini mukanya kayak belalang. Panjang dan lancip. Tapi Uwi bilang, Lupus kayak marmut. Gemar merengut. Kalau sudah main ledek-ledekan begitu, Lupus dan Uwi cuma ketawa bareng.
Lupus suka Uwi, karena anak perempuan nakal in sebenarnya cerdas. Paling asyik diajak main tebak-tebakan. Waktu ulang tahun Pepno, Uwi ngasih kado pulpen mungil satu biji yang dilapisi berlapis-lapis koran hingga kadonya kelihatan besar. Di dalamnya, ada juga batu keriki, biar agak berat.
Pepno sampai frustasi waktu buka kado Uwi. Dikira dalamnya ada robot-robotan, atau pesawat tempur. Nggak taunya cuma pulpen yang mungil.
Di dalam kadonya, ada sederetan kalimat ucapan ulang tahun buat Pepno, disertai kata-kata mutiara yang lucu. “Jangan memandang keikhlasannya, tapi pandanglah... harganya.”
Lupus sampai terpingkal-pingkal ketika diceritai.
Ketika turun main, Lupus sering asyik belajar bersama Uwi. Biasanya jadi sembarangan, karena kedua anak itu memang ajaib. Biasanya Uwi yang membacakan dari buku, sambil memandangi buku bergambar. Sedang Lupus asyik memasukkan roti bekal Uwi ke dalam mulutnya hingga habis tak bersisa.
“Ikan bernapas dengan apanya, Pus?” ujar Uwi.
Lupus berpikir sejenak. Lalu sambil menguyah roti, dia menjawab,”Dengan insang.”
“Ya, betul. Kalo ular, Pus?”
“Ular? Ng.... dengan kulitnya!”
“Seratus! Kalo gajah bernafas dengan...?”
“Hidungnya!”
“Salah!”
“Kupingnya!”
“Salah!”
Lupus menelan potongan roti yang terakhir. “Jadi dengan apa?” tanyanya sambil memandang ke arah Uwi.
“Gajah bernafas dengan... teman-temannya!” ujar Uwi sambil menyembunyikan mukanya menahan tawa di balik buku bergambar. “Hihihihi.... iya, kan? Mereka selalu bergerombol.”
Lupus keki. Lalu sambil menutup kotak tempat kue Uwi yang sudah kosong, dia berkata, “Kalau kodok bernafas dengan...?”
“Dengan paru-paru!” jawab Uwi.
“Salah, Wi. Kodok bernafas dengan... izin Tuhan. Hihihi.”
Pepno pun datang meramaikan suasanan.
“Bulu apa yang bisa marah?” kata Pepno.
“Bu lurah,” jawab Uwi.
“Bulu apa yang bisa nangkis?”
“Bulu tangkis.”
“Bulu apa yang paling jelek?”
“Buku ketek.”
“Bulu apa yang paling jauh?”
“Bulu roma... ibu kota Itali.”
“Bulu... ng, apa lagi, ya?” Pepno berfikir.
“Ini Pep,” celetuk Lupus,” bulu apa yang mirip kamu, Pep?”
“Apa, ya?”
“Bulukan. Hihihi....”
Bel masuk pun berdentang lantang. Kelontang-kelonteng.
Rabu, 07 November 2012
Ulang tahun-Lupus Kecil
4. Ulang Tahun
Ada seorang teman Lupus. Namanya Pepno SH. Anaknya masih kecil. Sekecil Lupus. Badannya rada kurus. Berkulit hita,, dan berambut agak ikal. Kalau habis berlari-larian, ujung hidungnya suka berkeringat. Seperti empun di pagi hari.
Lupus sering bermain-main dengan dia.
Seperti juga kamu, Lupus pertama heran. Kenapa si Pepno ini kecil-kecil sudah punya gelar gelar SH? Nggak taunya itu nama bapaknya Simin Harjo, yang biasa disingkat SH. Hihihi.. lucu, ya?
Nah, sore tadi si Pepno berlarian datang ke arah Lupus yang tengah bersiap-siap pergi mengaji. Ia berbisik,” Pus, besok datang ke rumahku, ya? Aku ulang tahun. Eh, tapi jangan lupa bawa kado dong. Biar balik modal.”
“Ulang tahun?” Lupus bertanya heran. “Ulang tahun apa?”
Ih Lupus norak, ya? Masa ulang tahun aja nggak tau?
Tapi kalian memang mesti maklum kalau ternyata ada anak yang belum tau apa itu ulang tahun. Karena di sebagian keluarga, ada yang menganggap kalau ulang tahun itu tidak perlu dirayakan. Apalagi kalau orang tuanya pelit, seperti bapaknya si Lupus. Merayakan ulang tahun dianggap pemborosan saja, katanya. Makanya, Lupus nggak tau apa itu ulang tahun.
Mata Pepno yang bulat dan lucu itu menyimpit.
“Ulang tahun apa? Ya ulang tahun saya.” Pepno ternyata bingung juga menjawab pertanyaan Lupus.
“Ulang tahun itu apa?” Lupus masih belum mengerti juga. “Ulang tahun itu adalah tahun yang diulang,” Ujar Pepno setengah ragu. Ya, habis bagaimana dia harus menjelaskan. “Kata mama saya setiap tanggal 21 April itu ulang tahun saya.”
“Lha? Kenapa harus tanggal 21 April?” tanya Lupus. “Tidak tanggal 10 Nopember atau 32 januari saja?” kan tanggal 21 April hari Kartini.
“Tau tuh. Mama sukanya tanggal 21 April sih. Gitu aja, Pus. Jangan lupa besok sore. Dadaaah...”
“Eh, tapi dijemput, ya?”
&&&
Pulang mengaji, Lupus mendapatkan ibunya sedang asyik mengobrol dengan Tante Ani, tetangga sebelah. Menjelang magrib, kala urusan rumah tangga sudah diselesaikan semua, Ibu Lupus sering duduk-duduk di taman mengobrol dengan tetangga sambil minum teh. Bapaknya sih jarang ikutan nimbrung. Kerjaannya sepulang kantor tidur melulu.
“Dulu anak saya si Lulu, suka sekali menghisap jempolnya, jeng. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” ucap ibu Lupus sambil menuangkan Teh buat tante Ani. Lupus yang bandel, sempat juga menguping dari balik pohon angsoka.
“O, ya? Bagaimana cara mengatasinya jeng?”
“Mudah saja, Jeng. Jempolnya, suka saya beri yang pahit-pahit. Jamu, misalnya.”
“Lalu, setelah itu bagaimana reaksinya, jeng?”
“Sekarang, ia mengisapi jari kelikingnya...”
hihihi... Lupus tak bisa menahan ketawanya. Ini jelas membuat ibu Lupus berang. “Hayo, Lupus! Sudah berapa kali Ibu bilang, jangan suka mencuri dengar pembicaraan orang tua!”
Lupus keluar sambil tertawa-tawa kecil.
Dan dia segera bilang ke ibunya bahwa besok ia diundang ke ulang tahun Pepno.
“Ulang tahun yang keberapa?” tanya Ibu.
Wah, keberapa, ya? Lupus bingung. Soalnya dia tak tanya tadi. “Eeeng... suit sepentin kali, Bu!”
Ah, masa sweet seventeen? Ibunya tak percaya. Ibunya berkata, kalau tak salah Pepno lahir berbarengan dengan pohon pisang yang ditanam Bapak dikebun belakang.
“Wah, jadi si Pepno sudah tua dong, Bu,” ujar Lupus heran. Ya, karena pohon pisang yang dimaksud Ibu itu sudah reot. Pelepah pisangnya sudah berwarna coklat. Disentil juga roboh.
“Pepno lain dong dengan pohon pisang. Pohon pisang memang cepat besar dan tua. Tapi Pepno kan tidak,” jelas ibunya.
“Oo... mungkin karena Pepno jarang disiram dan diberi pupuk ya, Bu?” simpul Lupus.
Yah, mungkin sekarang Pepno umurnya sama dengan Lupus. Tujuh tahun. Sekarang, Lupus pun mengira-ngira, kado apa yang cocok buat Pepno.
“Eh, gimana, Bu, kalo beli buku tulis saja kadonya Pepno?” usul Lupus.
“Ah, jangan. Itu terlalu murah. Lebih baik potlot aja!”
Tapi ternyata Pepno tidak cuma mengundang Lupus. Lulu pun sudah diberi tahu. Pepno juga berpesan agar Lulu membawa kado.
Lulu mengusulkan agar Pepno diberi boneka saja.
Lupus jelas menolak. “Pepno kan anak laki-laki. Mana mau dia diberi boneka?”
“kalo dia nggak mau, kan bica buat Lulu aja.”
Pertengkaran Lupus dan Lulu sebetulnya bakalan seru. Tapi Ibu buru-buru melerai. Ibu cuma mau membelikan satu kado saja. Dan akhirnya diputuskan, Pepno akan dibelikan pistol-pistolan air saja.
***
sorenya pistol-pistolan air yang cukup unik itu siap dibungkus. Sebelum dilapisi kertas kado yang cantik, Ibu membungkusnya dengan beberapa kertas koran.
“Kenapa mesti begitu, Bu?” tanya Lupus.
“Biar keliatan besar. Nanti kan Pepnonya senang.”
Pistol-pistolan air itu memang jadi keliatan besar sekarang. Apalagi setelah dibungkus kertas kado yang bermotifkan warna-warni. Jadi kelihatan tambah cantik. Wah, si Pepno pasti senang.
Tapi, astaga! Pistol-pistolan air ini belum dicoba. Lupus cemas. Ya, bagaimana kalau ternyata pistol-pistolan air ini macet? Bisa malu dong. Kok ngasih hadiah nggak bisa dipakai?
Maka diam-diam Lupus pun membuka kado yang sudah terbungkus rapi itu. Gulungan koran yang membuatnya gemuk, kini berserakan dilantai. Lupus tak peduli. Yang penting pistol ini mesti dicoba dulu.
Setelah dibuka, pistol itu diisi air. Dan ditembakkan ke arah pot-pot bunga. Kadang-kadang, rambutnya pun dibasahi oleh pistol-pistolannya itu. Lupus senang, berarti pitol mainan ini tidak macet.
Lagi asyik-asyiknya mencoba, Ibu datang. Ibu habis membeli pita. Untuk kado dan untuk rambutnya Lulu. Biar kedua-duanya cantik.
Jelas saja Ibu mengomel melihat ulah Lupus.
“Aduh, Lupus. Kenapa kadonya dibuka begitu?”
“Habis tadi belum dicoba, Bu. Lupus khawatir kalo pistol-pistolan ini macet.”
Ibu akhirnya membungkus kado itu lagi. Cuma kali ini ditambahi pita biar cantik. Kado ini ternyata tidak mau kalah saingan dengan rambut Lulu yang senantiasa berpita. Lupus pun ikut-ikutan minta dipakaikan pita. Tapi Ibu melarang. Lupus nekat. Ia mengambil kaset dan mengeluarkan pitanya yang panjang. Kemudian digulungkan ke rambutnya. Lupus ternyata juga tak mau kalah saingan.
“Hihihi... pitaku lebih panjang!”
***
Sore itu di rumah Pepni sudah ramai. Banyak juga temannya yang datang. Pepno memang mengundang semua teman-teman mainnya.
Rumahnya sendiri tampak semarak. Dihiasi balon-balon, kertas warna-warni, dan juga kue tart besar berlilin tujuh yang begitu menarik perhatian Lupus.
Pepno memakai baju baru. Warnanya merah, dan dimasukkan ke dalam celana panjangnya yang baru. Pepno jadi kelihatan ganteng. Kayak sekoteng.
Tapi perhatian Lupus tetap tak lepas dari kue tart besar yang dilapisi coklat itu. Oi, pasti enak sekali rasanya. Lebih enak dari kue bikinan Ibu. Ah, mudah-mudahan saja kue itu tidak hanya sekedar buat pajangan.
Selanjutnya acara dibuka dengan menyanyi-nyanyi bersama. Sambil bertepuk tangan meriah. Kadang anak-anak bernyanyi saling adu cepat. Mungkin dengan harapan yang duluan selesai nyanyi segera mendapat potongan kue tart.
Kemudian disusul dengan acara-acara menarik. Diantaranya seperti mengoper gelas yang diisi air, sambil diiringi musik. Bila gelas itu berada di tangan seorang anak dan bersamaan dengan matinya musik, berarti anak tadi mendapatkan hukuman. Boleh nyanyi, boleh baca puisi. Boleh juga berjoget sepuas hati.
Mereka kelihatan suka dengan permainan itu. Kecuali Lupus. Ia cuma berharap agar jadwal pemotongan kue tart itu dipercepat saja. Rasanya lezatnya kue itu sudah sampai di lidah saja. Oi, pasti enak sekali. Lupus sama sekali tidak memperhatikan permainan oper-mengoper gelas. Maka ketika ia mendapat gelas berisi air yang semestinya diserahkan ke teman sebelah, Lupus malah memium airnya.
Anak-anak pada terheran-heran.
Lupus pun terpaksa dihukum. Pilihan hukumannya, baca puisi.
Tanpa ragu, Lupus pun membacakan puisi karya sendiri,
“ di laut sudah pasti ada air
di air belum tentu ada laut
di rumah sudah pasti ada pintu
di pintu belum tentu ada rumah
di meja sudah pasti ada sepotong kue
san kuenya belum tentu dipotong....”
Anak-anak bertepuk riuh. Akhirnya saa yang mendebarkan bagi Lupus pun tiba, Pepno memotong kue tartnya menjadi beberapa bagian. Potongan pertama untuk maminya, kedua untuk papinya, ketiga untuk adiknya. Keempat untuk kakaknya, kelima untuk neneknya. Keenam untuk kakeknya...
“Lha, untuk saya mana,ya? Pikir Lupus cemas.
Lupus khawatir kalau-kalau kue itu memang buat keluarga Pepno saja. Wah, bisa gawat nih! Lupus sebel, kenapa tuan rumah kadang cuma menyediakan kue yang mahal-mahal untuk pajangan saja? Bukan untuk dibagikan pada tamunya.
Tapi ternyata dugaan Lupus meleset. Kue tart itu juga dibagikan kepada teman-teman yang lain. Tentu termasuk Lupus. Lupus mendapatkan bagian yang lebih besar. Karena baca puisinya bagus. Lupus sangat girang sekali. Dia memakan sedikit demi sedikit. “Biar enaknya lama.”
Tapi kapan ya, bisa makan kue enak lagi? Lupus pun merenungi. Hingga kemudian dia bangkit menghampiri maminya Pepno dan membisiki, “Tante, bagaimana kalo ulang tahunnya Pepno tiap seminggu sekali aja, Tante?”
Selasa, 06 November 2012
Kue Hari Minggu-Lupus Kecil
3. Kue Hari Minggu
Hari minggu memang hari yang ditunggu-tunggu. Oleh siapa saja. Terutama oleh anak-anak sekolah. Sebab hari minggu merupakan hari libur yang menyenangkan. Hari yang bisa diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Seharian bermain di lapangan bola, atau piknik ke taman hiburan. Bagi anak yang belum sekolah, hari minggu mungkin terasa sama dengan hari-hari lainnya. Sebab mereka tek punya hari libur. Kasihan, ya?
Bagi Lupus, tentu saja hari minggu juga merupakan hari yang istimewa. Selain bisa bermain sepuas-puasnya, di hari minggu Ibu Lupus tak bosan-bosannya praktek bikin kue. Ibu Lupus memang paling suka mencobai resep-resep makanan yang ada di majalah-majalah, koran-koran, atau di buku. Semua resep rasanya pernah dicoba, kecuali resep dari dokter.
Lupus sering juga membantu ibunya membuat kue-kue itu. Tapi Ibu tidak suka dibantu Lupus. Ibu biasanya lebih mengharapkan agar Lupus menunggu saja di dipan daripada ikut-ikutan membantu didapur. Ya, sebab dengan seringnya Lupus membantu, maka sering pula kue hasil praktik Ibu tidak jadi. Adonan yang sudah betul dan siap dimasak, kadang-kadang diaduk kembali oleh Lupus. Tidak dengan sendok atau garpu, tapi dengan tangannya. Ibu terang marah-marah. Resep yang telah dipelajari semalam dirusak oleh tangan mungil si Lupus yang nakal. Atau kue yang berbentuk kupu-kupu, tiba-tiba diterbangkan oleh Lupus. Atau kue yang berbentuk kucing-kucingan yang mungil, oleh Lupus tidak boleh ditaruh di oven. Lupus nggak tega. Kasihan, katanya. Kalo sudah begitu Lupus langsung diusir secara paksa oleh ibunya dari dapur.
Hari minggu inim seperti hari minggu lainnya, sejak pagi Lupussudah tak sabaran menunggu kue hasil eksperimen ibunya itu. Tapi Lupus tak berani lagi ikut-ikutan nimbrung di dapur. Cuma sesekali saja mengintip Ibu dari jendela dapur. Dan kamu semua kan tau, menunggu sesuatu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan. Makanya, daripada duduk dengan gelisah di dipan dekat dapur. Lupus lebih baik jalan-jalan keluar sebentar. Cari kesibukan.
Di depan, tak ada anak-anak yang sedang bermain. Tetangga kanan-kiri rupanya lagi pada asyik berlibur ke luar. Mungkin ke kebun binatang, mungkin ke pantai.
Lupus pun bermain-main sendirian.
Sedang asyik-asyiknya bermain, sebuah becak berani berhenti tepat di dekat Lupus. Penumpangnya turun, seorang laki-laki setengah baya. Dia mengucapkan salam kepada Lupus.
Lupus berdiri.
“Permisi, dik. Numpang tanya. Jalan ke rumah Pak Bambang ke mana, Dik?”
Lupus berpikir sejenak, lalu dengan nada yakin, dia berkata,” Lurus saja, ikuti jalan ini. Kalo ada belokan ke kiri, belok aja, Pak. Dan kalo ada belokan ke kanan, juga belok!”
laki-laki itu mengerutkan dahi. “Lho, yang betul lewat mana?”
“Kan Bapak sudah besar. Sudah tau mana yang betul dan mana yang salah. Masa gitu aja nggak tau....”
Laki-laki itu pun pergi dengan wajah bingung.
Bosan bermain-main di depan. Lupus pun masuk kembali ke dalam rumah. Tapi ternyata ibunya masih belum belum selesai membuat kue. Uh, kok lama sekali, ya? Biasanya nggak gini-gini amat?
Lupus memang tak tau kalo ibunya di dapur tenga dalam kesulitan menerjemahkan resep kue yang berbahasa perancis. Ibu Lupus sedang menduga-duga, apa kalo bikin kue Prancis garamnya harus garam Prancis, bukan garam Inggris?
Yah, sebetulnya Ibu Lupus memang tak pernah mengerti bahasa Perancis. Tapi lantaran seluruh resep yang ada sudah pernah dicoba. Maka Ibu nekat membeli buku resep masakan berbahasa Perancis. Akibatnya, ya itu tadi. Selain kebingungan masalah garam, Ibu juga kurang mengerti takaran tepungnya, takaran mentega, telornya berapa, di goreng atau direbus, hamoir semua nggak ngerti. Cuma tau gambarnya saja.
Ya, Lupus memang tak tau itu.
Dia pun menghampiri adiknya yang sedang asyik bermain boneka barbie. Lucu-lucu deh. Ada rumah-rumahannya, ada tempat tidurnya, ada mobilnya. Semua serba mungil. Tapi ternyata Lulu belum punya jam-jaman barbie, makanya dia memakai jam betulan.
Melihat Lupus datang, Lulu yang sedang mengutak-atik jam dinding, langsung bertanya, “ Kakm kalo jalum pendeknya ke angka cepuluh, dan jalum panjangnya ke angka dua belats, itu apa tuh, Kak?”
“Lagi nggak kompak, 'kali, Hiihihii...”
Lulu tertawa. “Idih, Kakak ngaco...”
“Ibu juga ngaco, Lu. Masa bikin kue dari tadi nggak jadi-jadi, ya?”
Lulu tak menjawab. Kembali asyik mengutak-atik isi kulkas mungilnya. Di dalamnya ada telur, pisang, botol susu, buah-buahan...
“Lu, kali ini pasti Ibu menyajikan kue yang paling enak. Sebab udah siang begini, kuenya belum jadi juga. Mungkin persiapannya lebih matang lagi, ya, Lu?”
Lulu cuma mengangguk.
Lupus pun tiduran di dekat Lulu. Hihihihi...
saking laparnya, perutnya sampai bunyi. Lupus memang sengaja tidak sarapan tadi pagi. Dia memang penasaran dengan kue bikinan ibunya itu. Lupus berniat ingin makan kue sebanyak-banyaknya.
Lagi asyik membayangkan, tiba-tiba tercium bau sesuatu.
“eh, Lu. Apa kamu nggak nyium bau kue itu? Hm... Lezatnya...” Lupus mendengus-denguskan hidungnya.
“Kue yang mana, Kak? Yang barucan itu Lulu abis buang angin, Kak,” jawab Lulu pelan.
Lupus kaget.
Sementara ibunya terus berkutet dengan resep Prancis-nya itu. Aduh, sampai berkeringat. Tapi Ibu pantang putus asa. Mesti dicari jalan keluarnya, pikir ibu Lupus. Kemudian dia masuk ke ruang kerja Bapak. Mengambil kamus perancis. Diartikan kata demi kata. Akhirnya disimpulkan. Bahwa untuk minggu ini, kue terpaksa harus beli dari pasar. Hihihi...
Ya, selanjutnya Ibu Lupus diam-diam lewat pintu belakang menuju pasar. Dia tak mau melukai hati anaknya, yang setia sejak pagi tetap menanti. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada kue perancis, beli di pasar pun jadi!
Sementara itu, di luar ada tamu ingin bertemu dengan ibu Lupus.
“Permisi ya, Nak. Ibu ada?” tanya tamu itu pada Lupus.
“Oh, ada. Tapi beliau tak bisa diganggu gugat. Sebab sedang sibuk. Saya yang anaknya saja tidak boleh bertemu kok. Atau besok saja, ya, Pak?” kata Lupus.
“Ini penting sekali, Nak. Sebentar saja,” ujar tamu itu.
“Bagaimana ya, Pak. Sepertinya sih tak bisa,” jawab Lupus lagi. “Atau jangan-jangan kedatangan bapak ini cuma ingin mencicipi kue bikinan Ibu, ya? Wah, boleh-boleh saja kok. Tapi jangan lebih dari dua potong, ya? Bapak kan sudah besar, jadi tak usah banyak-banyak, ya? Saya yang masih kecil ini yang harus diberi kesempatan makan kue banyak-banyak. Biar cepet besar.
“Eh, tapi kue itu sekarang belum matang, Pak. Bagaimana kalo Bapak pulang saja dulu. Dan bila sudah matang, saya beri kabar. Setuju?”
Tamu itu bengong.
“Oh, Bapak tak mau diberi dua potong, ya? Kalo begitu ditambah deh, Pak. Bagaimana kalo dua seperempat potong? Mau dong, ya?”
Tamu itu tak menjawab. Malah ngeloyor pergi.
“Huh, ditawari kue nggak mau. Payah!” umpat Lupus.
Tak lama kemudian ibu Lupus keluar sambil membawa sepiring kue yang habis dibelinya di pasar. Lupus gembira sekali. Sebelum mengambil kueikue yang terbungkus rapi itu, dia mencium pipi ibunya kanan-kiri. “Lupus salut deh sama Ibu. Kue-kue ini pasti sangat enak. Ibu memang jago kalo bikin kue.”
Lupus langsung mencomot tiga. Satu dimasukkan dimulut, satunya ke kantong dan satunya lagi dipegang di genggamannya. Dalam waktu sekejap, ketiga kue itu sudah ludes masuk ke perutnya.
“Lupus betul-betul nggak nyangka, kue ini begini enak. Bahkan paling enak dibanding kue-kue yang Ibu bikin sebelumnya. Tak seperti minggu lalu. Rasanya enak tapi lengket. Atau minggu sebelumnya, yang keras dan bila digigit harus ditarik pake tali supaya putus.
“kali ini betul-betul luar biasa. Gimana Minggu besok, Ibu bikin kue yang seperti ini lagi, Bu?”
Ibu Lupus cuma mengangguk lemak.
Senin, 05 November 2012
2. Baca Berita - Lupus Kecil
-->
2. Baca Berita
Sore hari biasanya saat
yang paling menyenangkan buat anak-anak. Saat sengatan matahari mulai
mereda dan angin bertiup sejuk. Tapi yang paling penting, pada saat
seperti itu, tukang-tukang bakso, simai, es dong-dong mulai
menampakkan batang hidungnya. Mulai berteriak-teriak ribut menjajakan
dagangannya, mulai menyemarakan suasana senja.
Dan pada saat itu pun
biasanya anak-anak manis baru terjaga dari tidur siang. Mengucek-ucek
mata dan menyambut kicauan tukang bakso dari balik jendela.
“neeeeng, bakso,
neeeng. Selagi ada, selagi ada. Soalnya abang hanya lewat sebulan
sekali. Itu juga kalo nanti Abang masih punya modal buat jualan. Ayo,
selagi ada...,” sambutan tukang bakso begitu hangat, ketika
ana-anak manis mulai menampakkan batang hidungnya dari balik gorden.
Sebagian anak memang ada
yang hobi jajan bakso, siomai, atau es dong-dong. Tapi sebagian lagi
ada yang langsung berlari-lari ke lapangan bola. Bermain
kejar-kejaran atau petak umpet.
Tapi lupus suka bosan
bermain-main di luar. Sore hari begini, dia paling suka mendengarkan
siaran radio. Biasanya saat radio menyiarkan lagu untuk anak. Tapi
tak selalu lagu anak-anak, lagu dang-dut pun lupus suka. Suka
ikut-ikutan berdendang sambil goyang-goyang pinggul.
Bagi Lupus, paling asyik
mendengarkan radio sambil tidur-tiduran di kolong mesing jahit.
Sambil menempelkan radio ditelinganya. Katanya, dengan begitu dia
bisa lebih akrab dengan penyiar dan penyanyinya.
Dan sore itu, acara
seperti biasa dibuka dengan salam perjumpaan dari sang penyiar”
Selamat Sore, adik adik manis. Selamat sore berjumpa lagi dengan Kak
Wita. Di sini Radio Republik Indonesia...”
“Eh, bukan,” sambar
Lupus cepat. “ Di sini radio saya, enak aja.”
sang penyiar cuek, terus
aja ngomong “ Sore ini pasti adik-adik sudah mandi semua. Siap
dengarkan lagunya, ya?”
“eh Lulu. Kamu nggak
ikutan denger. Sebab kamu belum mandi,” sergah Lupus lagi. Lulu
bengong, sambil ngeluyur ke belakang.
“Dan setelah mandi
nanti, kamu juga belum tentu boleh mendengarkan siaran radio. Soalnya
tadi kamu nggak ikut patungan buat beli batu batere,” Lanjut Lupus.
Radio, bagi Lupus memang
sebagai hiburan yang menyenangkan. Bentuknya kecil, tapi bisa membuat
banyak suara orang di dalamnya. Ada suara anak-anak, ibu-ibu, dan
suara kakek-nenek juga ada. Ini yang membuat Lupus tambah geregetan.
Pernah sekali, karena
saking penasarannya, Lupus mengintip kedalam radio itu, sambil
berharap agar bisa melihat orangnya. Atau kemudian mengocok-ngocoknya
supaya orangnya bisa jatuh keluar.
Dan malam ini, Lupus
memang lagi penasaran sekali. O ya, perlu kalian ketahui, meski masih
kecil, tapi Lupus itu sebetulnya paling suka mendengarkan siaran
berita di radio. Namun nampaknya kini dia belum mendapatkan siaran
itu. Padahal diia sudah mengubah gelombang dari ujung ke ujung. Dia
sempat bertanya kepada Lulu, yang dijawab dengan gelengan kepala.
Lupus kesal. Di tepuk-tepuknya radio itu. Lupus berpikir, barangkali
penyiarnya ketiduran atau sudah tak mau lagi membacakan berita di
radio Lupus. Lupus pernah menyuruh Ibu agar membuatkan minuman untuk
pembaca berita di radionya. Dia khawatir penyiarnya itu kehausan.
Tapi ibu sampai sekarang belum pernah melayani. Lupus kasihan kalau
pembaca berita sampai terbatuk-batuk, kala membacakan beritanya.
Siaran berita belum juga
ditemukan. Lupus makin penasaran. Dia tahu, saat itu baru pukul
setengah tujuh malam. Dan sebetulnya siaran berita akan bisa didengar
pukul tujuh malam. Tapi dasar Lupus, menganggap itu cuma alasan
penyiar saja. “Mentang-mentang radioku sudah agak jelek, jadi si
penyiar itu nggak mau lagi singgah untuk membacakan berita di sini,”
gerutu Lupus.
Lupus tambah jengkel,
kemudian membuka tutup radio itu. Tentu saja setelah sebelumnya tak
lupa mengocok-ngocoknya dulu. Ditariknya kabel-kabel yang
berseliweran dalam radio itu. Kali-kali aja si penyiar bersembunyi di
sini. Lalu dicongkelnya peralatan radio itu, hingga membuat isi radio
berantakan. Lulu yang tadinya tak begitu memperhatikan, kini
ikut-ikutan merusak dan sesekali menginjak-injak badan radio.
Kini radio itu sudah tak
jelas lagi bentuknya. Tapi Lupus puas. Biar pembaca siran berita itu
tak datang lagi ke sini. Rupanya Lupus mengajak marahan dengan sang
penyiar. Lulu Lupus mengamit lengan adiknya, sambil berkata,” Lu,
kamu mau mendengarkan berita, yak? Kak Lupus juga bisa kok. Sebentar,
ya?” kak Lupus sambil berlari ke belakang mengambil corong minyak.
Corong tadi diletakkan di
depannya, dan Lupus duduk bersila, di depannya juga ada setumpuk
kertas yang ia dapatkan dari mana-mana. Sedang Lulu memperhatikan
kakaknya dengan senang.
“Lu, kamu mesti
menyetel lebih dulu, sebelum bisa mendengarkan siaran berita.” kata
Lupus. “ dan sekarang kamu nggak usah repot-repot muter gelombang
radio.”
lalu lantas memegang
jempol kaki Lupus dan memutarnya sedikit, terus ngomong, “ Tel...
gitu ya, Kak?”
dengan suara dibertkan,
Lupus mumali bergaya, “Selamat malam, saudara-saudara. Di sini
siaran berita. Dan radionya siaran langsung. Yang tidak dengar pasti
rugi,” kata Lupus.
“Cayang, Ibu cama Bapak
belum pulang, ya? Kalau tau pacti cenang,” kata Lulu tiba-tiba.
Lupus acuh saja, dan
terus ngomong, “Berita-berita tidak penting. Seorang ibu dan
anaknya kemarin sore telah berhasil menyebrang jalan dengan selamat.”
kata Lupus mulai baca berita sambil diselilingi batuk-batuk kecil,
“Uhuk-uhuk!”
“Yaaa... Kak. Macak
belita tidak penting?” protes Lulu heran.
“ini kan radio siaran
langsung, jadi beritanya lain dong dengan di radio biasa,” kata
Lupus sambil melototi Lulu. Maksudnya jangan terus diajak bicara.
“Awas, Lu, kalo nanya lagi.”
“Maaf, Saudara-saudara.
Tadi ada sedikit gangguan teknis. Sekarang dilanjutkan lagi, ya?”
Lupus minta maaf sama pendengar yang lain. Eh, saat itu ada juga lho
pendengar lain selain Lulu. Ada cecak, kecoak, empat ekor nyamuk,
seekor kucing, dan dua boneka Lulu. Jadi Lupus merasa perlu untuk
minta maaf.
“ Di stadion utama
Senayan, sejak kemarin sore hingga tadi pagi tidak ada yang bermain
sepak bola, hingga saya tidak tahu berapa golnya dan siapa wasitnya.”
Lupus Mulai lagi, dan betul-betul tidak penting. Lupus memang pintar
menghibur adiknya. Lulu sudah kepingin ketawa, tapi takut ditegur.
Jadi Lulu mau tak mau mesti menutup mulutnya, biar nggak berisik.
“sementara itu,
kebakaran besar sampai sekarang masih belum terjadi, hingga tidak
dapat diketahui berapa jumlah korban yang jatuh dan jumlah kerugian
yang diderita.”
Lupus lalu membalikkan
kertasnya sambil memandang ke arah pemirsa.
“saudara-saudara yang
manis, sekarang berita olahraga, ya?” Lupus menawarkan. Tapi tidak
ada jawaban. Lulu pun tidak berani bilang apa-apa. Takut dimarahin.
Lalu Lupus ngomong, “Kalo diam saja berarti ya.”
“Ini berita olahraga
tidak penting,” kata Lupus. “kolam renang Senayan pada sore hari
mulai dikuras dan siisi kembali pada pagi harinya. Siangnya baru
boleh direnangi.
“seorang perenang
loncat indah, ketika meloncat tidak berani nongol dari kolam renang.
Sebab ketika ia sudah meloncat ke kolam, celananya tertinggal di
atas!”
Lulu setengah mati
menahan tawanya, hahaha...! tapi ia lupa menutup mulutnya.
“Nah, Sekarang acara
siaran berita sudah habis. Saudara-saudara, kini kita masuki acara
Taman Indira bersama Bu Kasur. Aduuuh, tapi sayang sekali, acara ini
tidak dapat disiarkan, lantaran kasurnya masih dijemur. Maaf, ya?
Lebih baik diganti dengan acara Gemar menggampar... Aduuuh, salah
lagi. Maksud kami, Gemar Menggambar. Bersama Pak Tino Sidin. Sekali
lagi mohon maag, saudara-saudara, sebab Pak Tino Sidin-nya belum
datang, karena ban mobilnya kempes. Tapi beliau kirim salam,
“bagus... bagus...,” katanya.
“tapi jangan kecewa.
Masih ada satu acara lagi, yaitu Ayo bernyanyi bersama bufet. Eh,
maaf, maksud kami Bu Fat. Bu Fat akan mengajak bernyanyi bersama-sama
dengan iringan hansip. Biasanya sih diiringi piano, tapi karena
pianonya lagi rusak, terpaksa deh, hansip. Jreng...”
Lupus langusng bernyanyi
Satu-satu Aku Sayang Ibu.
“Ya, terima kasih atas
perhatian Saudara-saudara. Bagi penduduk yang berada di wilayah
Indonesia Timur, ya semoga baik-baik saja. Jangan suka berantem.
Besok siaran lagi kok. Dan bagi penduduk di wilayah Indonesia Barat,
lebih baik ke timur aja. Di sana masih kosong kok. Enak lho, di sana
di kasih tanah dua hektar, rumah pacul. Eh, tapi jangan lupa ya
dengerin siaran radio saya...”
Tepat pada saat Lupus
mengakhiri siaran beritanya, terdengar suara bel tamu berdentang.
“Ibu pulaaaang...,”
teriak Lulu menyonsong ke depan. Tapi Lupus tetap duduk di tempatnya,
sampai kedua orang tuanya mucul dari depan.
“Aduh, Lupus! Apa-apaan
ini? Kenapa radio Bapak jadi berantakan begini,” seru bapaknya
ketika melihat radionya tergeletak tak berbentuk di lantai. “ Pasti
kamu yang merusaknya, ya? Ayo kemari!!!”
“Saudara-saudara,”
lanjut Lupus tenang, “ini baru berita penting...”
Minggu, 04 November 2012
Dapet Kamar Baru-Lupus Kecil
1. Dapat Kamar Baru
Lupus kecil sudah merasa
besar. Ia ingin punya kamar sendiri. Tidak lagi disatukan sama Ibu
dan Bapak disebuah kamar besar di pusat rumah. Tidak lagi
bersebelahan dengan ranjang Lulu yang bentuknya mirip rumah boneka.
Itu bagus, kata bapak.
Seorang anak, apalagi laki-laki, memang harus tidur terpisah dari
orang tua. Belajar berani. Belajar mandiri, mengatur kamarnya
sendiri. Dan ibu pun mengabulkan permintaan Lupus. Di rumah Lupus
memang masih tersisa beberapa kamar kosong, yang biasa untuk menaruh
barang-barang atau menerima saudara yang menginap.
Lupus jelas girang,
permintaanya dituruti. Diledeknya Luku yang juga ingin dapat kamar
sendiri, tapi tak diizinkan Ibu. Alasannya, di samping masih terlalu
kecil, Lulu suka mengigau kalau malam. Suka kepingin pipis. Lupus
merasa senang, lantas senang. Lulu cuma diam saja dicibiri Lupus.
Maka seharian itu, Lupus
sibuk menata kamarnya. Rak buku yang baru dibelikan kayaknya jadi
pusat perhatian Lupus. Sebab Lupus punya koleksi buku cerita yang
banyak itu agak bingung, dimana dia meletakkan robot-robotan dan
mobil-mobilannya? Soalnya mereka-mereka itu belum kebagian tempat.
Setelah
ditimbang-timbang, akhirnya Lupus memilih semuanya, robot, mobil, dan
buku sama pentingnya. Lagi pula robot-robot itu nanti tak bakal
kesepian, dia bisa baca buku cerita Lupus, kalau lagi iseng.
Maka setelah urusan rak
buku selesai, Lupus kembali mengatur letak tempat tidur, letak kipas
angin, letak meja belajar, dan lemari pakaian. Bagaimana agar semua
bisa masuk, dan terletak manis dikamarnya. Mang Unang, yang suka
memotong rumput itu, ikut membantu menggotong-gotong. Uhm ternyata
mengatur kamar sendiri itu mengasyikkan. Lupus sampai lupa makan
siang, kalau tidak lekas-lekas diingatkan Ibunya. “Sudahlah, Pus.
Nanti bisa diteruskan, dan sekarang kamu makan siang dulu.”
Ibu Lupus memang orang
yang baik hati. Tapi menurut Lupus, ibunya termasuk ibu yang lucu
juga, walau kalau lagi marah tampangnya galak sekali. Ibu Lupus
bersama ibu-ibu tetangga lainya, suka ikut kegiatan semacam Dharma
Wanita. Lupus sendiri kurang begitu tau, apa nama kegiatan itu
sebenarnya. Pokoknya, mereka suka mengadakan kumpul-kumpul, seminar
menjadi ibu yang baik, atau sekedar mengobrol. Kegiatan itu biasanya
berpusat dibalai pertemuan, dekat lapangan tenis.
Kalau lagi iseng, sambil
nonton Bapak main tenis, Lupus suka mengintip ibunya yang ikut
seminar. Pernah Lupus mendengar ada suatu pertanyaan yang diajukan
oleh ibu pembina, “ibu-ibu sekalian, apa yang harus Ibu-ibu lakukan
bila mengetahui anak Ibu secara teratur mencuri uang dari anggaran
rumah tangga?”
sejenak ruangan balai
pertemuan hening.
Tapi tiba-tiba Ibu Lupus
menjawab lantang, “ Kita curi lagi uang jajannya!”
Ibu pembina pun
terheran-heran, sedang Lupus tertawa terpingkal-pingkal di luar.
Tapi menurut Lupus, ada
untungnya juga Ibu ikut perkumpulan seperti itu. Paling tidak, Lupus
pernah mendengar pesan yang disampaikan kepada ibu-ibu: harus memberi
kebebasan bermain bagi sang anak. Bahwa bermain-main bukanlah hal
yang” mewah”, melaikan keharusan yang mutlak bagi anak-anak.
Makanya Ibu selalu
memberi pekuang lebar-lebar bagi Lupus untuk bermain. Tapi sayangnya,
Lupus suka terlalu sore pulang ke rumah.
Saking penasarannya,
suatu waktu Ibu Lupus bertanya pada Lupus. “ Sebetulnya kamu itu
main apa sih sampe sore begini baru pulang?”
“main yang jauuuh
sekali...,” jawab Lupus sambil ngeloyor ke kamar mandi. Hihiihi.
Dia takut kena jewer.
Tapi itulah. Pada
dasarnya, ibu lupus memang ibu yang baik. Tiap sore, masih
menyempatkan diri minum the dan kue bersama bapak, Lupus, dan si
mungil Lulu. Saat sore itu, biasanya mereka bercerita-cerita kejadian
yang dialami siangnya. Biasanya mulai dari Lulu, “ Bu, Kak Luputs
celalu kalah dong kalo main halma cama Lulu.”
“O ya? Memangnya kamu
sudah bisa melangkahkan biji-biji halma itu?”
“Bica, Bu. Kalo kak
Luputs cudah memulai langkahnya, keltats halma itu langsung Lulu
balik aja. Jadinya Kak Luputs kalah, kan, Bu?”
Ibunya tertawa, sambil
menguap lebar. Uaaah, hari yang melelahkan.
Bapak Lupus juga termasuk
bapak yang baik. Tapi yang paling menyebalkan bagi Lupus, bapaknya
ini orangnya pelit sekali. Jarang mau beroyal-ria memberi uang jajan
kepada Lupus. Pernah Lupus mau ikut acara piknik di sekolahnya, dan
ia minta tambahan uang jajan ke bapak sambil sebelumnya berbaik hati
dulu memijat kaki bapak. Tapi setelah capek memijit, dengan entengnya
Bapak berkata, “ Tambahan jajan? Seratus perak cukup, kan?”
Idih Bapak. Seratus perak
sih buatr beli roti kecil juga pas-pasan. Kan rencananya Lupus mau
beli oleh-oleh, jajan es krim, beli kue, wah... macam-macam deh.
Tapi bapak tak memberi.
Alasannya jangan jajan sembarangan. Nanti sakit perut. Bawa aja bekal
nasi goreng dari rumah. Kan beres.
Lupus pun
bersungut-sungut, dan ngambek nggak mau mijit kaki Bapaknya seminggu
penuh.
Tapi sore ini Lupus sudah
baikan lagi. Gara-gara dikasih kamar baru. Lulu yang tak dapat kamar,
dari tadi diledek terus sama Lupus. Tapi Lulu pura-pura tak
mendengar. Dia masih asyik bercinta ke Ibunya.
“Bu, Lulu tadi abis
dali luma Lita, dong. Di cana, main lompat-lompatan. U, celu deh.
Lita campe jatoh, kakinya beldalah, teluts dikacih obat melah. Tapi
Lita main lagi. Lulu juga dikacih bubul kacang ijo cama maminya Lita.
Enak lho, Bu. Manits. Anak-anak pada belebutan. E, Loni mukanya kena
bubul, Bu. Dia nangits. Semua diomelin mami Lita. Iiih, maca Ibu
tidul, cih? Lulu cebel... cebel... cebel...”
Olala. Rupanya saking
capeknya mendengar cerita Lulu, ibu Lupus tertidur. Bapak dan Lupus
juga. Suara dengkur tidur mereka saling bersahutan mesra.
Dan sekarang hari sudah
gelap. Meski acara televisi belum habis, tetapi sudah dimatikan dari
tadi. Hari ini, rupanya semua merasa letih. Merasa ingin lebih awal
masuk dan terlelap tidur.
Lupus pun kini sudah
berada di kamar barunya. Ini malam pertama dia tidur sendirian.
Mula-mula biasa-biasa saja. Tapi lama-lama, suara gesekan daun diluar
yang bertiup angin, mengusik Lupus yang tak kunjung dapat memejamkan
mata.
Suara itu terdengar
mengerikan.
Untuk sekedar mengusir
takut, Lupus pun memandangi koleksi robot-robotnya. Satu demi satu.
Tapi robot-robot yang biasanya nampak bersahabat itu, kini tidak.
Sorot matanya tajam. Apalagi boneka E.T-nya. Jarinya yang merah
seakan menyala-nyalal. Bergerak-gerak.
Bulu roma Lupus mulai
berdiri satu-satu. Ia semakin menenggelamkan dirinya kedalam
selimutnya yang tebal. Ah, tapi apa ini? Sepertinya ada yang
mengilik-ngilik telapak kakinya.
“hiyaaa...!!!” dan
dia pun melonjak kaget ketika salah satu robot-robotannya jatuh dari
atas rak. Ia langsung terbirit-birit berlari ke luar kamar.
Lalu dengan
mengendap-endap, masuk ke kama Ibu-Bapaknya yang tak terkunci.
Pelan-pelan, ia naik ke atas tempat tidur Lulu yang mungil. Lalu
tidur melingkar dibawah kaki Lulu.
Lulu yang ternyata belum
tidur, tak bisa menahan cekikikannya. Ia pun tertawa cekikikan.
Hihihihi... makanya kalo penakut jangan sok tau...
***
Langganan:
Postingan (Atom)
