4. Ulang Tahun
Ada seorang teman Lupus.
Namanya Pepno SH. Anaknya masih kecil. Sekecil Lupus. Badannya rada
kurus. Berkulit hita,, dan berambut agak ikal. Kalau habis
berlari-larian, ujung hidungnya suka berkeringat. Seperti empun di
pagi hari.
Lupus sering bermain-main
dengan dia.
Seperti juga kamu, Lupus
pertama heran. Kenapa si Pepno ini kecil-kecil sudah punya gelar
gelar SH? Nggak taunya itu nama bapaknya Simin Harjo, yang biasa
disingkat SH. Hihihi.. lucu, ya?
Nah, sore tadi si Pepno
berlarian datang ke arah Lupus yang tengah bersiap-siap pergi
mengaji. Ia berbisik,” Pus, besok datang ke rumahku, ya? Aku ulang
tahun. Eh, tapi jangan lupa bawa kado dong. Biar balik modal.”
“Ulang tahun?” Lupus
bertanya heran. “Ulang tahun apa?”
Ih Lupus norak, ya? Masa
ulang tahun aja nggak tau?
Tapi kalian memang mesti
maklum kalau ternyata ada anak yang belum tau apa itu ulang tahun.
Karena di sebagian keluarga, ada yang menganggap kalau ulang tahun
itu tidak perlu dirayakan. Apalagi kalau orang tuanya pelit, seperti
bapaknya si Lupus. Merayakan ulang tahun dianggap pemborosan saja,
katanya. Makanya, Lupus nggak tau apa itu ulang tahun.
Mata Pepno yang bulat dan
lucu itu menyimpit.
“Ulang tahun apa? Ya
ulang tahun saya.” Pepno ternyata bingung juga menjawab pertanyaan
Lupus.
“Ulang tahun itu apa?”
Lupus masih belum mengerti juga. “Ulang tahun itu adalah tahun yang
diulang,” Ujar Pepno setengah ragu. Ya, habis bagaimana dia harus
menjelaskan. “Kata mama saya setiap tanggal 21 April itu ulang
tahun saya.”
“Lha? Kenapa harus
tanggal 21 April?” tanya Lupus. “Tidak tanggal 10 Nopember atau
32 januari saja?” kan tanggal 21 April hari Kartini.
“Tau tuh. Mama sukanya
tanggal 21 April sih. Gitu aja, Pus. Jangan lupa besok sore.
Dadaaah...”
“Eh, tapi dijemput,
ya?”
&&&
Pulang mengaji, Lupus
mendapatkan ibunya sedang asyik mengobrol dengan Tante Ani, tetangga
sebelah. Menjelang magrib, kala urusan rumah tangga sudah
diselesaikan semua, Ibu Lupus sering duduk-duduk di taman mengobrol
dengan tetangga sambil minum teh. Bapaknya sih jarang ikutan
nimbrung. Kerjaannya sepulang kantor tidur melulu.
“Dulu anak saya si
Lulu, suka sekali menghisap jempolnya, jeng. Tapi sekarang sudah
tidak lagi,” ucap ibu Lupus sambil menuangkan Teh buat tante Ani.
Lupus yang bandel, sempat juga menguping dari balik pohon angsoka.
“O, ya? Bagaimana cara
mengatasinya jeng?”
“Mudah saja, Jeng.
Jempolnya, suka saya beri yang pahit-pahit. Jamu, misalnya.”
“Lalu, setelah itu
bagaimana reaksinya, jeng?”
“Sekarang, ia mengisapi
jari kelikingnya...”
hihihi... Lupus tak bisa
menahan ketawanya. Ini jelas membuat ibu Lupus berang. “Hayo,
Lupus! Sudah berapa kali Ibu bilang, jangan suka mencuri dengar
pembicaraan orang tua!”
Lupus keluar sambil
tertawa-tawa kecil.
Dan dia segera bilang ke
ibunya bahwa besok ia diundang ke ulang tahun Pepno.
“Ulang tahun yang
keberapa?” tanya Ibu.
Wah, keberapa, ya? Lupus
bingung. Soalnya dia tak tanya tadi. “Eeeng... suit sepentin kali,
Bu!”
Ah, masa sweet seventeen?
Ibunya tak percaya. Ibunya berkata, kalau tak salah Pepno lahir
berbarengan dengan pohon pisang yang ditanam Bapak dikebun belakang.
“Wah, jadi si Pepno
sudah tua dong, Bu,” ujar Lupus heran. Ya, karena pohon pisang yang
dimaksud Ibu itu sudah reot. Pelepah pisangnya sudah berwarna coklat.
Disentil juga roboh.
“Pepno lain dong dengan
pohon pisang. Pohon pisang memang cepat besar dan tua. Tapi Pepno kan
tidak,” jelas ibunya.
“Oo... mungkin karena
Pepno jarang disiram dan diberi pupuk ya, Bu?” simpul Lupus.
Yah, mungkin sekarang
Pepno umurnya sama dengan Lupus. Tujuh tahun. Sekarang, Lupus pun
mengira-ngira, kado apa yang cocok buat Pepno.
“Eh, gimana, Bu, kalo
beli buku tulis saja kadonya Pepno?” usul Lupus.
“Ah, jangan. Itu
terlalu murah. Lebih baik potlot aja!”
Tapi ternyata Pepno tidak
cuma mengundang Lupus. Lulu pun sudah diberi tahu. Pepno juga
berpesan agar Lulu membawa kado.
Lulu mengusulkan agar
Pepno diberi boneka saja.
Lupus jelas menolak.
“Pepno kan anak laki-laki. Mana mau dia diberi boneka?”
“kalo dia nggak mau,
kan bica buat Lulu aja.”
Pertengkaran Lupus dan
Lulu sebetulnya bakalan seru. Tapi Ibu buru-buru melerai. Ibu cuma
mau membelikan satu kado saja. Dan akhirnya diputuskan, Pepno akan
dibelikan pistol-pistolan air saja.
***
sorenya pistol-pistolan
air yang cukup unik itu siap dibungkus. Sebelum dilapisi kertas kado
yang cantik, Ibu membungkusnya dengan beberapa kertas koran.
“Kenapa mesti begitu,
Bu?” tanya Lupus.
“Biar keliatan besar.
Nanti kan Pepnonya senang.”
Pistol-pistolan air itu
memang jadi keliatan besar sekarang. Apalagi setelah dibungkus kertas
kado yang bermotifkan warna-warni. Jadi kelihatan tambah cantik. Wah,
si Pepno pasti senang.
Tapi, astaga!
Pistol-pistolan air ini belum dicoba. Lupus cemas. Ya, bagaimana
kalau ternyata pistol-pistolan air ini macet? Bisa malu dong. Kok
ngasih hadiah nggak bisa dipakai?
Maka diam-diam Lupus pun
membuka kado yang sudah terbungkus rapi itu. Gulungan koran yang
membuatnya gemuk, kini berserakan dilantai. Lupus tak peduli. Yang
penting pistol ini mesti dicoba dulu.
Setelah dibuka, pistol
itu diisi air. Dan ditembakkan ke arah pot-pot bunga. Kadang-kadang,
rambutnya pun dibasahi oleh pistol-pistolannya itu. Lupus senang,
berarti pitol mainan ini tidak macet.
Lagi asyik-asyiknya
mencoba, Ibu datang. Ibu habis membeli pita. Untuk kado dan untuk
rambutnya Lulu. Biar kedua-duanya cantik.
Jelas saja Ibu mengomel
melihat ulah Lupus.
“Aduh, Lupus. Kenapa
kadonya dibuka begitu?”
“Habis tadi belum
dicoba, Bu. Lupus khawatir kalo pistol-pistolan ini macet.”
Ibu akhirnya membungkus
kado itu lagi. Cuma kali ini ditambahi pita biar cantik. Kado ini
ternyata tidak mau kalah saingan dengan rambut Lulu yang senantiasa
berpita. Lupus pun ikut-ikutan minta dipakaikan pita. Tapi Ibu
melarang. Lupus nekat. Ia mengambil kaset dan mengeluarkan pitanya
yang panjang. Kemudian digulungkan ke rambutnya. Lupus ternyata juga
tak mau kalah saingan.
“Hihihi... pitaku lebih
panjang!”
***
Sore itu di rumah Pepni
sudah ramai. Banyak juga temannya yang datang. Pepno memang
mengundang semua teman-teman mainnya.
Rumahnya sendiri tampak
semarak. Dihiasi balon-balon, kertas warna-warni, dan juga kue tart
besar berlilin tujuh yang begitu menarik perhatian Lupus.
Pepno memakai baju baru.
Warnanya merah, dan dimasukkan ke dalam celana panjangnya yang baru.
Pepno jadi kelihatan ganteng. Kayak sekoteng.
Tapi perhatian Lupus
tetap tak lepas dari kue tart besar yang dilapisi coklat itu. Oi,
pasti enak sekali rasanya. Lebih enak dari kue bikinan Ibu. Ah,
mudah-mudahan saja kue itu tidak hanya sekedar buat pajangan.
Selanjutnya acara dibuka
dengan menyanyi-nyanyi bersama. Sambil bertepuk tangan meriah. Kadang
anak-anak bernyanyi saling adu cepat. Mungkin dengan harapan yang
duluan selesai nyanyi segera mendapat potongan kue tart.
Kemudian disusul dengan
acara-acara menarik. Diantaranya seperti mengoper gelas yang diisi
air, sambil diiringi musik. Bila gelas itu berada di tangan seorang
anak dan bersamaan dengan matinya musik, berarti anak tadi
mendapatkan hukuman. Boleh nyanyi, boleh baca puisi. Boleh juga
berjoget sepuas hati.
Mereka kelihatan suka
dengan permainan itu. Kecuali Lupus. Ia cuma berharap agar jadwal
pemotongan kue tart itu dipercepat saja. Rasanya lezatnya kue itu
sudah sampai di lidah saja. Oi, pasti enak sekali. Lupus sama sekali
tidak memperhatikan permainan oper-mengoper gelas. Maka ketika ia
mendapat gelas berisi air yang semestinya diserahkan ke teman
sebelah, Lupus malah memium airnya.
Anak-anak pada
terheran-heran.
Lupus pun terpaksa
dihukum. Pilihan hukumannya, baca puisi.
Tanpa ragu, Lupus pun
membacakan puisi karya sendiri,
“ di laut sudah
pasti ada air
di air belum tentu ada
laut
di rumah sudah pasti
ada pintu
di pintu belum tentu
ada rumah
di meja sudah pasti
ada sepotong kue
san kuenya belum tentu
dipotong....”
Anak-anak
bertepuk riuh. Akhirnya saa yang mendebarkan bagi Lupus pun tiba,
Pepno memotong kue tartnya menjadi beberapa bagian. Potongan pertama
untuk maminya, kedua untuk papinya, ketiga untuk adiknya. Keempat
untuk kakaknya, kelima untuk neneknya. Keenam untuk kakeknya...
“Lha,
untuk saya mana,ya? Pikir Lupus cemas.
Lupus
khawatir kalau-kalau kue itu memang buat keluarga Pepno saja. Wah,
bisa gawat nih! Lupus sebel, kenapa tuan rumah kadang cuma
menyediakan kue yang mahal-mahal untuk pajangan saja? Bukan untuk
dibagikan pada tamunya.
Tapi
ternyata dugaan Lupus meleset. Kue tart itu juga dibagikan kepada
teman-teman yang lain. Tentu termasuk Lupus. Lupus mendapatkan bagian
yang lebih besar. Karena baca puisinya bagus. Lupus sangat girang
sekali. Dia memakan sedikit demi sedikit. “Biar enaknya lama.”
Tapi
kapan ya, bisa makan kue enak lagi? Lupus pun merenungi. Hingga
kemudian dia bangkit menghampiri maminya Pepno dan membisiki, “Tante,
bagaimana kalo ulang tahunnya Pepno tiap seminggu sekali aja, Tante?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar