Rabu, 07 November 2012

Ulang tahun-Lupus Kecil

4. Ulang Tahun


Ada seorang teman Lupus. Namanya Pepno SH. Anaknya masih kecil. Sekecil Lupus. Badannya rada kurus. Berkulit hita,, dan berambut agak ikal. Kalau habis berlari-larian, ujung hidungnya suka berkeringat. Seperti empun di pagi hari.

Lupus sering bermain-main dengan dia.

Seperti juga kamu, Lupus pertama heran. Kenapa si Pepno ini kecil-kecil sudah punya gelar gelar SH? Nggak taunya itu nama bapaknya Simin Harjo, yang biasa disingkat SH. Hihihi.. lucu, ya?

Nah, sore tadi si Pepno berlarian datang ke arah Lupus yang tengah bersiap-siap pergi mengaji. Ia berbisik,” Pus, besok datang ke rumahku, ya? Aku ulang tahun. Eh, tapi jangan lupa bawa kado dong. Biar balik modal.”

“Ulang tahun?” Lupus bertanya heran. “Ulang tahun apa?”

Ih Lupus norak, ya? Masa ulang tahun aja nggak tau?

Tapi kalian memang mesti maklum kalau ternyata ada anak yang belum tau apa itu ulang tahun. Karena di sebagian keluarga, ada yang menganggap kalau ulang tahun itu tidak perlu dirayakan. Apalagi kalau orang tuanya pelit, seperti bapaknya si Lupus. Merayakan ulang tahun dianggap pemborosan saja, katanya. Makanya, Lupus nggak tau apa itu ulang tahun.

Mata Pepno yang bulat dan lucu itu menyimpit.

“Ulang tahun apa? Ya ulang tahun saya.” Pepno ternyata bingung juga menjawab pertanyaan Lupus.

“Ulang tahun itu apa?” Lupus masih belum mengerti juga. “Ulang tahun itu adalah tahun yang diulang,” Ujar Pepno setengah ragu. Ya, habis bagaimana dia harus menjelaskan. “Kata mama saya setiap tanggal 21 April itu ulang tahun saya.”

“Lha? Kenapa harus tanggal 21 April?” tanya Lupus. “Tidak tanggal 10 Nopember atau 32 januari saja?” kan tanggal 21 April hari Kartini.

“Tau tuh. Mama sukanya tanggal 21 April sih. Gitu aja, Pus. Jangan lupa besok sore. Dadaaah...”

“Eh, tapi dijemput, ya?”


&&&


Pulang mengaji, Lupus mendapatkan ibunya sedang asyik mengobrol dengan Tante Ani, tetangga sebelah. Menjelang magrib, kala urusan rumah tangga sudah diselesaikan semua, Ibu Lupus sering duduk-duduk di taman mengobrol dengan tetangga sambil minum teh. Bapaknya sih jarang ikutan nimbrung. Kerjaannya sepulang kantor tidur melulu.

“Dulu anak saya si Lulu, suka sekali menghisap jempolnya, jeng. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” ucap ibu Lupus sambil menuangkan Teh buat tante Ani. Lupus yang bandel, sempat juga menguping dari balik pohon angsoka.

“O, ya? Bagaimana cara mengatasinya jeng?”

“Mudah saja, Jeng. Jempolnya, suka saya beri yang pahit-pahit. Jamu, misalnya.”

“Lalu, setelah itu bagaimana reaksinya, jeng?”

“Sekarang, ia mengisapi jari kelikingnya...”

hihihi... Lupus tak bisa menahan ketawanya. Ini jelas membuat ibu Lupus berang. “Hayo, Lupus! Sudah berapa kali Ibu bilang, jangan suka mencuri dengar pembicaraan orang tua!”

Lupus keluar sambil tertawa-tawa kecil.

Dan dia segera bilang ke ibunya bahwa besok ia diundang ke ulang tahun Pepno.

“Ulang tahun yang keberapa?” tanya Ibu.

Wah, keberapa, ya? Lupus bingung. Soalnya dia tak tanya tadi. “Eeeng... suit sepentin kali, Bu!”

Ah, masa sweet seventeen? Ibunya tak percaya. Ibunya berkata, kalau tak salah Pepno lahir berbarengan dengan pohon pisang yang ditanam Bapak dikebun belakang.

“Wah, jadi si Pepno sudah tua dong, Bu,” ujar Lupus heran. Ya, karena pohon pisang yang dimaksud Ibu itu sudah reot. Pelepah pisangnya sudah berwarna coklat. Disentil juga roboh.

“Pepno lain dong dengan pohon pisang. Pohon pisang memang cepat besar dan tua. Tapi Pepno kan tidak,” jelas ibunya.

“Oo... mungkin karena Pepno jarang disiram dan diberi pupuk ya, Bu?” simpul Lupus.

Yah, mungkin sekarang Pepno umurnya sama dengan Lupus. Tujuh tahun. Sekarang, Lupus pun mengira-ngira, kado apa yang cocok buat Pepno.

“Eh, gimana, Bu, kalo beli buku tulis saja kadonya Pepno?” usul Lupus.

“Ah, jangan. Itu terlalu murah. Lebih baik potlot aja!”

Tapi ternyata Pepno tidak cuma mengundang Lupus. Lulu pun sudah diberi tahu. Pepno juga berpesan agar Lulu membawa kado.

Lulu mengusulkan agar Pepno diberi boneka saja.

Lupus jelas menolak. “Pepno kan anak laki-laki. Mana mau dia diberi boneka?”

“kalo dia nggak mau, kan bica buat Lulu aja.”

Pertengkaran Lupus dan Lulu sebetulnya bakalan seru. Tapi Ibu buru-buru melerai. Ibu cuma mau membelikan satu kado saja. Dan akhirnya diputuskan, Pepno akan dibelikan pistol-pistolan air saja.


***

sorenya pistol-pistolan air yang cukup unik itu siap dibungkus. Sebelum dilapisi kertas kado yang cantik, Ibu membungkusnya dengan beberapa kertas koran.

“Kenapa mesti begitu, Bu?” tanya Lupus.

“Biar keliatan besar. Nanti kan Pepnonya senang.”

Pistol-pistolan air itu memang jadi keliatan besar sekarang. Apalagi setelah dibungkus kertas kado yang bermotifkan warna-warni. Jadi kelihatan tambah cantik. Wah, si Pepno pasti senang.

Tapi, astaga! Pistol-pistolan air ini belum dicoba. Lupus cemas. Ya, bagaimana kalau ternyata pistol-pistolan air ini macet? Bisa malu dong. Kok ngasih hadiah nggak bisa dipakai?

Maka diam-diam Lupus pun membuka kado yang sudah terbungkus rapi itu. Gulungan koran yang membuatnya gemuk, kini berserakan dilantai. Lupus tak peduli. Yang penting pistol ini mesti dicoba dulu.

Setelah dibuka, pistol itu diisi air. Dan ditembakkan ke arah pot-pot bunga. Kadang-kadang, rambutnya pun dibasahi oleh pistol-pistolannya itu. Lupus senang, berarti pitol mainan ini tidak macet.

Lagi asyik-asyiknya mencoba, Ibu datang. Ibu habis membeli pita. Untuk kado dan untuk rambutnya Lulu. Biar kedua-duanya cantik.

Jelas saja Ibu mengomel melihat ulah Lupus.

“Aduh, Lupus. Kenapa kadonya dibuka begitu?”

“Habis tadi belum dicoba, Bu. Lupus khawatir kalo pistol-pistolan ini macet.”

Ibu akhirnya membungkus kado itu lagi. Cuma kali ini ditambahi pita biar cantik. Kado ini ternyata tidak mau kalah saingan dengan rambut Lulu yang senantiasa berpita. Lupus pun ikut-ikutan minta dipakaikan pita. Tapi Ibu melarang. Lupus nekat. Ia mengambil kaset dan mengeluarkan pitanya yang panjang. Kemudian digulungkan ke rambutnya. Lupus ternyata juga tak mau kalah saingan.

“Hihihi... pitaku lebih panjang!”


***


Sore itu di rumah Pepni sudah ramai. Banyak juga temannya yang datang. Pepno memang mengundang semua teman-teman mainnya.

Rumahnya sendiri tampak semarak. Dihiasi balon-balon, kertas warna-warni, dan juga kue tart besar berlilin tujuh yang begitu menarik perhatian Lupus.

Pepno memakai baju baru. Warnanya merah, dan dimasukkan ke dalam celana panjangnya yang baru. Pepno jadi kelihatan ganteng. Kayak sekoteng.

Tapi perhatian Lupus tetap tak lepas dari kue tart besar yang dilapisi coklat itu. Oi, pasti enak sekali rasanya. Lebih enak dari kue bikinan Ibu. Ah, mudah-mudahan saja kue itu tidak hanya sekedar buat pajangan.

Selanjutnya acara dibuka dengan menyanyi-nyanyi bersama. Sambil bertepuk tangan meriah. Kadang anak-anak bernyanyi saling adu cepat. Mungkin dengan harapan yang duluan selesai nyanyi segera mendapat potongan kue tart.

Kemudian disusul dengan acara-acara menarik. Diantaranya seperti mengoper gelas yang diisi air, sambil diiringi musik. Bila gelas itu berada di tangan seorang anak dan bersamaan dengan matinya musik, berarti anak tadi mendapatkan hukuman. Boleh nyanyi, boleh baca puisi. Boleh juga berjoget sepuas hati.

Mereka kelihatan suka dengan permainan itu. Kecuali Lupus. Ia cuma berharap agar jadwal pemotongan kue tart itu dipercepat saja. Rasanya lezatnya kue itu sudah sampai di lidah saja. Oi, pasti enak sekali. Lupus sama sekali tidak memperhatikan permainan oper-mengoper gelas. Maka ketika ia mendapat gelas berisi air yang semestinya diserahkan ke teman sebelah, Lupus malah memium airnya.

Anak-anak pada terheran-heran.

Lupus pun terpaksa dihukum. Pilihan hukumannya, baca puisi.

Tanpa ragu, Lupus pun membacakan puisi karya sendiri,

di laut sudah pasti ada air

di air belum tentu ada laut

di rumah sudah pasti ada pintu

di pintu belum tentu ada rumah

di meja sudah pasti ada sepotong kue

san kuenya belum tentu dipotong....”

Anak-anak bertepuk riuh. Akhirnya saa yang mendebarkan bagi Lupus pun tiba, Pepno memotong kue tartnya menjadi beberapa bagian. Potongan pertama untuk maminya, kedua untuk papinya, ketiga untuk adiknya. Keempat untuk kakaknya, kelima untuk neneknya. Keenam untuk kakeknya...

“Lha, untuk saya mana,ya? Pikir Lupus cemas.

Lupus khawatir kalau-kalau kue itu memang buat keluarga Pepno saja. Wah, bisa gawat nih! Lupus sebel, kenapa tuan rumah kadang cuma menyediakan kue yang mahal-mahal untuk pajangan saja? Bukan untuk dibagikan pada tamunya.

Tapi ternyata dugaan Lupus meleset. Kue tart itu juga dibagikan kepada teman-teman yang lain. Tentu termasuk Lupus. Lupus mendapatkan bagian yang lebih besar. Karena baca puisinya bagus. Lupus sangat girang sekali. Dia memakan sedikit demi sedikit. “Biar enaknya lama.”

Tapi kapan ya, bisa makan kue enak lagi? Lupus pun merenungi. Hingga kemudian dia bangkit menghampiri maminya Pepno dan membisiki, “Tante, bagaimana kalo ulang tahunnya Pepno tiap seminggu sekali aja, Tante?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar