-->
2. Baca Berita
Sore hari biasanya saat
yang paling menyenangkan buat anak-anak. Saat sengatan matahari mulai
mereda dan angin bertiup sejuk. Tapi yang paling penting, pada saat
seperti itu, tukang-tukang bakso, simai, es dong-dong mulai
menampakkan batang hidungnya. Mulai berteriak-teriak ribut menjajakan
dagangannya, mulai menyemarakan suasana senja.
Dan pada saat itu pun
biasanya anak-anak manis baru terjaga dari tidur siang. Mengucek-ucek
mata dan menyambut kicauan tukang bakso dari balik jendela.
“neeeeng, bakso,
neeeng. Selagi ada, selagi ada. Soalnya abang hanya lewat sebulan
sekali. Itu juga kalo nanti Abang masih punya modal buat jualan. Ayo,
selagi ada...,” sambutan tukang bakso begitu hangat, ketika
ana-anak manis mulai menampakkan batang hidungnya dari balik gorden.
Sebagian anak memang ada
yang hobi jajan bakso, siomai, atau es dong-dong. Tapi sebagian lagi
ada yang langsung berlari-lari ke lapangan bola. Bermain
kejar-kejaran atau petak umpet.
Tapi lupus suka bosan
bermain-main di luar. Sore hari begini, dia paling suka mendengarkan
siaran radio. Biasanya saat radio menyiarkan lagu untuk anak. Tapi
tak selalu lagu anak-anak, lagu dang-dut pun lupus suka. Suka
ikut-ikutan berdendang sambil goyang-goyang pinggul.
Bagi Lupus, paling asyik
mendengarkan radio sambil tidur-tiduran di kolong mesing jahit.
Sambil menempelkan radio ditelinganya. Katanya, dengan begitu dia
bisa lebih akrab dengan penyiar dan penyanyinya.
Dan sore itu, acara
seperti biasa dibuka dengan salam perjumpaan dari sang penyiar”
Selamat Sore, adik adik manis. Selamat sore berjumpa lagi dengan Kak
Wita. Di sini Radio Republik Indonesia...”
“Eh, bukan,” sambar
Lupus cepat. “ Di sini radio saya, enak aja.”
sang penyiar cuek, terus
aja ngomong “ Sore ini pasti adik-adik sudah mandi semua. Siap
dengarkan lagunya, ya?”
“eh Lulu. Kamu nggak
ikutan denger. Sebab kamu belum mandi,” sergah Lupus lagi. Lulu
bengong, sambil ngeluyur ke belakang.
“Dan setelah mandi
nanti, kamu juga belum tentu boleh mendengarkan siaran radio. Soalnya
tadi kamu nggak ikut patungan buat beli batu batere,” Lanjut Lupus.
Radio, bagi Lupus memang
sebagai hiburan yang menyenangkan. Bentuknya kecil, tapi bisa membuat
banyak suara orang di dalamnya. Ada suara anak-anak, ibu-ibu, dan
suara kakek-nenek juga ada. Ini yang membuat Lupus tambah geregetan.
Pernah sekali, karena
saking penasarannya, Lupus mengintip kedalam radio itu, sambil
berharap agar bisa melihat orangnya. Atau kemudian mengocok-ngocoknya
supaya orangnya bisa jatuh keluar.
Dan malam ini, Lupus
memang lagi penasaran sekali. O ya, perlu kalian ketahui, meski masih
kecil, tapi Lupus itu sebetulnya paling suka mendengarkan siaran
berita di radio. Namun nampaknya kini dia belum mendapatkan siaran
itu. Padahal diia sudah mengubah gelombang dari ujung ke ujung. Dia
sempat bertanya kepada Lulu, yang dijawab dengan gelengan kepala.
Lupus kesal. Di tepuk-tepuknya radio itu. Lupus berpikir, barangkali
penyiarnya ketiduran atau sudah tak mau lagi membacakan berita di
radio Lupus. Lupus pernah menyuruh Ibu agar membuatkan minuman untuk
pembaca berita di radionya. Dia khawatir penyiarnya itu kehausan.
Tapi ibu sampai sekarang belum pernah melayani. Lupus kasihan kalau
pembaca berita sampai terbatuk-batuk, kala membacakan beritanya.
Siaran berita belum juga
ditemukan. Lupus makin penasaran. Dia tahu, saat itu baru pukul
setengah tujuh malam. Dan sebetulnya siaran berita akan bisa didengar
pukul tujuh malam. Tapi dasar Lupus, menganggap itu cuma alasan
penyiar saja. “Mentang-mentang radioku sudah agak jelek, jadi si
penyiar itu nggak mau lagi singgah untuk membacakan berita di sini,”
gerutu Lupus.
Lupus tambah jengkel,
kemudian membuka tutup radio itu. Tentu saja setelah sebelumnya tak
lupa mengocok-ngocoknya dulu. Ditariknya kabel-kabel yang
berseliweran dalam radio itu. Kali-kali aja si penyiar bersembunyi di
sini. Lalu dicongkelnya peralatan radio itu, hingga membuat isi radio
berantakan. Lulu yang tadinya tak begitu memperhatikan, kini
ikut-ikutan merusak dan sesekali menginjak-injak badan radio.
Kini radio itu sudah tak
jelas lagi bentuknya. Tapi Lupus puas. Biar pembaca siran berita itu
tak datang lagi ke sini. Rupanya Lupus mengajak marahan dengan sang
penyiar. Lulu Lupus mengamit lengan adiknya, sambil berkata,” Lu,
kamu mau mendengarkan berita, yak? Kak Lupus juga bisa kok. Sebentar,
ya?” kak Lupus sambil berlari ke belakang mengambil corong minyak.
Corong tadi diletakkan di
depannya, dan Lupus duduk bersila, di depannya juga ada setumpuk
kertas yang ia dapatkan dari mana-mana. Sedang Lulu memperhatikan
kakaknya dengan senang.
“Lu, kamu mesti
menyetel lebih dulu, sebelum bisa mendengarkan siaran berita.” kata
Lupus. “ dan sekarang kamu nggak usah repot-repot muter gelombang
radio.”
lalu lantas memegang
jempol kaki Lupus dan memutarnya sedikit, terus ngomong, “ Tel...
gitu ya, Kak?”
dengan suara dibertkan,
Lupus mumali bergaya, “Selamat malam, saudara-saudara. Di sini
siaran berita. Dan radionya siaran langsung. Yang tidak dengar pasti
rugi,” kata Lupus.
“Cayang, Ibu cama Bapak
belum pulang, ya? Kalau tau pacti cenang,” kata Lulu tiba-tiba.
Lupus acuh saja, dan
terus ngomong, “Berita-berita tidak penting. Seorang ibu dan
anaknya kemarin sore telah berhasil menyebrang jalan dengan selamat.”
kata Lupus mulai baca berita sambil diselilingi batuk-batuk kecil,
“Uhuk-uhuk!”
“Yaaa... Kak. Macak
belita tidak penting?” protes Lulu heran.
“ini kan radio siaran
langsung, jadi beritanya lain dong dengan di radio biasa,” kata
Lupus sambil melototi Lulu. Maksudnya jangan terus diajak bicara.
“Awas, Lu, kalo nanya lagi.”
“Maaf, Saudara-saudara.
Tadi ada sedikit gangguan teknis. Sekarang dilanjutkan lagi, ya?”
Lupus minta maaf sama pendengar yang lain. Eh, saat itu ada juga lho
pendengar lain selain Lulu. Ada cecak, kecoak, empat ekor nyamuk,
seekor kucing, dan dua boneka Lulu. Jadi Lupus merasa perlu untuk
minta maaf.
“ Di stadion utama
Senayan, sejak kemarin sore hingga tadi pagi tidak ada yang bermain
sepak bola, hingga saya tidak tahu berapa golnya dan siapa wasitnya.”
Lupus Mulai lagi, dan betul-betul tidak penting. Lupus memang pintar
menghibur adiknya. Lulu sudah kepingin ketawa, tapi takut ditegur.
Jadi Lulu mau tak mau mesti menutup mulutnya, biar nggak berisik.
“sementara itu,
kebakaran besar sampai sekarang masih belum terjadi, hingga tidak
dapat diketahui berapa jumlah korban yang jatuh dan jumlah kerugian
yang diderita.”
Lupus lalu membalikkan
kertasnya sambil memandang ke arah pemirsa.
“saudara-saudara yang
manis, sekarang berita olahraga, ya?” Lupus menawarkan. Tapi tidak
ada jawaban. Lulu pun tidak berani bilang apa-apa. Takut dimarahin.
Lalu Lupus ngomong, “Kalo diam saja berarti ya.”
“Ini berita olahraga
tidak penting,” kata Lupus. “kolam renang Senayan pada sore hari
mulai dikuras dan siisi kembali pada pagi harinya. Siangnya baru
boleh direnangi.
“seorang perenang
loncat indah, ketika meloncat tidak berani nongol dari kolam renang.
Sebab ketika ia sudah meloncat ke kolam, celananya tertinggal di
atas!”
Lulu setengah mati
menahan tawanya, hahaha...! tapi ia lupa menutup mulutnya.
“Nah, Sekarang acara
siaran berita sudah habis. Saudara-saudara, kini kita masuki acara
Taman Indira bersama Bu Kasur. Aduuuh, tapi sayang sekali, acara ini
tidak dapat disiarkan, lantaran kasurnya masih dijemur. Maaf, ya?
Lebih baik diganti dengan acara Gemar menggampar... Aduuuh, salah
lagi. Maksud kami, Gemar Menggambar. Bersama Pak Tino Sidin. Sekali
lagi mohon maag, saudara-saudara, sebab Pak Tino Sidin-nya belum
datang, karena ban mobilnya kempes. Tapi beliau kirim salam,
“bagus... bagus...,” katanya.
“tapi jangan kecewa.
Masih ada satu acara lagi, yaitu Ayo bernyanyi bersama bufet. Eh,
maaf, maksud kami Bu Fat. Bu Fat akan mengajak bernyanyi bersama-sama
dengan iringan hansip. Biasanya sih diiringi piano, tapi karena
pianonya lagi rusak, terpaksa deh, hansip. Jreng...”
Lupus langusng bernyanyi
Satu-satu Aku Sayang Ibu.
“Ya, terima kasih atas
perhatian Saudara-saudara. Bagi penduduk yang berada di wilayah
Indonesia Timur, ya semoga baik-baik saja. Jangan suka berantem.
Besok siaran lagi kok. Dan bagi penduduk di wilayah Indonesia Barat,
lebih baik ke timur aja. Di sana masih kosong kok. Enak lho, di sana
di kasih tanah dua hektar, rumah pacul. Eh, tapi jangan lupa ya
dengerin siaran radio saya...”
Tepat pada saat Lupus
mengakhiri siaran beritanya, terdengar suara bel tamu berdentang.
“Ibu pulaaaang...,”
teriak Lulu menyonsong ke depan. Tapi Lupus tetap duduk di tempatnya,
sampai kedua orang tuanya mucul dari depan.
“Aduh, Lupus! Apa-apaan
ini? Kenapa radio Bapak jadi berantakan begini,” seru bapaknya
ketika melihat radionya tergeletak tak berbentuk di lantai. “ Pasti
kamu yang merusaknya, ya? Ayo kemari!!!”
“Saudara-saudara,”
lanjut Lupus tenang, “ini baru berita penting...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar