Senin, 05 November 2012

2. Baca Berita - Lupus Kecil


-->
2. Baca Berita

Sore hari biasanya saat yang paling menyenangkan buat anak-anak. Saat sengatan matahari mulai mereda dan angin bertiup sejuk. Tapi yang paling penting, pada saat seperti itu, tukang-tukang bakso, simai, es dong-dong mulai menampakkan batang hidungnya. Mulai berteriak-teriak ribut menjajakan dagangannya, mulai menyemarakan suasana senja.

Dan pada saat itu pun biasanya anak-anak manis baru terjaga dari tidur siang. Mengucek-ucek mata dan menyambut kicauan tukang bakso dari balik jendela.

“neeeeng, bakso, neeeng. Selagi ada, selagi ada. Soalnya abang hanya lewat sebulan sekali. Itu juga kalo nanti Abang masih punya modal buat jualan. Ayo, selagi ada...,” sambutan tukang bakso begitu hangat, ketika ana-anak manis mulai menampakkan batang hidungnya dari balik gorden.

Sebagian anak memang ada yang hobi jajan bakso, siomai, atau es dong-dong. Tapi sebagian lagi ada yang langsung berlari-lari ke lapangan bola. Bermain kejar-kejaran atau petak umpet.

Tapi lupus suka bosan bermain-main di luar. Sore hari begini, dia paling suka mendengarkan siaran radio. Biasanya saat radio menyiarkan lagu untuk anak. Tapi tak selalu lagu anak-anak, lagu dang-dut pun lupus suka. Suka ikut-ikutan berdendang sambil goyang-goyang pinggul.

Bagi Lupus, paling asyik mendengarkan radio sambil tidur-tiduran di kolong mesing jahit. Sambil menempelkan radio ditelinganya. Katanya, dengan begitu dia bisa lebih akrab dengan penyiar dan penyanyinya.

Dan sore itu, acara seperti biasa dibuka dengan salam perjumpaan dari sang penyiar” Selamat Sore, adik adik manis. Selamat sore berjumpa lagi dengan Kak Wita. Di sini Radio Republik Indonesia...”

“Eh, bukan,” sambar Lupus cepat. “ Di sini radio saya, enak aja.”

sang penyiar cuek, terus aja ngomong “ Sore ini pasti adik-adik sudah mandi semua. Siap dengarkan lagunya, ya?”

“eh Lulu. Kamu nggak ikutan denger. Sebab kamu belum mandi,” sergah Lupus lagi. Lulu bengong, sambil ngeluyur ke belakang.

“Dan setelah mandi nanti, kamu juga belum tentu boleh mendengarkan siaran radio. Soalnya tadi kamu nggak ikut patungan buat beli batu batere,” Lanjut Lupus.

Radio, bagi Lupus memang sebagai hiburan yang menyenangkan. Bentuknya kecil, tapi bisa membuat banyak suara orang di dalamnya. Ada suara anak-anak, ibu-ibu, dan suara kakek-nenek juga ada. Ini yang membuat Lupus tambah geregetan.

Pernah sekali, karena saking penasarannya, Lupus mengintip kedalam radio itu, sambil berharap agar bisa melihat orangnya. Atau kemudian mengocok-ngocoknya supaya orangnya bisa jatuh keluar.

Dan malam ini, Lupus memang lagi penasaran sekali. O ya, perlu kalian ketahui, meski masih kecil, tapi Lupus itu sebetulnya paling suka mendengarkan siaran berita di radio. Namun nampaknya kini dia belum mendapatkan siaran itu. Padahal diia sudah mengubah gelombang dari ujung ke ujung. Dia sempat bertanya kepada Lulu, yang dijawab dengan gelengan kepala. Lupus kesal. Di tepuk-tepuknya radio itu. Lupus berpikir, barangkali penyiarnya ketiduran atau sudah tak mau lagi membacakan berita di radio Lupus. Lupus pernah menyuruh Ibu agar membuatkan minuman untuk pembaca berita di radionya. Dia khawatir penyiarnya itu kehausan. Tapi ibu sampai sekarang belum pernah melayani. Lupus kasihan kalau pembaca berita sampai terbatuk-batuk, kala membacakan beritanya.

Siaran berita belum juga ditemukan. Lupus makin penasaran. Dia tahu, saat itu baru pukul setengah tujuh malam. Dan sebetulnya siaran berita akan bisa didengar pukul tujuh malam. Tapi dasar Lupus, menganggap itu cuma alasan penyiar saja. “Mentang-mentang radioku sudah agak jelek, jadi si penyiar itu nggak mau lagi singgah untuk membacakan berita di sini,” gerutu Lupus.

Lupus tambah jengkel, kemudian membuka tutup radio itu. Tentu saja setelah sebelumnya tak lupa mengocok-ngocoknya dulu. Ditariknya kabel-kabel yang berseliweran dalam radio itu. Kali-kali aja si penyiar bersembunyi di sini. Lalu dicongkelnya peralatan radio itu, hingga membuat isi radio berantakan. Lulu yang tadinya tak begitu memperhatikan, kini ikut-ikutan merusak dan sesekali menginjak-injak badan radio.

Kini radio itu sudah tak jelas lagi bentuknya. Tapi Lupus puas. Biar pembaca siran berita itu tak datang lagi ke sini. Rupanya Lupus mengajak marahan dengan sang penyiar. Lulu Lupus mengamit lengan adiknya, sambil berkata,” Lu, kamu mau mendengarkan berita, yak? Kak Lupus juga bisa kok. Sebentar, ya?” kak Lupus sambil berlari ke belakang mengambil corong minyak.

Corong tadi diletakkan di depannya, dan Lupus duduk bersila, di depannya juga ada setumpuk kertas yang ia dapatkan dari mana-mana. Sedang Lulu memperhatikan kakaknya dengan senang.

“Lu, kamu mesti menyetel lebih dulu, sebelum bisa mendengarkan siaran berita.” kata Lupus. “ dan sekarang kamu nggak usah repot-repot muter gelombang radio.”

lalu lantas memegang jempol kaki Lupus dan memutarnya sedikit, terus ngomong, “ Tel... gitu ya, Kak?”

dengan suara dibertkan, Lupus mumali bergaya, “Selamat malam, saudara-saudara. Di sini siaran berita. Dan radionya siaran langsung. Yang tidak dengar pasti rugi,” kata Lupus.

“Cayang, Ibu cama Bapak belum pulang, ya? Kalau tau pacti cenang,” kata Lulu tiba-tiba.

Lupus acuh saja, dan terus ngomong, “Berita-berita tidak penting. Seorang ibu dan anaknya kemarin sore telah berhasil menyebrang jalan dengan selamat.” kata Lupus mulai baca berita sambil diselilingi batuk-batuk kecil, “Uhuk-uhuk!”

“Yaaa... Kak. Macak belita tidak penting?” protes Lulu heran.

“ini kan radio siaran langsung, jadi beritanya lain dong dengan di radio biasa,” kata Lupus sambil melototi Lulu. Maksudnya jangan terus diajak bicara. “Awas, Lu, kalo nanya lagi.”

“Maaf, Saudara-saudara. Tadi ada sedikit gangguan teknis. Sekarang dilanjutkan lagi, ya?” Lupus minta maaf sama pendengar yang lain. Eh, saat itu ada juga lho pendengar lain selain Lulu. Ada cecak, kecoak, empat ekor nyamuk, seekor kucing, dan dua boneka Lulu. Jadi Lupus merasa perlu untuk minta maaf.
“ Di stadion utama Senayan, sejak kemarin sore hingga tadi pagi tidak ada yang bermain sepak bola, hingga saya tidak tahu berapa golnya dan siapa wasitnya.” Lupus Mulai lagi, dan betul-betul tidak penting. Lupus memang pintar menghibur adiknya. Lulu sudah kepingin ketawa, tapi takut ditegur. Jadi Lulu mau tak mau mesti menutup mulutnya, biar nggak berisik.

“sementara itu, kebakaran besar sampai sekarang masih belum terjadi, hingga tidak dapat diketahui berapa jumlah korban yang jatuh dan jumlah kerugian yang diderita.”

Lupus lalu membalikkan kertasnya sambil memandang ke arah pemirsa.

“saudara-saudara yang manis, sekarang berita olahraga, ya?” Lupus menawarkan. Tapi tidak ada jawaban. Lulu pun tidak berani bilang apa-apa. Takut dimarahin. Lalu Lupus ngomong, “Kalo diam saja berarti ya.”

“Ini berita olahraga tidak penting,” kata Lupus. “kolam renang Senayan pada sore hari mulai dikuras dan siisi kembali pada pagi harinya. Siangnya baru boleh direnangi.

“seorang perenang loncat indah, ketika meloncat tidak berani nongol dari kolam renang. Sebab ketika ia sudah meloncat ke kolam, celananya tertinggal di atas!”

Lulu setengah mati menahan tawanya, hahaha...! tapi ia lupa menutup mulutnya.

“Nah, Sekarang acara siaran berita sudah habis. Saudara-saudara, kini kita masuki acara Taman Indira bersama Bu Kasur. Aduuuh, tapi sayang sekali, acara ini tidak dapat disiarkan, lantaran kasurnya masih dijemur. Maaf, ya? Lebih baik diganti dengan acara Gemar menggampar... Aduuuh, salah lagi. Maksud kami, Gemar Menggambar. Bersama Pak Tino Sidin. Sekali lagi mohon maag, saudara-saudara, sebab Pak Tino Sidin-nya belum datang, karena ban mobilnya kempes. Tapi beliau kirim salam, “bagus... bagus...,” katanya.

“tapi jangan kecewa. Masih ada satu acara lagi, yaitu Ayo bernyanyi bersama bufet. Eh, maaf, maksud kami Bu Fat. Bu Fat akan mengajak bernyanyi bersama-sama dengan iringan hansip. Biasanya sih diiringi piano, tapi karena pianonya lagi rusak, terpaksa deh, hansip. Jreng...”

Lupus langusng bernyanyi Satu-satu Aku Sayang Ibu.

“Ya, terima kasih atas perhatian Saudara-saudara. Bagi penduduk yang berada di wilayah Indonesia Timur, ya semoga baik-baik saja. Jangan suka berantem. Besok siaran lagi kok. Dan bagi penduduk di wilayah Indonesia Barat, lebih baik ke timur aja. Di sana masih kosong kok. Enak lho, di sana di kasih tanah dua hektar, rumah pacul. Eh, tapi jangan lupa ya dengerin siaran radio saya...”

Tepat pada saat Lupus mengakhiri siaran beritanya, terdengar suara bel tamu berdentang.

“Ibu pulaaaang...,” teriak Lulu menyonsong ke depan. Tapi Lupus tetap duduk di tempatnya, sampai kedua orang tuanya mucul dari depan.

“Aduh, Lupus! Apa-apaan ini? Kenapa radio Bapak jadi berantakan begini,” seru bapaknya ketika melihat radionya tergeletak tak berbentuk di lantai. “ Pasti kamu yang merusaknya, ya? Ayo kemari!!!”

“Saudara-saudara,” lanjut Lupus tenang, “ini baru berita penting...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar