Membantu Lulu makan
setiap pulang sekolah,
Lupus masih sering dijemput. Sebetulnya letak sekolah Lupus tak
begitu jauh dari rumah Lupus. Hanya beberapa kali napas, sudah
sampai. Tapi kalau tak dijemput, Lupus bisa petang hari baru sampai
rumah. Alasannya belajar bersama atau bersama-sama nonton video
seperti pada satu hari,
ibu Lupus sedang kelewat repot hingga tak sempat menjempt.
Ditunggu-tunggu anak bandel itu belum juga keliatan batang hidungnya.
Ibu Lupus jelas bingung. Sibuk nyari-nyari di tong sampah, di kandang
ayam tetangga, diatas pohon jambu, tak juga ketemu. Pergi kemana lagi
anak ini? Pikir ibu Lupus bingung. Baru ketika ibu Lupus hendak
mencari dan bertanya pada teman sekolah Lupus yang dekat tukang
gado-gado, tiba-tiba Lupus kelihatan sambil berjalan terseok-seok.
Baju sergamnya sudah tak lagi putih warnanya. Ada bercak-bercak
cokelat, kayak lumpur. Sepatunya juga. Uh, ibu Lupus hampir lupa apa
warna asli tu sepatu. Sebab kini sampai kaus kaki, berwarna coklat
semua. Wah, pasti Lupus habis main di comberan.
Memang betul. Meski tidak
di comberan, Lupus habis berkotor-kotoran. Dia habis main bola di
lapangan dekat kali yang tiap habis hujan selalu berkubang.
Sebetulnya memang sudah tak pantas bila disebut lapangan. Tapi kalau
mau disebut kolam renang, tak ada yang jaga karcis disana. Meski
begitu, Lupus dan teman-temannya sangat senang bermain bola di
lapangan itu. Malah bila suatu ketika lapangan itu kering saat musim
kemarau, Lupus tak mau main. Alasannya nggak seru. Nggak bisa ber-ski
air.
“Lupus, dari mana saja
kamu! Lihat, tubuhmu penuh lumpur!” begitu Ibu Lupus selalu
mengahrdik jika Lupus berbuat salah.
“Sa.. saya abis belajar
bersama, Bu,” ujar Lupus sambil menundukkan kepala. Tas sekolahnya
yang juga dekil. Didekap erat-erat, seolah takut ketahuan.
“belajar apa sampai
kotor-kotoran begitu!”
“belajar main bola,
Bu.”
“Main bola? Ya, tapi
kan main bola tak perlu di lumpur. Lagi pula kamu belum ganti baju,
belum makan siang, belum tidur siang.”
“saya main bolanya
nggak di lumpur kok, Bu.”
“lha, itu. Kenapa
bajumu penuh lumpur?”
“bukan salah saya, Bu,
salah lumpurnya. Kenapa dia berada di lapangan bola. Seharusnya dia
berada di sawah...”
“sudah. Ayo pulang!”
hardik ibunya sambil menggamit lengan Lupus.
Itulah, makanya ibu Lupus
lebih suka meluangkan waktu untuk menjemput Lupus. Daripada
mengkhawatirkan anak itu selalu. Dan seperti anak-anak lainnya juga,
sampai di rumah Lupus dan Lulu setiap pulang sekolah pasti disuruh
menukar pakaian seragam. Tapi, sekali lagi. Lupus selalu tak mau, dia
bilang dia mau mengulang pelajaran dulu. Kalo belajar, mesti memakai
baju sergam. Tidak enak belajar pakai baju rumah. Tak sopan, ujar
Lupus. Biar malam hari pun bila ingin mengerjakan pekerjaan rumah,
Lupus senantiasa memakai sergam sekolahnya.
Menghadapi anak semacam
Lupus memang mesti sabar. Begitu juga dengan ibu Lupus. Kadang
dibiarkan keinginan Lupus yang aneh-aneh sejauh hal itu terasa tak
merugikan perkembangannya. Toh biar suka aneh-aneh, Lupus juga punya
kebiasaan baik juga. Misalnya saja dalam hal makan. Dia paling
gampang disuruh makan. Dia paling gampang disuruh makan, tidak
seperti anak lainnya. Walau badan Lupus kecil, namun nafsu makannya
lumayan gede. Jadinya nggak penyakitan. Riang selalu.
Pulang sekolah, Lupus
selalu makan (kalau kebetulan tidak main bola). Agak siang sedikit,
makan. Sore hari, makan juga. Malamnya sebelum bikin pe-er, makan
lagi. Kalau ngantuk kepengen tidur, sebelumnya mesti makan. Kalo yang
ini nggak mesti nasi, lontong pun Lupus mau. Akibatnya, bapak Lupus
yang suka keasyikan baca koran, tak kebagian makan malam lagi.
Tapi si Lulu justru agak
sedikit susah bila disuruh makan. Seperti siang itu, sepulang
sekolah. Lupus sudah selesai makan, tapi Lulu kelihatan seperti malas
untuk menyentuh nasi perkedelnya. Malahan asyik bermain dengan boneka
pandanya. Kalo ada ibu, Lulu lebih suka disuapi. Tapi kini Ibu sedang
kedatangan tamu. Penting agaknya. Terpaksalah Lulu disuruh makan
sendiri.
Lupus yang sedang santai
baca buku cerita, jadi memandang adiknya dengan heran. Makan kok
nggak mau, apa susahnya sih? Pikir Lupus. Apa perlu dibantu? Yah,
kata ibu Guru, orang hidup mesti tolong menolong. Dengan begitu,
lebih mudah untuk menyelesaikan satu pekerjaan. Makan kan juga
termasuk pekerjaan juga. Maka harus dibantu. Otak Lupus berpikir
cepat. Lalu dia pun mulai membantu Lulu. Mula-mula Lupus membantu
menghabiskan perkedelnya. Lulu melihat itu malah senang. Tapi Lupus
terus asyik. Ia terus menyuapi mulutnya sendiri, hingga piring Lulu
bersih tak tersisa.
Karena kenyang, Lupus pun
tidur-tiduran di kolong meja. Wajahnya ditutupi buku cerita. Dan
lama-kelamaan Lupus jadi tidur beneran. Sebab perutnya benar-benar
kegendutan.
Ibu Lupus melihat piring
Lulu kosong, jadi senang. Tapi sekaligus heran. Kok tumben Lulu bisa
habis makan sendiri.
“Lulu, kamu makan
sendiri, ya? Pintar kamu, Lu,” ujar ibu tersenyum.
Lulu acuh tak acuh saja.
Dia malah sibuk membelai bonekanya. Kini boneka jadi anak-nya, dan
Lulu jadi ibunya. Lulu berusaha menidurkan anaknya sambil berdendang
kecil.
Rasa penasaran masih
menyilimuti benak Ibu. Kemudian sekadar memenuhi rasa curiganya, ia
pegang perut Lulu. Lho, kok kosong kempes?
“Lulu, kamu sudah
makan, belum?”
dengan santai Lulu
menggeleng.
“lalu, siapa yang
menghabiskan nasimu?” desak Ibu.
“Ssst... ibu jangan
libut, ya. Nanti anak Lulu bangun,” bisik Lulu sambil meletakkan
telunjuknya di bibir.
Tapi Ibu Lupus seperti
sudah menemukan jawaban misteri ini, ketika melihat Lupus dengan
santainya tidur di kolong meja. Di sekitar mulutnya, masih ada nasi
yang tersisa. Buku cerita yang tadi menutupi wajah, terjatuh
kesamping.
Ibu Lupus tersenyum,
sambil membersihkan sisa nasi dan perkedel yang mengotori baju Lupus.
Dipandangnya wajah Lupus lama-lama. Anak itu seperti tersenyum
membalas.
“Ah, Lupus...
Lupus...,” desah ibu Lupus panjang. Kemudian bergegas menyiapkan
makan siang buat Bapak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar