Minggu, 04 November 2012

Dapet Kamar Baru-Lupus Kecil

-->
1. Dapat Kamar Baru

Lupus kecil sudah merasa besar. Ia ingin punya kamar sendiri. Tidak lagi disatukan sama Ibu dan Bapak disebuah kamar besar di pusat rumah. Tidak lagi bersebelahan dengan ranjang Lulu yang bentuknya mirip rumah boneka.

Itu bagus, kata bapak. Seorang anak, apalagi laki-laki, memang harus tidur terpisah dari orang tua. Belajar berani. Belajar mandiri, mengatur kamarnya sendiri. Dan ibu pun mengabulkan permintaan Lupus. Di rumah Lupus memang masih tersisa beberapa kamar kosong, yang biasa untuk menaruh barang-barang atau menerima saudara yang menginap.

Lupus jelas girang, permintaanya dituruti. Diledeknya Luku yang juga ingin dapat kamar sendiri, tapi tak diizinkan Ibu. Alasannya, di samping masih terlalu kecil, Lulu suka mengigau kalau malam. Suka kepingin pipis. Lupus merasa senang, lantas senang. Lulu cuma diam saja dicibiri Lupus.

Maka seharian itu, Lupus sibuk menata kamarnya. Rak buku yang baru dibelikan kayaknya jadi pusat perhatian Lupus. Sebab Lupus punya koleksi buku cerita yang banyak itu agak bingung, dimana dia meletakkan robot-robotan dan mobil-mobilannya? Soalnya mereka-mereka itu belum kebagian tempat.

Setelah ditimbang-timbang, akhirnya Lupus memilih semuanya, robot, mobil, dan buku sama pentingnya. Lagi pula robot-robot itu nanti tak bakal kesepian, dia bisa baca buku cerita Lupus, kalau lagi iseng.

Maka setelah urusan rak buku selesai, Lupus kembali mengatur letak tempat tidur, letak kipas angin, letak meja belajar, dan lemari pakaian. Bagaimana agar semua bisa masuk, dan terletak manis dikamarnya. Mang Unang, yang suka memotong rumput itu, ikut membantu menggotong-gotong. Uhm ternyata mengatur kamar sendiri itu mengasyikkan. Lupus sampai lupa makan siang, kalau tidak lekas-lekas diingatkan Ibunya. “Sudahlah, Pus. Nanti bisa diteruskan, dan sekarang kamu makan siang dulu.”

Ibu Lupus memang orang yang baik hati. Tapi menurut Lupus, ibunya termasuk ibu yang lucu juga, walau kalau lagi marah tampangnya galak sekali. Ibu Lupus bersama ibu-ibu tetangga lainya, suka ikut kegiatan semacam Dharma Wanita. Lupus sendiri kurang begitu tau, apa nama kegiatan itu sebenarnya. Pokoknya, mereka suka mengadakan kumpul-kumpul, seminar menjadi ibu yang baik, atau sekedar mengobrol. Kegiatan itu biasanya berpusat dibalai pertemuan, dekat lapangan tenis.

Kalau lagi iseng, sambil nonton Bapak main tenis, Lupus suka mengintip ibunya yang ikut seminar. Pernah Lupus mendengar ada suatu pertanyaan yang diajukan oleh ibu pembina, “ibu-ibu sekalian, apa yang harus Ibu-ibu lakukan bila mengetahui anak Ibu secara teratur mencuri uang dari anggaran rumah tangga?”

sejenak ruangan balai pertemuan hening.

Tapi tiba-tiba Ibu Lupus menjawab lantang, “ Kita curi lagi uang jajannya!”

Ibu pembina pun terheran-heran, sedang Lupus tertawa terpingkal-pingkal di luar.

Tapi menurut Lupus, ada untungnya juga Ibu ikut perkumpulan seperti itu. Paling tidak, Lupus pernah mendengar pesan yang disampaikan kepada ibu-ibu: harus memberi kebebasan bermain bagi sang anak. Bahwa bermain-main bukanlah hal yang” mewah”, melaikan keharusan yang mutlak bagi anak-anak.

Makanya Ibu selalu memberi pekuang lebar-lebar bagi Lupus untuk bermain. Tapi sayangnya, Lupus suka terlalu sore pulang ke rumah.

Saking penasarannya, suatu waktu Ibu Lupus bertanya pada Lupus. “ Sebetulnya kamu itu main apa sih sampe sore begini baru pulang?”

“main yang jauuuh sekali...,” jawab Lupus sambil ngeloyor ke kamar mandi. Hihiihi. Dia takut kena jewer.

Tapi itulah. Pada dasarnya, ibu lupus memang ibu yang baik. Tiap sore, masih menyempatkan diri minum the dan kue bersama bapak, Lupus, dan si mungil Lulu. Saat sore itu, biasanya mereka bercerita-cerita kejadian yang dialami siangnya. Biasanya mulai dari Lulu, “ Bu, Kak Luputs celalu kalah dong kalo main halma cama Lulu.”

“O ya? Memangnya kamu sudah bisa melangkahkan biji-biji halma itu?”

“Bica, Bu. Kalo kak Luputs cudah memulai langkahnya, keltats halma itu langsung Lulu balik aja. Jadinya Kak Luputs kalah, kan, Bu?”

Ibunya tertawa, sambil menguap lebar. Uaaah, hari yang melelahkan.

Bapak Lupus juga termasuk bapak yang baik. Tapi yang paling menyebalkan bagi Lupus, bapaknya ini orangnya pelit sekali. Jarang mau beroyal-ria memberi uang jajan kepada Lupus. Pernah Lupus mau ikut acara piknik di sekolahnya, dan ia minta tambahan uang jajan ke bapak sambil sebelumnya berbaik hati dulu memijat kaki bapak. Tapi setelah capek memijit, dengan entengnya Bapak berkata, “ Tambahan jajan? Seratus perak cukup, kan?”

Idih Bapak. Seratus perak sih buatr beli roti kecil juga pas-pasan. Kan rencananya Lupus mau beli oleh-oleh, jajan es krim, beli kue, wah... macam-macam deh.

Tapi bapak tak memberi. Alasannya jangan jajan sembarangan. Nanti sakit perut. Bawa aja bekal nasi goreng dari rumah. Kan beres.

Lupus pun bersungut-sungut, dan ngambek nggak mau mijit kaki Bapaknya seminggu penuh.

Tapi sore ini Lupus sudah baikan lagi. Gara-gara dikasih kamar baru. Lulu yang tak dapat kamar, dari tadi diledek terus sama Lupus. Tapi Lulu pura-pura tak mendengar. Dia masih asyik bercinta ke Ibunya.

“Bu, Lulu tadi abis dali luma Lita, dong. Di cana, main lompat-lompatan. U, celu deh. Lita campe jatoh, kakinya beldalah, teluts dikacih obat melah. Tapi Lita main lagi. Lulu juga dikacih bubul kacang ijo cama maminya Lita. Enak lho, Bu. Manits. Anak-anak pada belebutan. E, Loni mukanya kena bubul, Bu. Dia nangits. Semua diomelin mami Lita. Iiih, maca Ibu tidul, cih? Lulu cebel... cebel... cebel...”

Olala. Rupanya saking capeknya mendengar cerita Lulu, ibu Lupus tertidur. Bapak dan Lupus juga. Suara dengkur tidur mereka saling bersahutan mesra.


Dan sekarang hari sudah gelap. Meski acara televisi belum habis, tetapi sudah dimatikan dari tadi. Hari ini, rupanya semua merasa letih. Merasa ingin lebih awal masuk dan terlelap tidur.

Lupus pun kini sudah berada di kamar barunya. Ini malam pertama dia tidur sendirian. Mula-mula biasa-biasa saja. Tapi lama-lama, suara gesekan daun diluar yang bertiup angin, mengusik Lupus yang tak kunjung dapat memejamkan mata.

Suara itu terdengar mengerikan.

Untuk sekedar mengusir takut, Lupus pun memandangi koleksi robot-robotnya. Satu demi satu. Tapi robot-robot yang biasanya nampak bersahabat itu, kini tidak. Sorot matanya tajam. Apalagi boneka E.T-nya. Jarinya yang merah seakan menyala-nyalal. Bergerak-gerak.

Bulu roma Lupus mulai berdiri satu-satu. Ia semakin menenggelamkan dirinya kedalam selimutnya yang tebal. Ah, tapi apa ini? Sepertinya ada yang mengilik-ngilik telapak kakinya.

“hiyaaa...!!!” dan dia pun melonjak kaget ketika salah satu robot-robotannya jatuh dari atas rak. Ia langsung terbirit-birit berlari ke luar kamar.

Lalu dengan mengendap-endap, masuk ke kama Ibu-Bapaknya yang tak terkunci. Pelan-pelan, ia naik ke atas tempat tidur Lulu yang mungil. Lalu tidur melingkar dibawah kaki Lulu.

Lulu yang ternyata belum tidur, tak bisa menahan cekikikannya. Ia pun tertawa cekikikan. Hihihihi... makanya kalo penakut jangan sok tau...

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar