1. Dapat Kamar Baru
Lupus kecil sudah merasa
besar. Ia ingin punya kamar sendiri. Tidak lagi disatukan sama Ibu
dan Bapak disebuah kamar besar di pusat rumah. Tidak lagi
bersebelahan dengan ranjang Lulu yang bentuknya mirip rumah boneka.
Itu bagus, kata bapak.
Seorang anak, apalagi laki-laki, memang harus tidur terpisah dari
orang tua. Belajar berani. Belajar mandiri, mengatur kamarnya
sendiri. Dan ibu pun mengabulkan permintaan Lupus. Di rumah Lupus
memang masih tersisa beberapa kamar kosong, yang biasa untuk menaruh
barang-barang atau menerima saudara yang menginap.
Lupus jelas girang,
permintaanya dituruti. Diledeknya Luku yang juga ingin dapat kamar
sendiri, tapi tak diizinkan Ibu. Alasannya, di samping masih terlalu
kecil, Lulu suka mengigau kalau malam. Suka kepingin pipis. Lupus
merasa senang, lantas senang. Lulu cuma diam saja dicibiri Lupus.
Maka seharian itu, Lupus
sibuk menata kamarnya. Rak buku yang baru dibelikan kayaknya jadi
pusat perhatian Lupus. Sebab Lupus punya koleksi buku cerita yang
banyak itu agak bingung, dimana dia meletakkan robot-robotan dan
mobil-mobilannya? Soalnya mereka-mereka itu belum kebagian tempat.
Setelah
ditimbang-timbang, akhirnya Lupus memilih semuanya, robot, mobil, dan
buku sama pentingnya. Lagi pula robot-robot itu nanti tak bakal
kesepian, dia bisa baca buku cerita Lupus, kalau lagi iseng.
Maka setelah urusan rak
buku selesai, Lupus kembali mengatur letak tempat tidur, letak kipas
angin, letak meja belajar, dan lemari pakaian. Bagaimana agar semua
bisa masuk, dan terletak manis dikamarnya. Mang Unang, yang suka
memotong rumput itu, ikut membantu menggotong-gotong. Uhm ternyata
mengatur kamar sendiri itu mengasyikkan. Lupus sampai lupa makan
siang, kalau tidak lekas-lekas diingatkan Ibunya. “Sudahlah, Pus.
Nanti bisa diteruskan, dan sekarang kamu makan siang dulu.”
Ibu Lupus memang orang
yang baik hati. Tapi menurut Lupus, ibunya termasuk ibu yang lucu
juga, walau kalau lagi marah tampangnya galak sekali. Ibu Lupus
bersama ibu-ibu tetangga lainya, suka ikut kegiatan semacam Dharma
Wanita. Lupus sendiri kurang begitu tau, apa nama kegiatan itu
sebenarnya. Pokoknya, mereka suka mengadakan kumpul-kumpul, seminar
menjadi ibu yang baik, atau sekedar mengobrol. Kegiatan itu biasanya
berpusat dibalai pertemuan, dekat lapangan tenis.
Kalau lagi iseng, sambil
nonton Bapak main tenis, Lupus suka mengintip ibunya yang ikut
seminar. Pernah Lupus mendengar ada suatu pertanyaan yang diajukan
oleh ibu pembina, “ibu-ibu sekalian, apa yang harus Ibu-ibu lakukan
bila mengetahui anak Ibu secara teratur mencuri uang dari anggaran
rumah tangga?”
sejenak ruangan balai
pertemuan hening.
Tapi tiba-tiba Ibu Lupus
menjawab lantang, “ Kita curi lagi uang jajannya!”
Ibu pembina pun
terheran-heran, sedang Lupus tertawa terpingkal-pingkal di luar.
Tapi menurut Lupus, ada
untungnya juga Ibu ikut perkumpulan seperti itu. Paling tidak, Lupus
pernah mendengar pesan yang disampaikan kepada ibu-ibu: harus memberi
kebebasan bermain bagi sang anak. Bahwa bermain-main bukanlah hal
yang” mewah”, melaikan keharusan yang mutlak bagi anak-anak.
Makanya Ibu selalu
memberi pekuang lebar-lebar bagi Lupus untuk bermain. Tapi sayangnya,
Lupus suka terlalu sore pulang ke rumah.
Saking penasarannya,
suatu waktu Ibu Lupus bertanya pada Lupus. “ Sebetulnya kamu itu
main apa sih sampe sore begini baru pulang?”
“main yang jauuuh
sekali...,” jawab Lupus sambil ngeloyor ke kamar mandi. Hihiihi.
Dia takut kena jewer.
Tapi itulah. Pada
dasarnya, ibu lupus memang ibu yang baik. Tiap sore, masih
menyempatkan diri minum the dan kue bersama bapak, Lupus, dan si
mungil Lulu. Saat sore itu, biasanya mereka bercerita-cerita kejadian
yang dialami siangnya. Biasanya mulai dari Lulu, “ Bu, Kak Luputs
celalu kalah dong kalo main halma cama Lulu.”
“O ya? Memangnya kamu
sudah bisa melangkahkan biji-biji halma itu?”
“Bica, Bu. Kalo kak
Luputs cudah memulai langkahnya, keltats halma itu langsung Lulu
balik aja. Jadinya Kak Luputs kalah, kan, Bu?”
Ibunya tertawa, sambil
menguap lebar. Uaaah, hari yang melelahkan.
Bapak Lupus juga termasuk
bapak yang baik. Tapi yang paling menyebalkan bagi Lupus, bapaknya
ini orangnya pelit sekali. Jarang mau beroyal-ria memberi uang jajan
kepada Lupus. Pernah Lupus mau ikut acara piknik di sekolahnya, dan
ia minta tambahan uang jajan ke bapak sambil sebelumnya berbaik hati
dulu memijat kaki bapak. Tapi setelah capek memijit, dengan entengnya
Bapak berkata, “ Tambahan jajan? Seratus perak cukup, kan?”
Idih Bapak. Seratus perak
sih buatr beli roti kecil juga pas-pasan. Kan rencananya Lupus mau
beli oleh-oleh, jajan es krim, beli kue, wah... macam-macam deh.
Tapi bapak tak memberi.
Alasannya jangan jajan sembarangan. Nanti sakit perut. Bawa aja bekal
nasi goreng dari rumah. Kan beres.
Lupus pun
bersungut-sungut, dan ngambek nggak mau mijit kaki Bapaknya seminggu
penuh.
Tapi sore ini Lupus sudah
baikan lagi. Gara-gara dikasih kamar baru. Lulu yang tak dapat kamar,
dari tadi diledek terus sama Lupus. Tapi Lulu pura-pura tak
mendengar. Dia masih asyik bercinta ke Ibunya.
“Bu, Lulu tadi abis
dali luma Lita, dong. Di cana, main lompat-lompatan. U, celu deh.
Lita campe jatoh, kakinya beldalah, teluts dikacih obat melah. Tapi
Lita main lagi. Lulu juga dikacih bubul kacang ijo cama maminya Lita.
Enak lho, Bu. Manits. Anak-anak pada belebutan. E, Loni mukanya kena
bubul, Bu. Dia nangits. Semua diomelin mami Lita. Iiih, maca Ibu
tidul, cih? Lulu cebel... cebel... cebel...”
Olala. Rupanya saking
capeknya mendengar cerita Lulu, ibu Lupus tertidur. Bapak dan Lupus
juga. Suara dengkur tidur mereka saling bersahutan mesra.
Dan sekarang hari sudah
gelap. Meski acara televisi belum habis, tetapi sudah dimatikan dari
tadi. Hari ini, rupanya semua merasa letih. Merasa ingin lebih awal
masuk dan terlelap tidur.
Lupus pun kini sudah
berada di kamar barunya. Ini malam pertama dia tidur sendirian.
Mula-mula biasa-biasa saja. Tapi lama-lama, suara gesekan daun diluar
yang bertiup angin, mengusik Lupus yang tak kunjung dapat memejamkan
mata.
Suara itu terdengar
mengerikan.
Untuk sekedar mengusir
takut, Lupus pun memandangi koleksi robot-robotnya. Satu demi satu.
Tapi robot-robot yang biasanya nampak bersahabat itu, kini tidak.
Sorot matanya tajam. Apalagi boneka E.T-nya. Jarinya yang merah
seakan menyala-nyalal. Bergerak-gerak.
Bulu roma Lupus mulai
berdiri satu-satu. Ia semakin menenggelamkan dirinya kedalam
selimutnya yang tebal. Ah, tapi apa ini? Sepertinya ada yang
mengilik-ngilik telapak kakinya.
“hiyaaa...!!!” dan
dia pun melonjak kaget ketika salah satu robot-robotannya jatuh dari
atas rak. Ia langsung terbirit-birit berlari ke luar kamar.
Lalu dengan
mengendap-endap, masuk ke kama Ibu-Bapaknya yang tak terkunci.
Pelan-pelan, ia naik ke atas tempat tidur Lulu yang mungil. Lalu
tidur melingkar dibawah kaki Lulu.
Lulu yang ternyata belum
tidur, tak bisa menahan cekikikannya. Ia pun tertawa cekikikan.
Hihihihi... makanya kalo penakut jangan sok tau...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar