-->
Cerita ini memang terjadi sekitar 10
tahun yang lalu.
Saat itu Lupus masih mungil, masih
berumur 7 tahun.
Tapi di beberapa bagian, situasinya ada
yang sengaja disesuaikan dengan situasi sekarang. Biar kalian enggak
bingung ngebayanginnya. Klo masih bingung, jongkok aja, ya?
SELAMAT
PAGI....
“Kukuruyuuuk...”
“Kukuruyuuuk... petok, petok,
petok... kukuruyuuuk....”
Hari masih pagi sekali. Baru jam lima.
Tapi ayam-ayam sudah mulai ramai. Saling bersahut-sahutan. Ada yang
keras, ada yang sedang-sedang saja, dan ada juga yang fales, tak enak
didengar. Mereka semua kompak. Teriak satu, teriak semua. Berkokok
satu, berkokok semua. Bertelur satu, bertelur semu... eh, enggak
ding. Yang jantan kan enggak bisa bertelur, ya?
Pokoknya, setiap pagi, mereka pada
koor membangunkan siapa saja. Dan mereka belum mau berhenti kalau
jendela rumah di situ belum terbuka, belum menunjukkan tanda-tanda
kehidupan.
“kukuruyuuuk... kukuruyuuuk...
kukuruyuuuk...! Hoiii...!
“ya, ya... saya sudah bangun.
Selamat pagi, ayam-ayam...” tiba-tiba muncul kepala mungil dari
balik jendela rumah itu. Sambil tersenyum manis. Kemudian memandang
matahari pagi yang masih bersinar malu-malu. Ayam-ayam pun ikut
tersenyum. Suasana jadi ceria, apalagi burung-burung ikut bernyanyi.
Pagi itu benar-benar indah.
“Cit... cit... cit....” Wah, suara
burung-burung itu benar-benar merdu. Kenapa mereka tak rekaman kaset
saja, ya?
Anak laki-laki itu pun membuka jendela
kamarnya lebar-lebar. Biar udara bisa bertukar. Biar udara pagi yang
sejuk masuk ke kamar. Nanti akan dihirupnya banyak-banyak. Ah...
segar sekali.
Dan ayam-ayam sudah mulai mencari
makan. Mencari makannya tidak jauh-jauh. Di situ-situ juga. Lain
dengan orang tua kita yang cari makannya mesti pergi ke kantor dulu,
padahal di kantor belum tentu ada makanan. Paling-paling mesin tik
dan arsip-arsip. Aneh juga ya, orang tua kita itu.
Matahari sekarang tidak malu lagi
bersinar, karena sudah masuk jam tugasnya. Dia sorotkan kuat-kuat
sinarnya ke bumi biar terang. Eh, matahari pernah kesal juga lho,
waktu dibilang kurang perlu bila dibanding bulan. Sebab, katanya,
kalau siang hari itu sudah terang, jadi apa gunanya matahari? Sedang
malam kan gelap gulita, jadi bulan lebih perlu... hihihi. Ada-ada
aja, ya?
Hei lihat! Burung-burung itu mulai
melesat ke sarang masing-masing. “...dan saya harus melesat ke
kamar mandi...,” pikir anak yang tadi.
Byur byur byur! Terdengar suara
jebyar-jebyur dari kamar mandi. Semangat. Mandi memang perlu
semangat.
Gedubrak! Eh, bunyi apaan, tuh? Ya,
ampun, kalau membuka pintu kamar mandi tidak usah pake semangat dong.
Akibatnya, ya, engselnya copot dan menimpa anak lelaki tadi.
Kelihatannya benjol. Tapi, kok anak itu cuek bebek? Malah
bersiul-siul melenggang ke kamarnya. Tapi, apa yang terjadi setelah
anak itu masuk kamar dan menutup pintu? “ Adaaaoooo... kepala saya,
sakiiiit!!” anak itu menjerit keras.
Hihihi... rupanya dia tadi malu 'kali.
Takut diketawain adiknya. Hihihi...
sekarang si kepala benjol sudah siap
dengan baju seragamnya. Seragam apa? Seragam silat? Hus? Jangan
ngaco, ya? Masa ke sekolah pakai baju seragam silat? Salah dong. Yang
betul seragam renang... hihihi. Ya, anak itu ternyata memakai baju
seragam sekolah, putih-merah. Sebab dia sudah kelas satu SD. Umurnya
sudah tujuh tahun. Jadi sudah wajib sekolah.
Mau tau namanya? Yah. Sebentar, kita
sama-sama kenalan aja.
Eh, ternyata anak laki-laki benjol itu
bernama Lupus.
Lupus?
Iya, Lupus. Anaknya yang punya rambut
tebal, bermata bulat, punya hidung lucu itu memang bernama Lupus.
Kata dia, gampang kok ngenalnya. Kalau kamu lagi jalan-jalan, terus
ketemu anak kecil dan kamu tanya namanyam dia menjawab “Lupus”,nah,
berarti dia itu Lupus.
Ya, dia itu anak jujur. Nggak pernah
mengaku-ngaku Udin, Adang, atau Enjum, dia cukup bangga kok dengan
namanya yang secomot itu.
Lupus ini punya satu saudara. Dia anak
pertama dari dua bersaudara. Jadi ibunya punya saudara dua. Satu
Lupus, satunya saudaranya lagi. Saudaranya lupus itu saudaranya
ibunya juga. Saudaranya itu anak kedua dari dua bersaudara.
Saudaranya saudara-saudara, saudara siapa? Aduh... kenapa jadi begini
ya, saudara-saudara?
Maksudnya gini, lho. Lupus itu punya
adik. Adik itu saudaranya Lupus. Jadi antara adiknya Lupus dan Lupus
saling bersaudara. Saudaranya saudara... aduh! Mulai lagi tuh! Nama
saudara Lupus itu Lulu. Anaknya perempuan... eh, maksudnya dia anak
perempuan. Umurnya baru enam tahun. Sekolah di Taman Kanak-kanak.
Wajahnya manis mirip kakaknya. Sedang hidung saya, kata Lupus, pesek
tidak mirip adik saya, weee... bolehnya ngiri!
Nah, sekarang dua saudara itu tengah
menuju ke sekolah. Sekolah Lupus dan sekolah Lulu berdekatan. Saking
dekatnya, jadi sering senggol-senggolan. Dan kemana-mana, sekolah
itu, selalu berdua. Akrab 'kali, ya?
Lupus dan Lulu tidak pernah mita
diantar. Pulangnya juga tidak minta dijemput. Tapi sekali-sekali
mereka juga naik becak ke sekolah. Pernah lho Lupus mengejar-ngejar
becak dari jalan depan sekolahnya sampai gang depan rumahnya. Abang
becak sempat heran. Ada apa, nih? Taunya, “saya cuma mau ngirit dua
ratus rupiah saha kok. Boleh kan, bang?”
hihihi
Lupus selalu ada-ada saja ternyata.
Dia selalu ada bila di situ banyak kembang gula. Anak ini suka sekali
kembang gula. Tau kembang gula? Itu lho, makanan yang terbuat dari
kembang, yang di atasnya ditaburi gula! Hihihi.
Dan sekali caplok, mulut Lupus bisa
memuat lima atau enam kembang gula. Bukannya serakah, biar rasanya
bisa meriah kayak taman-ria, ujar Lupus.
Walau baru kelas satu, Lupus ini sudah
hobi membaca, dia sudah pandai mengeja. Seperti i-en-i-ni
dibaca 'ini'. Be-u-bu de-i-di dibaca
'budi'. Kalau
disambung jadi, 'ienini beubudeidi,”
kata Lupus.
Sedang si Lulu
belum kenal huruf, tapi sudah tau gambar. Lulu pandai sekali menebak
gambar. Sekali waktu disodorkan gambar bebek. Lulu dengan cepat
menjawab: bebek! Gambar panda: panda! Gambar ayam juga dijawab: ayam!
Sedang gambar gorilam dia langsung... menangis. Wao! Wao! Wao! Kalau
sudah menangis, Lulu susah berhentinya. Dia baru berhenti kalau
kepingin tertawa. “Abits,” kata Lulu,” cucah cih ketawa cambil
nangits. Hihihi.”
O
ya. Lulu memang masih cadel. Masih belum bisa menyebut huruf “s”
dan “r” dengan baik. Padahal umurnya sudah enam tahun, lho.
Mungkin ini karena lidahnya Lulu emang pendek atau gara-gara
kebiasaan ibu-nya yang ikut-ikutan ngomong cadel waktu Lulu masih
kecil. Tapi nggak apa-apa, asal saat menangis jangan cadel aja. Nggak
enak didengar sih!
-->
Ah, tapi masa iya
sih anak umur enam tahun masih cadel? Hihihi..., ini memang rahasia.
Sebetulnya sejak setahun yang lalu Lulu sudah tidak cadel. Tapi
karena dia memang anak manja, jadi ngomongnya tetap dicadel-cadelin.
Biartetap disayang Ibu. Kita sih pura-pura ngga tau aja, ya?
Iya. Dan sekrang
kita lihat dulu apa kesukaan Lupus di sekolah. Ternyata anak ini
punya hobi menggambar. Bakatnya sudah kelihatan, memang. Seperti saat
senggang, ia sering kali menggambari dinding kelasnya. Diurek-urek
sesukanya. Ada suatu kuda lari, ada ayam ada pemandangan. Tapi itu
jelas tidak baik.
Sudah pasti Lupus
kena tegur Ibu Guru. “kenapa kamu mencoret-coret dinding kelas kita
itu, lupus?”
“saya
mencoretinya kalau buku gambar saya habis, Bu,” jawab Lupus. Ya,
lebih baik dari itu tidak. Tidak pernah Lupus menggambari dinding,
kalau buku gambarnya masih banyak yang kosong.
Tapi sekali waktu
pernah juga, ketika Lupus ingin menggambar kereta api yang panjang
sekali. Setelah menggambar lokomotif dikertasnya, dia menyambung
gerbong keretanya ke dinding kelas dan terus... ke lantai. Mungkin
Lupus akan terus ke luar kelas, berdiri di gang, untuk menyelesaikan
gambar gerbong terakhirnya.
Di sekolah Lupus
termasuk anak yang disenangi, karena orangnya periang dan tidak
cengeng. Lupus paling berani kalau disuruh menyanyi di depan kelas.
Biasanya tiap disuruh menyanyi, dia pasti menyanyikan lagu
kesukaannya. Gundul Pacul.
“Gundul-gundul
pacul cul gembelengan
“gundul-gundul
pacul cul gembelengan..”
selalu lahu itu.
Pernah, mungkin karena ibu guru merasa bosan, Lupus disuruh
menyanyikan lagu yang lain, misalnya Halo-halo Bandung
Maka Lupus
pun langusung maju ke depan kelas, dan menyanyi:
“halo-halo
bandung dung gembelengan”
“halo-halo
bandung dung gembelengan”
hihihihi...
anak-anak pun pada tertawa. Karena Lupus menyanyikan lagu Halo-halo
Bandung dengan irama Gundul-gundul Pacul
Lupus dirumah juga
suka mendengarkan radio. Biasanya pas sore-sore, saat radio memutar
lagu anak-anak. Tapi tak cuma lagunya, warta berita juga Lupus suka.
Suatu hari Bapak
pernah membelikan radio mungil buat Lupus. Warnanya merah. Bentunya
indah. Lupus begitu gembira. Setiap hari, disetelnya radio itu. Tapi
kata Ibu, sebaiknya jangan dibawa tidur. Kasihan, nanti radionya
capek. Tidak istirahat-istirahat.
“malahan,”
kata Lupus, “radio ini selalu Lupus selimuti biar hangat, biar
tidurnya nyenyak. Sampai dia ngorok terus. Kresek, kresek... begitu,
Bu.”
berbeda dengan
Lulu, Lupus memang agak keras kepala. Dia selalu yakin apa yang
dikatakannya selalu benar. Pernah ditanya, binatang apa yang paling
kecil di dunia? Jawabnya: Gajah. Aneh, kan? Tapi dia tak mau tau.
Pokoknya jawaban itu harus dianggap betul. Biar bagaimanapun juga
Lupus tidak mau mengganti jawabannya. Kalai masih keberatan juga,
kata Lupus, lebih baik pertanyaannya saja yang diganti, dicocokkan
dengan jawabanya. Pasti nanti betul.
Yah, itulah Lupus.
Yang setiap hari
selalu ceria. Mungkin sebagian dari kamu sudah pernah mendengar
cerita setelah besar. Setelah kelas dua SMA Merah-Putih. Nah, ini
memang catatan saat Lupus masih kecil. Wow, ceritanya nggak kalah
seru. Kebetulan sore itu dia ada janji dengan Pepno, sahabat
kentalnya, untuk bermain sepeda keliling kompleks. O ya, Lupus memang
suka main sepeda. Tapi sayangnya dia malas genjot. Jadi kalo kepingin
main sepeda, dia suka pinjam kakinya Lulu buat genjot. Hihihi...
Iya, deh. Kita
lihat saja tingkahnya yang aneh-aneh. Mudah-mudahan dia tidak jatuh
lagi. Habis Lupus ini hobi banget mengangkat roda depan sepedanya,
untuk bergaya. Maka tak heran kalau kamu akan menemukan pulau-pulau
kecil di betis atau lengannya yang bekas luka.
Dia itu sebenarnya
nakal tidak, tidak nakal tidak. Bingung, ya? Lupus memang suka bikin
bingung kok. Tapi kalai kamu sekarang sudah mulai suka melihat
kekonyolan-kekonyolannya, berarti kamu bisa jadi teman baik dia.
Nah, selamat
berkenalan, anak manis!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar