Jumat, 02 November 2012

Selamat Pagi... (Lupus Kecil)

-->

Cerita ini memang terjadi sekitar 10 tahun yang lalu.

Saat itu Lupus masih mungil, masih berumur 7 tahun.

Tapi di beberapa bagian, situasinya ada yang sengaja disesuaikan dengan situasi sekarang. Biar kalian enggak bingung ngebayanginnya. Klo masih bingung, jongkok aja, ya?


SELAMAT PAGI....


“Kukuruyuuuk...”

“Kukuruyuuuk... petok, petok, petok... kukuruyuuuk....”

Hari masih pagi sekali. Baru jam lima. Tapi ayam-ayam sudah mulai ramai. Saling bersahut-sahutan. Ada yang keras, ada yang sedang-sedang saja, dan ada juga yang fales, tak enak didengar. Mereka semua kompak. Teriak satu, teriak semua. Berkokok satu, berkokok semua. Bertelur satu, bertelur semu... eh, enggak ding. Yang jantan kan enggak bisa bertelur, ya?

Pokoknya, setiap pagi, mereka pada koor membangunkan siapa saja. Dan mereka belum mau berhenti kalau jendela rumah di situ belum terbuka, belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

“kukuruyuuuk... kukuruyuuuk... kukuruyuuuk...! Hoiii...!

“ya, ya... saya sudah bangun. Selamat pagi, ayam-ayam...” tiba-tiba muncul kepala mungil dari balik jendela rumah itu. Sambil tersenyum manis. Kemudian memandang matahari pagi yang masih bersinar malu-malu. Ayam-ayam pun ikut tersenyum. Suasana jadi ceria, apalagi burung-burung ikut bernyanyi. Pagi itu benar-benar indah.


“Cit... cit... cit....” Wah, suara burung-burung itu benar-benar merdu. Kenapa mereka tak rekaman kaset saja, ya?

Anak laki-laki itu pun membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Biar udara bisa bertukar. Biar udara pagi yang sejuk masuk ke kamar. Nanti akan dihirupnya banyak-banyak. Ah... segar sekali.

Dan ayam-ayam sudah mulai mencari makan. Mencari makannya tidak jauh-jauh. Di situ-situ juga. Lain dengan orang tua kita yang cari makannya mesti pergi ke kantor dulu, padahal di kantor belum tentu ada makanan. Paling-paling mesin tik dan arsip-arsip. Aneh juga ya, orang tua kita itu.

Matahari sekarang tidak malu lagi bersinar, karena sudah masuk jam tugasnya. Dia sorotkan kuat-kuat sinarnya ke bumi biar terang. Eh, matahari pernah kesal juga lho, waktu dibilang kurang perlu bila dibanding bulan. Sebab, katanya, kalau siang hari itu sudah terang, jadi apa gunanya matahari? Sedang malam kan gelap gulita, jadi bulan lebih perlu... hihihi. Ada-ada aja, ya?

Hei lihat! Burung-burung itu mulai melesat ke sarang masing-masing. “...dan saya harus melesat ke kamar mandi...,” pikir anak yang tadi.

Byur byur byur! Terdengar suara jebyar-jebyur dari kamar mandi. Semangat. Mandi memang perlu semangat.

Gedubrak! Eh, bunyi apaan, tuh? Ya, ampun, kalau membuka pintu kamar mandi tidak usah pake semangat dong. Akibatnya, ya, engselnya copot dan menimpa anak lelaki tadi. Kelihatannya benjol. Tapi, kok anak itu cuek bebek? Malah bersiul-siul melenggang ke kamarnya. Tapi, apa yang terjadi setelah anak itu masuk kamar dan menutup pintu? “ Adaaaoooo... kepala saya, sakiiiit!!” anak itu menjerit keras.

Hihihi... rupanya dia tadi malu 'kali. Takut diketawain adiknya. Hihihi...

sekarang si kepala benjol sudah siap dengan baju seragamnya. Seragam apa? Seragam silat? Hus? Jangan ngaco, ya? Masa ke sekolah pakai baju seragam silat? Salah dong. Yang betul seragam renang... hihihi. Ya, anak itu ternyata memakai baju seragam sekolah, putih-merah. Sebab dia sudah kelas satu SD. Umurnya sudah tujuh tahun. Jadi sudah wajib sekolah.

Mau tau namanya? Yah. Sebentar, kita sama-sama kenalan aja.

Eh, ternyata anak laki-laki benjol itu bernama Lupus.

Lupus?

Iya, Lupus. Anaknya yang punya rambut tebal, bermata bulat, punya hidung lucu itu memang bernama Lupus. Kata dia, gampang kok ngenalnya. Kalau kamu lagi jalan-jalan, terus ketemu anak kecil dan kamu tanya namanyam dia menjawab “Lupus”,nah, berarti dia itu Lupus.

Ya, dia itu anak jujur. Nggak pernah mengaku-ngaku Udin, Adang, atau Enjum, dia cukup bangga kok dengan namanya yang secomot itu.

Lupus ini punya satu saudara. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Jadi ibunya punya saudara dua. Satu Lupus, satunya saudaranya lagi. Saudaranya lupus itu saudaranya ibunya juga. Saudaranya itu anak kedua dari dua bersaudara. Saudaranya saudara-saudara, saudara siapa? Aduh... kenapa jadi begini ya, saudara-saudara?

Maksudnya gini, lho. Lupus itu punya adik. Adik itu saudaranya Lupus. Jadi antara adiknya Lupus dan Lupus saling bersaudara. Saudaranya saudara... aduh! Mulai lagi tuh! Nama saudara Lupus itu Lulu. Anaknya perempuan... eh, maksudnya dia anak perempuan. Umurnya baru enam tahun. Sekolah di Taman Kanak-kanak. Wajahnya manis mirip kakaknya. Sedang hidung saya, kata Lupus, pesek tidak mirip adik saya, weee... bolehnya ngiri!

Nah, sekarang dua saudara itu tengah menuju ke sekolah. Sekolah Lupus dan sekolah Lulu berdekatan. Saking dekatnya, jadi sering senggol-senggolan. Dan kemana-mana, sekolah itu, selalu berdua. Akrab 'kali, ya?

Lupus dan Lulu tidak pernah mita diantar. Pulangnya juga tidak minta dijemput. Tapi sekali-sekali mereka juga naik becak ke sekolah. Pernah lho Lupus mengejar-ngejar becak dari jalan depan sekolahnya sampai gang depan rumahnya. Abang becak sempat heran. Ada apa, nih? Taunya, “saya cuma mau ngirit dua ratus rupiah saha kok. Boleh kan, bang?”

hihihi

Lupus selalu ada-ada saja ternyata. Dia selalu ada bila di situ banyak kembang gula. Anak ini suka sekali kembang gula. Tau kembang gula? Itu lho, makanan yang terbuat dari kembang, yang di atasnya ditaburi gula! Hihihi.

Dan sekali caplok, mulut Lupus bisa memuat lima atau enam kembang gula. Bukannya serakah, biar rasanya bisa meriah kayak taman-ria, ujar Lupus.

Walau baru kelas satu, Lupus ini sudah hobi membaca, dia sudah pandai mengeja. Seperti i-en-i-ni dibaca 'ini'. Be-u-bu de-i-di dibaca 'budi'. Kalau disambung jadi, 'ienini beubudeidi,” kata Lupus.

Sedang si Lulu belum kenal huruf, tapi sudah tau gambar. Lulu pandai sekali menebak gambar. Sekali waktu disodorkan gambar bebek. Lulu dengan cepat menjawab: bebek! Gambar panda: panda! Gambar ayam juga dijawab: ayam! Sedang gambar gorilam dia langsung... menangis. Wao! Wao! Wao! Kalau sudah menangis, Lulu susah berhentinya. Dia baru berhenti kalau kepingin tertawa. “Abits,” kata Lulu,” cucah cih ketawa cambil nangits. Hihihi.”

O ya. Lulu memang masih cadel. Masih belum bisa menyebut huruf “s” dan “r” dengan baik. Padahal umurnya sudah enam tahun, lho. Mungkin ini karena lidahnya Lulu emang pendek atau gara-gara kebiasaan ibu-nya yang ikut-ikutan ngomong cadel waktu Lulu masih kecil. Tapi nggak apa-apa, asal saat menangis jangan cadel aja. Nggak enak didengar sih!


-->

Ah, tapi masa iya sih anak umur enam tahun masih cadel? Hihihi..., ini memang rahasia. Sebetulnya sejak setahun yang lalu Lulu sudah tidak cadel. Tapi karena dia memang anak manja, jadi ngomongnya tetap dicadel-cadelin. Biartetap disayang Ibu. Kita sih pura-pura ngga tau aja, ya?

Iya. Dan sekrang kita lihat dulu apa kesukaan Lupus di sekolah. Ternyata anak ini punya hobi menggambar. Bakatnya sudah kelihatan, memang. Seperti saat senggang, ia sering kali menggambari dinding kelasnya. Diurek-urek sesukanya. Ada suatu kuda lari, ada ayam ada pemandangan. Tapi itu jelas tidak baik.

Sudah pasti Lupus kena tegur Ibu Guru. “kenapa kamu mencoret-coret dinding kelas kita itu, lupus?”

“saya mencoretinya kalau buku gambar saya habis, Bu,” jawab Lupus. Ya, lebih baik dari itu tidak. Tidak pernah Lupus menggambari dinding, kalau buku gambarnya masih banyak yang kosong.

Tapi sekali waktu pernah juga, ketika Lupus ingin menggambar kereta api yang panjang sekali. Setelah menggambar lokomotif dikertasnya, dia menyambung gerbong keretanya ke dinding kelas dan terus... ke lantai. Mungkin Lupus akan terus ke luar kelas, berdiri di gang, untuk menyelesaikan gambar gerbong terakhirnya.

Di sekolah Lupus termasuk anak yang disenangi, karena orangnya periang dan tidak cengeng. Lupus paling berani kalau disuruh menyanyi di depan kelas. Biasanya tiap disuruh menyanyi, dia pasti menyanyikan lagu kesukaannya. Gundul Pacul.

“Gundul-gundul pacul cul gembelengan

“gundul-gundul pacul cul gembelengan..”

selalu lahu itu. Pernah, mungkin karena ibu guru merasa bosan, Lupus disuruh menyanyikan lagu yang lain, misalnya Halo-halo Bandung

Maka Lupus pun langusung maju ke depan kelas, dan menyanyi:

“halo-halo bandung dung gembelengan”

“halo-halo bandung dung gembelengan”

hihihihi... anak-anak pun pada tertawa. Karena Lupus menyanyikan lagu Halo-halo Bandung dengan irama Gundul-gundul Pacul

Lupus dirumah juga suka mendengarkan radio. Biasanya pas sore-sore, saat radio memutar lagu anak-anak. Tapi tak cuma lagunya, warta berita juga Lupus suka.

Suatu hari Bapak pernah membelikan radio mungil buat Lupus. Warnanya merah. Bentunya indah. Lupus begitu gembira. Setiap hari, disetelnya radio itu. Tapi kata Ibu, sebaiknya jangan dibawa tidur. Kasihan, nanti radionya capek. Tidak istirahat-istirahat.

“malahan,” kata Lupus, “radio ini selalu Lupus selimuti biar hangat, biar tidurnya nyenyak. Sampai dia ngorok terus. Kresek, kresek... begitu, Bu.”

berbeda dengan Lulu, Lupus memang agak keras kepala. Dia selalu yakin apa yang dikatakannya selalu benar. Pernah ditanya, binatang apa yang paling kecil di dunia? Jawabnya: Gajah. Aneh, kan? Tapi dia tak mau tau. Pokoknya jawaban itu harus dianggap betul. Biar bagaimanapun juga Lupus tidak mau mengganti jawabannya. Kalai masih keberatan juga, kata Lupus, lebih baik pertanyaannya saja yang diganti, dicocokkan dengan jawabanya. Pasti nanti betul.

Yah, itulah Lupus.

Yang setiap hari selalu ceria. Mungkin sebagian dari kamu sudah pernah mendengar cerita setelah besar. Setelah kelas dua SMA Merah-Putih. Nah, ini memang catatan saat Lupus masih kecil. Wow, ceritanya nggak kalah seru. Kebetulan sore itu dia ada janji dengan Pepno, sahabat kentalnya, untuk bermain sepeda keliling kompleks. O ya, Lupus memang suka main sepeda. Tapi sayangnya dia malas genjot. Jadi kalo kepingin main sepeda, dia suka pinjam kakinya Lulu buat genjot. Hihihi...

Iya, deh. Kita lihat saja tingkahnya yang aneh-aneh. Mudah-mudahan dia tidak jatuh lagi. Habis Lupus ini hobi banget mengangkat roda depan sepedanya, untuk bergaya. Maka tak heran kalau kamu akan menemukan pulau-pulau kecil di betis atau lengannya yang bekas luka.

Dia itu sebenarnya nakal tidak, tidak nakal tidak. Bingung, ya? Lupus memang suka bikin bingung kok. Tapi kalai kamu sekarang sudah mulai suka melihat kekonyolan-kekonyolannya, berarti kamu bisa jadi teman baik dia.

Nah, selamat berkenalan, anak manis!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar