5. ke sekolah
Pagi-pagi sekali Lupus
sudah bangun. Maklum, kalau tidak bangun pagi-pagi, dia bisa
terlambat pergi ke sekolah. Dan kalau sampai terlambat ke sekolah,
Lupus bisa kena setrap. Kalau sampai kena strap, Lupus bisa disuruh
berdiri di pojokan kelas sepanjang pagi. Kalau sampai disuruh berdiri
di pojokan kelas, Lupus bisa malu. Kalau sampai malu... ah, makanya,
Lupus lebih baik tidak terlambat ke sekolah.
Tapi sebetulnya, Lupus
masih suka dibangunkan ibunya daripada bangun sendiri. Pernah sekali
Lupus berpesan pada ibunya agar jangan dibangunkan. Akibatnya Lupus
baru bangun ketika jam dinding di rumahnya berdentang sembilan kali.
Makanya Lupus hingga sekarang lebih suka dibangunkan saja. Lupus
sendiri heran, kenapa dia susah bangun pagi. Padahal menurutnya, dia
tidak pernah tidur terlalu larut. Paling-paling jam sembilan sudah
masuk kamar. Cuma, ya di kamar dia suka keasyikan baca buku cerita
hingga larut malam.
Kegiatan Lupus setiap
pagi selain bangun tidur, biasanya ngulet-ngulet sedikit. Tau ngulet,
kan? Itu lho, senam gaya ulet. Ya, habis senamnya kan di tempat
tidur. Lupus kadang juga suka lari pagi. Berkeliling-keliling
kompleks perumahan sebanyak satu kali. Larinya kadang-kadang pelan,
kadang-kadang cepat. Lupus suka lari cepat kalau kebetulan dikejar
sama anjing tetangga yang galak. Hihi... setelah lari pagi, biasanya
Lupus mandi. Tak lupa sikat gigi, kalau kebetulan ditunggu Ibu. Habis
itu handukan. Yah, terpaksa handukan ini diharuskan jadi kebiasaan.
Karena Lupus setelah mandi suka lupa handukan. Masih basah kuyup,
langsung pakai baju seragam. Kan jadi basah semua, ya, bajunya.
Setelah urusan mandi selesai, Lupus sarapan. Untuk sarapan ini tidak
biasa makan nasi. Tapi cukup lontong sayur saja. Tapi kadang-kadang,
dia juga makan roti.
Sehabis makan roti,
biasanya sih masih ada sedikit waktu untuk sekedar mengobrol dengan
adiknya Lulu, atau dengan Ibunya yang sedang mengolesi roti buat
bapak di meja makan.
“Bu, semalam Lupus
mimpi dikejar-kejar raksasa. Uh, tegang deh. Lupus lari
sekuat-kuatnya,” celoteh Lupus seru.
Ibunya memandang
sebentar. Lalu dengan pelan berujar, “O, pantas kasurmu basah
semua. Mungkin itu cucuran keringatmu, ya, Pus,” sindir Ibunya
menahan tawa.
Lulu sudah cekikikan saja
di ujung meja. Ih, ketahuan. Lupus pasti ngompol. Lupus memang paling
bisa berdalih kalau dia ketahuan ngompol.
Tapi Lupus pura-pura tak
mendengar sindiran Ibunya. Dia malah mengalihkan pembicaraan. “Eh,
tapi kemarin Lupus di sekolah dapt hapusan potlot. Bagus deh, Bu.
Bentuknya seperti mobil-mobilan. Wangi lagi....
“Ah, kamu dapat nyuri,
ya?” sergah ibunya ketika Lupus menunjukkan penghapus barunya.
“Enggak, Bu.”
“Kamu dapat dari mana?”
“Dapat nemu di tempat
pinsilnya Pepno yang sedang terbuka, Bu. Bagus, ya?”
Dan Lupus pun langsung
melonpat turun dari kursinya ketika ada suara teman memanggil.
“Lupus berangkat, Bu,
Pak. Sampai ketemu nanti siang, ya?”
“Lupuuuuus, penghapus
itu..”
Ibunya berusaha menahan,
tapi Lupus sudah berlarian menyambut teman-temannya.
***
Si Pepno, teman Lupus
yang baru berulang tahun itu, kebetulan juga sekelas dengan Lupus.
Tapi herannya, tiap hari Pepno selalu terlambat tiba di sekolah.
Sampai guru-guru sudah bosan menghukumnya.
Lupus suka heran. Apa di
rumahnya Pepno sulit dibangunkan kalau pagi hari? Kalau memang sulit,
Lupus punya cara yang tepat untuk membangunkan anak nakal di pagi
hari. Banjur saja dengan seember air dingin. Atau kalau cara itu
dirasakan repot, karena akan membuat kasur basah, getok aja kepala si
anak itu dengan batu bata. Wah, pasti dia akan lekas bangun.
Ah, tapi mungkin saja
maminya Pepno tidak sampai hati melakukan itu. Karena Pepno memang
agak disayang. Jadi mana mungkin maminya mau membangunkan dengan cara
itu.
Jadi harus dicarikan cara
lain. Misalnya dengan memasang jam weker tepat pukul enam pagi.
“Tapi, sebetulnya
kenapa sih kamu suka terlambat?” tanya Lupus penasaran.
“Sebetulnya bukan salah
saya, Pus,” ujar Pepno. “Yang salah gurunya.”
“Lho, kok gurunya?”
“Abis mereka datang
terlalu cepat sih....”
Lupus bengong. Ah, masa
iya?
Iya, kata Pepno. Dan
Lupus tak percaya. Sama seperti tak percayanya Lupus pada
cerita-cerita Pepno yang lainnya. Kalai duduk sebangku di kelas,
Pepno memang suka cerita macem-macem. Tentang kucingnya yang katanya
bisa menghilang, tentang kelincinya yang bisa berbicara.
Tapi Lupus tak pernah
percaya.
Pagi ini pun, nampaknya
Pepno mulai mau bercerita lagi.
“Pus, semalam aku
ditinggal di rumah sendirian. Habis, Papi sama Mami pergi ke doter
mengantar adikku. Aku nggak takut, Pus.”
“Ah, aku tak percaya,
Pep,” ujar Lupus seperti biasanya.
Pepno mulai sibuk
meyakinkan. “Aku betul-betul sendirian di rumah, Pus. Hanya bibiku
saja di dapur, Mang Iip di ruang tamu, Mbok Minang di serambi, dan
kakekku di kamar. Aku hanya sendirian nonton tipi, Pus...”
Lupus cekikikan.
Dan di samping Pepno,
Lupus juga punya temen yang lucu. Namanya Uwi. Kata Lupus, Uwi ini
mukanya kayak belalang. Panjang dan lancip. Tapi Uwi bilang, Lupus
kayak marmut. Gemar merengut. Kalau sudah main ledek-ledekan begitu,
Lupus dan Uwi cuma ketawa bareng.
Lupus suka Uwi, karena
anak perempuan nakal in sebenarnya cerdas. Paling asyik diajak main
tebak-tebakan. Waktu ulang tahun Pepno, Uwi ngasih kado pulpen mungil
satu biji yang dilapisi berlapis-lapis koran hingga kadonya kelihatan
besar. Di dalamnya, ada juga batu keriki, biar agak berat.
Pepno sampai frustasi
waktu buka kado Uwi. Dikira dalamnya ada robot-robotan, atau pesawat
tempur. Nggak taunya cuma pulpen yang mungil.
Di dalam kadonya, ada
sederetan kalimat ucapan ulang tahun buat Pepno, disertai kata-kata
mutiara yang lucu. “Jangan memandang keikhlasannya, tapi
pandanglah... harganya.”
Lupus sampai
terpingkal-pingkal ketika diceritai.
Ketika turun main, Lupus
sering asyik belajar bersama Uwi. Biasanya jadi sembarangan, karena
kedua anak itu memang ajaib. Biasanya Uwi yang membacakan dari buku,
sambil memandangi buku bergambar. Sedang Lupus asyik memasukkan roti
bekal Uwi ke dalam mulutnya hingga habis tak bersisa.
“Ikan bernapas dengan
apanya, Pus?” ujar Uwi.
Lupus berpikir sejenak.
Lalu sambil menguyah roti, dia menjawab,”Dengan insang.”
“Ya, betul. Kalo ular,
Pus?”
“Ular? Ng.... dengan
kulitnya!”
“Seratus! Kalo gajah
bernafas dengan...?”
“Hidungnya!”
“Salah!”
“Kupingnya!”
“Salah!”
Lupus menelan potongan
roti yang terakhir. “Jadi dengan apa?” tanyanya sambil memandang
ke arah Uwi.
“Gajah bernafas
dengan... teman-temannya!” ujar Uwi sambil menyembunyikan mukanya
menahan tawa di balik buku bergambar. “Hihihihi.... iya, kan?
Mereka selalu bergerombol.”
Lupus keki. Lalu sambil
menutup kotak tempat kue Uwi yang sudah kosong, dia berkata, “Kalau
kodok bernafas dengan...?”
“Dengan paru-paru!”
jawab Uwi.
“Salah, Wi. Kodok
bernafas dengan... izin Tuhan. Hihihi.”
Pepno pun datang
meramaikan suasanan.
“Bulu apa yang bisa
marah?” kata Pepno.
“Bu lurah,” jawab
Uwi.
“Bulu apa yang bisa
nangkis?”
“Bulu tangkis.”
“Bulu apa yang paling
jelek?”
“Buku ketek.”
“Bulu apa yang paling
jauh?”
“Bulu roma... ibu kota
Itali.”
“Bulu... ng, apa lagi,
ya?” Pepno berfikir.
“Ini Pep,” celetuk
Lupus,” bulu apa yang mirip kamu, Pep?”
“Apa, ya?”
“Bulukan. Hihihi....”
Bel masuk pun berdentang
lantang. Kelontang-kelonteng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar