Kamis, 08 November 2012

Ke Sekolah- Lupus Kecil

5. ke sekolah


Pagi-pagi sekali Lupus sudah bangun. Maklum, kalau tidak bangun pagi-pagi, dia bisa terlambat pergi ke sekolah. Dan kalau sampai terlambat ke sekolah, Lupus bisa kena setrap. Kalau sampai kena strap, Lupus bisa disuruh berdiri di pojokan kelas sepanjang pagi. Kalau sampai disuruh berdiri di pojokan kelas, Lupus bisa malu. Kalau sampai malu... ah, makanya, Lupus lebih baik tidak terlambat ke sekolah.

Tapi sebetulnya, Lupus masih suka dibangunkan ibunya daripada bangun sendiri. Pernah sekali Lupus berpesan pada ibunya agar jangan dibangunkan. Akibatnya Lupus baru bangun ketika jam dinding di rumahnya berdentang sembilan kali. Makanya Lupus hingga sekarang lebih suka dibangunkan saja. Lupus sendiri heran, kenapa dia susah bangun pagi. Padahal menurutnya, dia tidak pernah tidur terlalu larut. Paling-paling jam sembilan sudah masuk kamar. Cuma, ya di kamar dia suka keasyikan baca buku cerita hingga larut malam.

Kegiatan Lupus setiap pagi selain bangun tidur, biasanya ngulet-ngulet sedikit. Tau ngulet, kan? Itu lho, senam gaya ulet. Ya, habis senamnya kan di tempat tidur. Lupus kadang juga suka lari pagi. Berkeliling-keliling kompleks perumahan sebanyak satu kali. Larinya kadang-kadang pelan, kadang-kadang cepat. Lupus suka lari cepat kalau kebetulan dikejar sama anjing tetangga yang galak. Hihi... setelah lari pagi, biasanya Lupus mandi. Tak lupa sikat gigi, kalau kebetulan ditunggu Ibu. Habis itu handukan. Yah, terpaksa handukan ini diharuskan jadi kebiasaan. Karena Lupus setelah mandi suka lupa handukan. Masih basah kuyup, langsung pakai baju seragam. Kan jadi basah semua, ya, bajunya. Setelah urusan mandi selesai, Lupus sarapan. Untuk sarapan ini tidak biasa makan nasi. Tapi cukup lontong sayur saja. Tapi kadang-kadang, dia juga makan roti.

Sehabis makan roti, biasanya sih masih ada sedikit waktu untuk sekedar mengobrol dengan adiknya Lulu, atau dengan Ibunya yang sedang mengolesi roti buat bapak di meja makan.

“Bu, semalam Lupus mimpi dikejar-kejar raksasa. Uh, tegang deh. Lupus lari sekuat-kuatnya,” celoteh Lupus seru.

Ibunya memandang sebentar. Lalu dengan pelan berujar, “O, pantas kasurmu basah semua. Mungkin itu cucuran keringatmu, ya, Pus,” sindir Ibunya menahan tawa.

Lulu sudah cekikikan saja di ujung meja. Ih, ketahuan. Lupus pasti ngompol. Lupus memang paling bisa berdalih kalau dia ketahuan ngompol.

Tapi Lupus pura-pura tak mendengar sindiran Ibunya. Dia malah mengalihkan pembicaraan. “Eh, tapi kemarin Lupus di sekolah dapt hapusan potlot. Bagus deh, Bu. Bentuknya seperti mobil-mobilan. Wangi lagi....

“Ah, kamu dapat nyuri, ya?” sergah ibunya ketika Lupus menunjukkan penghapus barunya.

“Enggak, Bu.”

“Kamu dapat dari mana?”

“Dapat nemu di tempat pinsilnya Pepno yang sedang terbuka, Bu. Bagus, ya?”

Dan Lupus pun langsung melonpat turun dari kursinya ketika ada suara teman memanggil.

“Lupus berangkat, Bu, Pak. Sampai ketemu nanti siang, ya?”

“Lupuuuuus, penghapus itu..”

Ibunya berusaha menahan, tapi Lupus sudah berlarian menyambut teman-temannya.


***


Si Pepno, teman Lupus yang baru berulang tahun itu, kebetulan juga sekelas dengan Lupus. Tapi herannya, tiap hari Pepno selalu terlambat tiba di sekolah. Sampai guru-guru sudah bosan menghukumnya.

Lupus suka heran. Apa di rumahnya Pepno sulit dibangunkan kalau pagi hari? Kalau memang sulit, Lupus punya cara yang tepat untuk membangunkan anak nakal di pagi hari. Banjur saja dengan seember air dingin. Atau kalau cara itu dirasakan repot, karena akan membuat kasur basah, getok aja kepala si anak itu dengan batu bata. Wah, pasti dia akan lekas bangun.

Ah, tapi mungkin saja maminya Pepno tidak sampai hati melakukan itu. Karena Pepno memang agak disayang. Jadi mana mungkin maminya mau membangunkan dengan cara itu.

Jadi harus dicarikan cara lain. Misalnya dengan memasang jam weker tepat pukul enam pagi.

“Tapi, sebetulnya kenapa sih kamu suka terlambat?” tanya Lupus penasaran.

“Sebetulnya bukan salah saya, Pus,” ujar Pepno. “Yang salah gurunya.”

“Lho, kok gurunya?”

“Abis mereka datang terlalu cepat sih....”

Lupus bengong. Ah, masa iya?

Iya, kata Pepno. Dan Lupus tak percaya. Sama seperti tak percayanya Lupus pada cerita-cerita Pepno yang lainnya. Kalai duduk sebangku di kelas, Pepno memang suka cerita macem-macem. Tentang kucingnya yang katanya bisa menghilang, tentang kelincinya yang bisa berbicara.

Tapi Lupus tak pernah percaya.

Pagi ini pun, nampaknya Pepno mulai mau bercerita lagi.

“Pus, semalam aku ditinggal di rumah sendirian. Habis, Papi sama Mami pergi ke doter mengantar adikku. Aku nggak takut, Pus.”

“Ah, aku tak percaya, Pep,” ujar Lupus seperti biasanya.

Pepno mulai sibuk meyakinkan. “Aku betul-betul sendirian di rumah, Pus. Hanya bibiku saja di dapur, Mang Iip di ruang tamu, Mbok Minang di serambi, dan kakekku di kamar. Aku hanya sendirian nonton tipi, Pus...”

Lupus cekikikan.

Dan di samping Pepno, Lupus juga punya temen yang lucu. Namanya Uwi. Kata Lupus, Uwi ini mukanya kayak belalang. Panjang dan lancip. Tapi Uwi bilang, Lupus kayak marmut. Gemar merengut. Kalau sudah main ledek-ledekan begitu, Lupus dan Uwi cuma ketawa bareng.

Lupus suka Uwi, karena anak perempuan nakal in sebenarnya cerdas. Paling asyik diajak main tebak-tebakan. Waktu ulang tahun Pepno, Uwi ngasih kado pulpen mungil satu biji yang dilapisi berlapis-lapis koran hingga kadonya kelihatan besar. Di dalamnya, ada juga batu keriki, biar agak berat.

Pepno sampai frustasi waktu buka kado Uwi. Dikira dalamnya ada robot-robotan, atau pesawat tempur. Nggak taunya cuma pulpen yang mungil.

Di dalam kadonya, ada sederetan kalimat ucapan ulang tahun buat Pepno, disertai kata-kata mutiara yang lucu. “Jangan memandang keikhlasannya, tapi pandanglah... harganya.”

Lupus sampai terpingkal-pingkal ketika diceritai.

Ketika turun main, Lupus sering asyik belajar bersama Uwi. Biasanya jadi sembarangan, karena kedua anak itu memang ajaib. Biasanya Uwi yang membacakan dari buku, sambil memandangi buku bergambar. Sedang Lupus asyik memasukkan roti bekal Uwi ke dalam mulutnya hingga habis tak bersisa.

“Ikan bernapas dengan apanya, Pus?” ujar Uwi.

Lupus berpikir sejenak. Lalu sambil menguyah roti, dia menjawab,”Dengan insang.”

“Ya, betul. Kalo ular, Pus?”

“Ular? Ng.... dengan kulitnya!”

“Seratus! Kalo gajah bernafas dengan...?”

“Hidungnya!”

“Salah!”

“Kupingnya!”

“Salah!”

Lupus menelan potongan roti yang terakhir. “Jadi dengan apa?” tanyanya sambil memandang ke arah Uwi.

“Gajah bernafas dengan... teman-temannya!” ujar Uwi sambil menyembunyikan mukanya menahan tawa di balik buku bergambar. “Hihihihi.... iya, kan? Mereka selalu bergerombol.”

Lupus keki. Lalu sambil menutup kotak tempat kue Uwi yang sudah kosong, dia berkata, “Kalau kodok bernafas dengan...?”

“Dengan paru-paru!” jawab Uwi.

“Salah, Wi. Kodok bernafas dengan... izin Tuhan. Hihihi.”

Pepno pun datang meramaikan suasanan.

“Bulu apa yang bisa marah?” kata Pepno.

“Bu lurah,” jawab Uwi.

“Bulu apa yang bisa nangkis?”

“Bulu tangkis.”

“Bulu apa yang paling jelek?”

“Buku ketek.”

“Bulu apa yang paling jauh?”

“Bulu roma... ibu kota Itali.”

“Bulu... ng, apa lagi, ya?” Pepno berfikir.

“Ini Pep,” celetuk Lupus,” bulu apa yang mirip kamu, Pep?”

“Apa, ya?”

“Bulukan. Hihihi....”

Bel masuk pun berdentang lantang. Kelontang-kelonteng.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar