Selasa, 06 November 2012

Kue Hari Minggu-Lupus Kecil

-->

3. Kue Hari Minggu

Hari minggu memang hari yang ditunggu-tunggu. Oleh siapa saja. Terutama oleh anak-anak sekolah. Sebab hari minggu merupakan hari libur yang menyenangkan. Hari yang bisa diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Seharian bermain di lapangan bola, atau piknik ke taman hiburan. Bagi anak yang belum sekolah, hari minggu mungkin terasa sama dengan hari-hari lainnya. Sebab mereka tek punya hari libur. Kasihan, ya?

Bagi Lupus, tentu saja hari minggu juga merupakan hari yang istimewa. Selain bisa bermain sepuas-puasnya, di hari minggu Ibu Lupus tak bosan-bosannya praktek bikin kue. Ibu Lupus memang paling suka mencobai resep-resep makanan yang ada di majalah-majalah, koran-koran, atau di buku. Semua resep rasanya pernah dicoba, kecuali resep dari dokter.

Lupus sering juga membantu ibunya membuat kue-kue itu. Tapi Ibu tidak suka dibantu Lupus. Ibu biasanya lebih mengharapkan agar Lupus menunggu saja di dipan daripada ikut-ikutan membantu didapur. Ya, sebab dengan seringnya Lupus membantu, maka sering pula kue hasil praktik Ibu tidak jadi. Adonan yang sudah betul dan siap dimasak, kadang-kadang diaduk kembali oleh Lupus. Tidak dengan sendok atau garpu, tapi dengan tangannya. Ibu terang marah-marah. Resep yang telah dipelajari semalam dirusak oleh tangan mungil si Lupus yang nakal. Atau kue yang berbentuk kupu-kupu, tiba-tiba diterbangkan oleh Lupus. Atau kue yang berbentuk kucing-kucingan yang mungil, oleh Lupus tidak boleh ditaruh di oven. Lupus nggak tega. Kasihan, katanya. Kalo sudah begitu Lupus langsung diusir secara paksa oleh ibunya dari dapur.

Hari minggu inim seperti hari minggu lainnya, sejak pagi Lupussudah tak sabaran menunggu kue hasil eksperimen ibunya itu. Tapi Lupus tak berani lagi ikut-ikutan nimbrung di dapur. Cuma sesekali saja mengintip Ibu dari jendela dapur. Dan kamu semua kan tau, menunggu sesuatu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan. Makanya, daripada duduk dengan gelisah di dipan dekat dapur. Lupus lebih baik jalan-jalan keluar sebentar. Cari kesibukan.

Di depan, tak ada anak-anak yang sedang bermain. Tetangga kanan-kiri rupanya lagi pada asyik berlibur ke luar. Mungkin ke kebun binatang, mungkin ke pantai.

Lupus pun bermain-main sendirian.

Sedang asyik-asyiknya bermain, sebuah becak berani berhenti tepat di dekat Lupus. Penumpangnya turun, seorang laki-laki setengah baya. Dia mengucapkan salam kepada Lupus.

Lupus berdiri.

“Permisi, dik. Numpang tanya. Jalan ke rumah Pak Bambang ke mana, Dik?”

Lupus berpikir sejenak, lalu dengan nada yakin, dia berkata,” Lurus saja, ikuti jalan ini. Kalo ada belokan ke kiri, belok aja, Pak. Dan kalo ada belokan ke kanan, juga belok!”

laki-laki itu mengerutkan dahi. “Lho, yang betul lewat mana?”

“Kan Bapak sudah besar. Sudah tau mana yang betul dan mana yang salah. Masa gitu aja nggak tau....”

Laki-laki itu pun pergi dengan wajah bingung.

Bosan bermain-main di depan. Lupus pun masuk kembali ke dalam rumah. Tapi ternyata ibunya masih belum belum selesai membuat kue. Uh, kok lama sekali, ya? Biasanya nggak gini-gini amat?

Lupus memang tak tau kalo ibunya di dapur tenga dalam kesulitan menerjemahkan resep kue yang berbahasa perancis. Ibu Lupus sedang menduga-duga, apa kalo bikin kue Prancis garamnya harus garam Prancis, bukan garam Inggris?

Yah, sebetulnya Ibu Lupus memang tak pernah mengerti bahasa Perancis. Tapi lantaran seluruh resep yang ada sudah pernah dicoba. Maka Ibu nekat membeli buku resep masakan berbahasa Perancis. Akibatnya, ya itu tadi. Selain kebingungan masalah garam, Ibu juga kurang mengerti takaran tepungnya, takaran mentega, telornya berapa, di goreng atau direbus, hamoir semua nggak ngerti. Cuma tau gambarnya saja.

Ya, Lupus memang tak tau itu.

Dia pun menghampiri adiknya yang sedang asyik bermain boneka barbie. Lucu-lucu deh. Ada rumah-rumahannya, ada tempat tidurnya, ada mobilnya. Semua serba mungil. Tapi ternyata Lulu belum punya jam-jaman barbie, makanya dia memakai jam betulan.

Melihat Lupus datang, Lulu yang sedang mengutak-atik jam dinding, langsung bertanya, “ Kakm kalo jalum pendeknya ke angka cepuluh, dan jalum panjangnya ke angka dua belats, itu apa tuh, Kak?”

“Lagi nggak kompak, 'kali, Hiihihii...”

Lulu tertawa. “Idih, Kakak ngaco...”

“Ibu juga ngaco, Lu. Masa bikin kue dari tadi nggak jadi-jadi, ya?”

Lulu tak menjawab. Kembali asyik mengutak-atik isi kulkas mungilnya. Di dalamnya ada telur, pisang, botol susu, buah-buahan...

“Lu, kali ini pasti Ibu menyajikan kue yang paling enak. Sebab udah siang begini, kuenya belum jadi juga. Mungkin persiapannya lebih matang lagi, ya, Lu?”

Lulu cuma mengangguk.

Lupus pun tiduran di dekat Lulu. Hihihihi...

saking laparnya, perutnya sampai bunyi. Lupus memang sengaja tidak sarapan tadi pagi. Dia memang penasaran dengan kue bikinan ibunya itu. Lupus berniat ingin makan kue sebanyak-banyaknya.

Lagi asyik membayangkan, tiba-tiba tercium bau sesuatu.

“eh, Lu. Apa kamu nggak nyium bau kue itu? Hm... Lezatnya...” Lupus mendengus-denguskan hidungnya.

“Kue yang mana, Kak? Yang barucan itu Lulu abis buang angin, Kak,” jawab Lulu pelan.

Lupus kaget.

Sementara ibunya terus berkutet dengan resep Prancis-nya itu. Aduh, sampai berkeringat. Tapi Ibu pantang putus asa. Mesti dicari jalan keluarnya, pikir ibu Lupus. Kemudian dia masuk ke ruang kerja Bapak. Mengambil kamus perancis. Diartikan kata demi kata. Akhirnya disimpulkan. Bahwa untuk minggu ini, kue terpaksa harus beli dari pasar. Hihihi...

Ya, selanjutnya Ibu Lupus diam-diam lewat pintu belakang menuju pasar. Dia tak mau melukai hati anaknya, yang setia sejak pagi tetap menanti. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada kue perancis, beli di pasar pun jadi!

Sementara itu, di luar ada tamu ingin bertemu dengan ibu Lupus.

“Permisi ya, Nak. Ibu ada?” tanya tamu itu pada Lupus.

“Oh, ada. Tapi beliau tak bisa diganggu gugat. Sebab sedang sibuk. Saya yang anaknya saja tidak boleh bertemu kok. Atau besok saja, ya, Pak?” kata Lupus.

“Ini penting sekali, Nak. Sebentar saja,” ujar tamu itu.

“Bagaimana ya, Pak. Sepertinya sih tak bisa,” jawab Lupus lagi. “Atau jangan-jangan kedatangan bapak ini cuma ingin mencicipi kue bikinan Ibu, ya? Wah, boleh-boleh saja kok. Tapi jangan lebih dari dua potong, ya? Bapak kan sudah besar, jadi tak usah banyak-banyak, ya? Saya yang masih kecil ini yang harus diberi kesempatan makan kue banyak-banyak. Biar cepet besar.

“Eh, tapi kue itu sekarang belum matang, Pak. Bagaimana kalo Bapak pulang saja dulu. Dan bila sudah matang, saya beri kabar. Setuju?”

Tamu itu bengong.

“Oh, Bapak tak mau diberi dua potong, ya? Kalo begitu ditambah deh, Pak. Bagaimana kalo dua seperempat potong? Mau dong, ya?”

Tamu itu tak menjawab. Malah ngeloyor pergi.

“Huh, ditawari kue nggak mau. Payah!” umpat Lupus.

Tak lama kemudian ibu Lupus keluar sambil membawa sepiring kue yang habis dibelinya di pasar. Lupus gembira sekali. Sebelum mengambil kueikue yang terbungkus rapi itu, dia mencium pipi ibunya kanan-kiri. “Lupus salut deh sama Ibu. Kue-kue ini pasti sangat enak. Ibu memang jago kalo bikin kue.”

Lupus langsung mencomot tiga. Satu dimasukkan dimulut, satunya ke kantong dan satunya lagi dipegang di genggamannya. Dalam waktu sekejap, ketiga kue itu sudah ludes masuk ke perutnya.

“Lupus betul-betul nggak nyangka, kue ini begini enak. Bahkan paling enak dibanding kue-kue yang Ibu bikin sebelumnya. Tak seperti minggu lalu. Rasanya enak tapi lengket. Atau minggu sebelumnya, yang keras dan bila digigit harus ditarik pake tali supaya putus.

“kali ini betul-betul luar biasa. Gimana Minggu besok, Ibu bikin kue yang seperti ini lagi, Bu?”

Ibu Lupus cuma mengangguk lemak.

2 komentar:

  1. bhuuuaaaakakakakaakakak.....sing dadi ibuk e mesti batin e sakiiiiitttt.....ngunu...hahahahahaa....

    BalasHapus