Kue Hari Minggu-Lupus Kecil
-->
3. Kue Hari Minggu
Hari minggu memang hari yang
ditunggu-tunggu. Oleh siapa saja. Terutama oleh anak-anak sekolah.
Sebab hari minggu merupakan hari libur yang menyenangkan. Hari yang
bisa diisi dengan hal-hal yang mengasyikkan. Seharian bermain di
lapangan bola, atau piknik ke taman hiburan. Bagi anak yang belum
sekolah, hari minggu mungkin terasa sama dengan hari-hari lainnya.
Sebab mereka tek punya hari libur. Kasihan, ya?
Bagi Lupus, tentu saja hari minggu juga
merupakan hari yang istimewa. Selain bisa bermain sepuas-puasnya, di
hari minggu Ibu Lupus tak bosan-bosannya praktek bikin kue. Ibu Lupus
memang paling suka mencobai resep-resep makanan yang ada di
majalah-majalah, koran-koran, atau di buku. Semua resep rasanya
pernah dicoba, kecuali resep dari dokter.
Lupus sering juga membantu ibunya
membuat kue-kue itu. Tapi Ibu tidak suka dibantu Lupus. Ibu biasanya
lebih mengharapkan agar Lupus menunggu saja di dipan daripada
ikut-ikutan membantu didapur. Ya, sebab dengan seringnya Lupus
membantu, maka sering pula kue hasil praktik Ibu tidak jadi. Adonan
yang sudah betul dan siap dimasak, kadang-kadang diaduk kembali oleh
Lupus. Tidak dengan sendok atau garpu, tapi dengan tangannya. Ibu
terang marah-marah. Resep yang telah dipelajari semalam dirusak oleh
tangan mungil si Lupus yang nakal. Atau kue yang berbentuk kupu-kupu,
tiba-tiba diterbangkan oleh Lupus. Atau kue yang berbentuk
kucing-kucingan yang mungil, oleh Lupus tidak boleh ditaruh di oven.
Lupus nggak tega. Kasihan, katanya. Kalo sudah begitu Lupus langsung
diusir secara paksa oleh ibunya dari dapur.
Hari minggu inim seperti hari minggu
lainnya, sejak pagi Lupussudah tak sabaran menunggu kue hasil
eksperimen ibunya itu. Tapi Lupus tak berani lagi ikut-ikutan
nimbrung di dapur. Cuma sesekali saja mengintip Ibu dari jendela
dapur. Dan kamu semua kan tau, menunggu sesuatu adalah pekerjaan yang
paling menyebalkan. Makanya, daripada duduk dengan gelisah di dipan
dekat dapur. Lupus lebih baik jalan-jalan keluar sebentar. Cari
kesibukan.
Di depan, tak ada anak-anak yang sedang
bermain. Tetangga kanan-kiri rupanya lagi pada asyik berlibur ke
luar. Mungkin ke kebun binatang, mungkin ke pantai.
Lupus pun bermain-main sendirian.
Sedang asyik-asyiknya bermain, sebuah
becak berani berhenti tepat di dekat Lupus. Penumpangnya turun,
seorang laki-laki setengah baya. Dia mengucapkan salam kepada Lupus.
Lupus berdiri.
“Permisi, dik. Numpang tanya. Jalan
ke rumah Pak Bambang ke mana, Dik?”
Lupus berpikir sejenak, lalu dengan
nada yakin, dia berkata,” Lurus saja, ikuti jalan ini. Kalo ada
belokan ke kiri, belok aja, Pak. Dan kalo ada belokan ke kanan, juga
belok!”
laki-laki itu mengerutkan dahi. “Lho,
yang betul lewat mana?”
“Kan Bapak sudah besar. Sudah tau
mana yang betul dan mana yang salah. Masa gitu aja nggak tau....”
Laki-laki itu pun pergi dengan wajah bingung.
Bosan bermain-main di depan. Lupus pun
masuk kembali ke dalam rumah. Tapi ternyata ibunya masih belum belum
selesai membuat kue. Uh, kok lama sekali, ya? Biasanya nggak
gini-gini amat?
Lupus memang tak tau kalo ibunya di
dapur tenga dalam kesulitan menerjemahkan resep kue yang berbahasa
perancis. Ibu Lupus sedang menduga-duga, apa kalo bikin kue Prancis
garamnya harus garam Prancis, bukan garam Inggris?
Yah, sebetulnya Ibu Lupus memang tak
pernah mengerti bahasa Perancis. Tapi lantaran seluruh resep yang ada
sudah pernah dicoba. Maka Ibu nekat membeli buku resep masakan
berbahasa Perancis. Akibatnya, ya itu tadi. Selain kebingungan
masalah garam, Ibu juga kurang mengerti takaran tepungnya, takaran
mentega, telornya berapa, di goreng atau direbus, hamoir semua nggak
ngerti. Cuma tau gambarnya saja.
Ya, Lupus memang tak tau itu.
Dia pun menghampiri adiknya yang sedang
asyik bermain boneka barbie. Lucu-lucu
deh. Ada rumah-rumahannya, ada tempat tidurnya, ada mobilnya. Semua
serba mungil. Tapi ternyata Lulu belum punya jam-jaman barbie,
makanya dia memakai jam betulan.
Melihat Lupus
datang, Lulu yang sedang mengutak-atik jam dinding, langsung
bertanya, “ Kakm kalo jalum pendeknya ke angka cepuluh, dan jalum
panjangnya ke angka dua belats, itu apa tuh, Kak?”
“Lagi nggak
kompak, 'kali, Hiihihii...”
Lulu tertawa.
“Idih, Kakak ngaco...”
“Ibu juga ngaco,
Lu. Masa bikin kue dari tadi nggak jadi-jadi, ya?”
Lulu tak menjawab.
Kembali asyik mengutak-atik isi kulkas mungilnya. Di dalamnya ada
telur, pisang, botol susu, buah-buahan...
“Lu, kali ini
pasti Ibu menyajikan kue yang paling enak. Sebab udah siang begini,
kuenya belum jadi juga. Mungkin persiapannya lebih matang lagi, ya,
Lu?”
Lulu cuma
mengangguk.
Lupus pun tiduran
di dekat Lulu. Hihihihi...
saking laparnya,
perutnya sampai bunyi. Lupus memang sengaja tidak sarapan tadi pagi.
Dia memang penasaran dengan kue bikinan ibunya itu. Lupus berniat
ingin makan kue sebanyak-banyaknya.
Lagi asyik
membayangkan, tiba-tiba tercium bau sesuatu.
“eh, Lu. Apa kamu
nggak nyium bau kue itu? Hm... Lezatnya...” Lupus
mendengus-denguskan hidungnya.
“Kue yang mana,
Kak? Yang barucan itu Lulu abis buang angin, Kak,” jawab Lulu
pelan.
Lupus kaget.
Sementara ibunya
terus berkutet dengan resep Prancis-nya itu. Aduh, sampai
berkeringat. Tapi Ibu pantang putus asa. Mesti dicari jalan
keluarnya, pikir ibu Lupus. Kemudian dia masuk ke ruang kerja Bapak.
Mengambil kamus perancis. Diartikan kata demi kata. Akhirnya
disimpulkan. Bahwa untuk minggu ini, kue terpaksa harus beli dari
pasar. Hihihi...
Ya, selanjutnya Ibu
Lupus diam-diam lewat pintu belakang menuju pasar. Dia tak mau
melukai hati anaknya, yang setia sejak pagi tetap menanti. Tak ada
rotan, akar pun jadi. Tak ada kue perancis, beli di pasar pun jadi!
Sementara itu, di
luar ada tamu ingin bertemu dengan ibu Lupus.
“Permisi ya, Nak.
Ibu ada?” tanya tamu itu pada Lupus.
“Oh, ada. Tapi
beliau tak bisa diganggu gugat. Sebab sedang sibuk. Saya yang anaknya
saja tidak boleh bertemu kok. Atau besok saja, ya, Pak?” kata
Lupus.
“Ini penting
sekali, Nak. Sebentar saja,” ujar tamu itu.
“Bagaimana ya,
Pak. Sepertinya sih tak bisa,” jawab Lupus lagi. “Atau
jangan-jangan kedatangan bapak ini cuma ingin mencicipi kue bikinan
Ibu, ya? Wah, boleh-boleh saja kok. Tapi jangan lebih dari dua
potong, ya? Bapak kan sudah besar, jadi tak usah banyak-banyak, ya?
Saya yang masih kecil ini yang harus diberi kesempatan makan kue
banyak-banyak. Biar cepet besar.
“Eh, tapi kue itu
sekarang belum matang, Pak. Bagaimana kalo Bapak pulang saja dulu.
Dan bila sudah matang, saya beri kabar. Setuju?”
Tamu itu bengong.
“Oh, Bapak tak
mau diberi dua potong, ya? Kalo begitu ditambah deh, Pak. Bagaimana
kalo dua seperempat potong? Mau dong, ya?”
Tamu itu tak
menjawab. Malah ngeloyor pergi.
“Huh, ditawari
kue nggak mau. Payah!” umpat Lupus.
Tak lama kemudian
ibu Lupus keluar sambil membawa sepiring kue yang habis dibelinya di
pasar. Lupus gembira sekali. Sebelum mengambil kueikue yang
terbungkus rapi itu, dia mencium pipi ibunya kanan-kiri. “Lupus
salut deh sama Ibu. Kue-kue ini pasti sangat enak. Ibu memang jago
kalo bikin kue.”
Lupus langsung
mencomot tiga. Satu dimasukkan dimulut, satunya ke kantong dan
satunya lagi dipegang di genggamannya. Dalam waktu sekejap, ketiga
kue itu sudah ludes masuk ke perutnya.
“Lupus
betul-betul nggak nyangka, kue ini begini enak. Bahkan paling enak
dibanding kue-kue yang Ibu bikin sebelumnya. Tak seperti minggu lalu.
Rasanya enak tapi lengket. Atau minggu sebelumnya, yang keras dan
bila digigit harus ditarik pake tali supaya putus.
“kali ini
betul-betul luar biasa. Gimana Minggu besok, Ibu bikin kue yang
seperti ini lagi, Bu?”
Ibu Lupus cuma
mengangguk lemak.
bhuuuaaaakakakakaakakak.....sing dadi ibuk e mesti batin e sakiiiiitttt.....ngunu...hahahahahaa....
BalasHapuskoyo cilikanmu pun, bwahahahhaha
Hapus